Tampilkan postingan dengan label Words of Thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Words of Thought. Tampilkan semua postingan

19 Juli 2014

Ponder

The euphoria of SBMPTN announcement were somewhat give me melancholy feeling. I'm perfectly happy to hear it, it just made me think about everything that I've been through this year. Like am I happy with my choice? with my major? With my current friends after one year struggling together in BME UA?


29 Juni 2014

Marhaban ya Ramadhan

I never expected that Ramdhan came like when I’m falling asleep. Slowly and then in total unconsciousness this holy month came to us.
This fist the first time I experience fasting without any assistance. In my home, my mother is the one who prepare for break and sahur. However, in my current state I should do everything by my own. Maybe this is what we called a process to be an adult. Considering I’m 20 now, I feel shocked nonetheless.
Yet this Ramadhan I feel like something missing. I can’t put my finger on it. I just feel it. Maybe the different ‘s atmosphere or maybe because of something else, like my lack of companies and friends in this new dormitory. Experiencing fasting not at hometown is drive me sad.
As you know I should endure this uneasiness because of I have my final exam ahead. Starting tomorrow I’ll have my final exam. After 12 days max I think I’ll go heading to home. I can not wait to be home and pursue pleasant activities like sleeping all the time and playing violin.

How I wish my final exam bring the best result so it will not disturb my holiday.

12 Juni 2014

10 June; My 20th Birthday

Jujur, meski aku sudah berumur 20 tahun. Aku merasa tidak layak mendapat umur 20 tahun. Aku seharusnya masih stay di umur 18 tahun. Karena secara emosional aku masih merasa bahwa aku masih remaja, bukan dewasa muda.
Menjadi dewasa adalah hal yang sulit. Umur 20 tahun berarti aku sudah diperhitungkan dewasa. Semua apa yang aku lakukan akan menjadi tanggung jawabku sendiri. Jika aku melakukan tindakan kriminal, maka aku sendiri yang akan dihukum. Bukan orang tuaku lagi. Begitupun dengan keputusan hidup. Aku sudah bebas memilih, karena secara hukum aku juga sudah dewasa. Kalau aku memili menjadi seoarng peminum alkohol, itu juga sudah diperbolehkan (meskipun aku tidak akan meminumnya).
Menjadi dewasa itu berat, dan aku tidak ingin menjadi dewasa sebenernya. Namun dewasa adalah suatu proses harus dilalui setiap orang. Jadi ya aku harus menjalaninya kan?

20 Februari 2014

Enlightment

enlightenment /ɪnˈlaɪ.t ə n.mənt/ /-t ̬ ə n-/ noun [ U ]
1. the state of understanding something
Can you give me any enlightenment on what happened? 

So, this evening i just realize that i never know where i am heading. I know what's my goal and so on. But, is this a true way to reach those goals?
I don't know if any students in freshmen year think about this. I guest my friends will think the same since we have same education and probably same values in reaching dreams and sort of that things.
I didn't know whati'm thinking actually when I choose Biomedical engineering. Ok, when i as a child i dreamed about being aa doctor. Butthen i dreamed about being a tecaher in my elementary school, then in junior high i did not know my dreams. In high school, i just didiot know what's my dream, but I know what i wantt o do with my life.
I love science. Really love it. 
Actually i want tio have a degree in something that goes to ways. Something that combined natural science and social science. Then I want to choose bioengineering because i like biotechnology. The thing is, i don't know if now i'm majoring in Biomedical engineeringan d still, i don't know where i am heading with this major.
Should i change major? In indonesia it's not easy. We should begin again.
The poin is, i love science and i love biology. I will stay with BME then with time passing by, I think I will now my dreams about my major.


17 Januari 2014

Flower Men


Ternyata, sekarang ini banyak laki-laki yang mulai peduli dengan penampilan. Penampilan rapi, bagus, charming, tidak didominasi oleh cewek saja, tetapi cowok pun sudah mulai sadar akan pentingnya penampilan.
Dulu, cowok “berdandan”, memakai pembersih wajah, toner, pelembab, handbody lotion, sunblock, dsb pasti dianggap kemayu. Sehingga tak heran kalau tahun 2005 kebawah, beautifying products for men itu sangat jarang. Malah seingatku gak ada (Maklum, itu dulu kayaknya saya masih SD).
Sekarang ini, coba lihat sekitar anda. Buka mata dan telinga lebar-lebar. Cari di internet kalau perlu. Akan kamu temuin banyak banget produk untuk laki-laki. Perawatan untuk semua bagian tubuh ada. Untuk bercukur, ada. Untuk perawatan malam hari, ada. Untuk perawatan siang hari, tambah makin banyak. Sehingga tak heran kalau perusahaan yang dulunya terkenal dengan produk kecantikan untuk cewek sekarang ini juga mulai melirik cowok sebagai pasar mereka.
Adanya permintaan dan penawaran ini membuat para cowok juga doyan belanja produk kecantikan. Menurut lembaga survey Nilesen mencatatt, pada tahun 2010 cowok berlangganan produk perawatan kulit itu sekitar Rp 11,89 triliun. Naik 13,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Lumayan ya, ternyata duit yang dihabiskan buat ngerawat diri.
Stigma buruk terhadap cowok yang merawat diri juga mulai berubah. Kalau dulu pasti ada pandangan sinis terhadap orang yang merawat tubuh, sekarang tidak sebanyak dulu. Mungkin orang lain mulai sadar kali, kalau penampilan oke itu juga perlu.
Kalau pendapat aku, itu masih wajar lah, semua orang pasti ingin terlihat perfect dimata orang lain, apalagi kalau udah ada yang punya. Pasti nyadar kan, ketika ada temen kamu yang dulu biasa-biasa aja kagak merhatiin penampilan banget tapi ketika udah punya pacar tiba-tiba ribet kalau ada jerawat yang nongol. Yah, begitulah.
Sedikit bocoran nih, selama tiga tahun lebih hidup di asrama cowok, ternyata banyak juga anak cowok yang merawat diri. Kebanyakan pasti punya pembersih wajah. Muai dari biore men, Vaseline men, nivea for men, sampai produk untuk cewek seperti ponds. Belum lagi, banyak juga yang make handbody lotion. Hal itu selalu bisa aku jumpai ketika berkunjung ke kamar temen-temen.
Menurut aku, boleh aja cowok itu merawat diri. Asalkan gak berlebihan ingin tampil sempurna sampai melakukan hal-hal diluar kewajaran seperti operasi plastik, suntik botox, dsb. Kalau Cuma membersihkan wajah, merawat tubuh, facial ke salon, dan sebagainya itu masih normal ketika dilakukan sesuai dengan petunjuk dokter.

PS: Although I use some beautifying products (because I have acnes on my face), I’ve never been to salon to do facial or something related to beautifying myself.

19 Oktober 2013

Pergi ke Ampel

Kios-kios yang ada di Ampel. Ramai jika siang hari, (untung waktu kunjung saya malam, sehingga tidak seramai ini)
gambar diambil dari demotix.com

Setelah memikir-mikir, akhirnya pada hari Jumat sore, tgl 18 Oktober saya mau menerima ajakan Syafiq, untuk berkunjung ke Ampel, menginap di rumahnya sekaligus pergi jalan-jalan berwisata religi ke situs Sunan Ampel.
Dengan naik motor, saya dan Syafiq berangkat ke sana. Sebelum itu kami mampir dulu ke optik langganan keluarga Syafiq untuk mengambil kacamata pesanan dia, karena kacamata yang dia pakai sebelumnya keinjak dan pecah. Saat itu sudah waktu sholat maghrib. Jadi kami sholat dulu di mushola samping optik itu kemudian kami meneruskan perjalanan ke Ampel.
Di wilayah Ampel, kami disambut dengan gapura selamat datang di wisata religi Sunan Ampel. Setelah berkendara sebentar, kami belok kiri memasuki gang. Sampailah kami di rumah nenek Syafiq. Rumah tersebut seperti rumah di daerah itu, merupakan rumah kuno dan besar. Ternyata dihuni oleh keluarga besar dia. Saya tidak sempat bertemu dengan keluarga dia karena kami langsung lewat samping untuk langusng menuju kamar Syafiq yang terletak dilantai atas.
Saya tak menyangka kalau Syafiq membelikan tahu tek. Saya baru tahu kalau makanan ini , tahu dicampur telor dengan bumbu kacang dinamakan tahu tek. Di asrama dulu cukup sering saya merasakan makanan ini namun tidak tahu namanya.
Setelah makan, kami berjalan menuju situs Sunan Ampel. Sebenarnya tujuan saya ke Ampel adalah untuk membeli Al-Quran, karena AL-Quran yang ada di saya tulisannya terlalu kecil. Maka kami berjalan-jalan di sepanjang kios-kios penjual yang menjajakan aneka baju muslim, kopyah, akseosirs muslim, mukena, parfum, kurma, dan banyak yang lainnya. Mata saya tak henti hentinya melihat aneka motif baju koko yang bagus-bagus disini. Sungguh keren seklai motifnya. Kalau baju seperti ini ada di Matahari, harganya pasti 120 rb lebih. Disini harganya seperinya berkisar 100 rb, namun masih bisa ditawar lagi.
Sebenarnya sudah ada Al-Quran yang cocok, namun saya teruskan saja perjalanan sambil melihat-lihat wilayah Masjid Ampel yang besar sekali. Selain itu saya juga mencari harga A-Quran yang mungkin ada yang lebih murah. Syafiq juga membeli kitab Fathul Qorib, kitab mengenai Fiqh disana. Setelah dia membei kitab barulah kami kembali ke tempat dimana saya menemukan Al-Quran yang menyita penglihatan saya. Meskipun harganya 90 rb, sepertinya cocok dengan kualitasnya yang keren (sepertinya saya pernah melihat Al-Quran serupa dengan harga 100 rb lebih di Gramed).
Tidur di rumah Syafiq membuat saya melihat teman saya ini dengan perspektif yang berbeda. Ternyata dia adalah anak yang religius, lulusan pondok juga. Jauh sekali dengan saya yang egaliter dan agamanya belum kuat ini. Saya jadi malu, mengingat ayah saya sebenarnya adalah pemuka agama di kampung saya.
Semoga dengan adanya Al-Quran baru, saya bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

15 Oktober 2013

Hari Raya Kesepian

Hari raya Idul Afha ini terasa berbeda bagi saya. Saya tidak lagi merayakannya di asrama seperti masa-masa SMA dulu. Namun saya mulai merayakannya di kampung halaman sendiri. Entah kenapa suasana yang terjadi berbeda sekali. Hari raya Idul Adha seperti hari-hari biasa. Takbir pun dikumandangkan sekenanya. Saya merasa seperti kuranga da semangat di dalam hari besar umat muslim ini. Mungkin ini hanya perasaan saya sendiri atau memang karena zaman berubah, kerja dan cari uang lebih penting. Tahun baru masehi lebih ditunggu dibandingkan dengan tahun baru Islam. Hari raya jadi terlihat biasa, malah para pebisnis yang giat sekali kalau ada hari besar seperti ini, karena dengan adanya perayaan berarti alamat jualannya bertambah. Saya tidak tahu, karena saya hanya merasa.

30 Agustus 2013

Menjadi Mahasiswa!

Akirnya bisa posting

Selama ini saya absen dari blog disebabkan kesibukan baru yang tak bisa ditunda dan menyita waktu saya dari pagi hingga sore. Malemnya sudah lelah sehingga tak bisa memutuskan mau gimana, jadinya tidur saja.
Ya, sekarang saya menjadi seorang mahasiswa. Kata kakak-kakak senior menjadi mahasiswa itu adalah sebuah kehormatan yang harus dipertanggung jawabkan. Karena ternyata dari sekian juta remaja di Inonesia, hanya sejumlah kecil yang menjadi mahasiswa, dan itu nggak ada 5% dari total remaja.
Selain itu, menjadi mahasiswa berarti harus siap masuk garda depan karena kita-kita ini yang akan dijadikan rakyat sebagai tumpuan untuk mengadu. Yah, pokoknya jadi mahasiswa gampang-gampang susah lah.
Susahnya ya paling-paling mengenai tanggung jawab yang lebih berat, karena kita sudah di perhitungkan sebagai orang dewasa dan kita yang akan take full of our responsibility kita. Ospek juga susah, karena dibentak-bentak oleh senior, tugas seabreg, dan juga masih banyak lagi. Namun senengnya atau kemudahan nya juga banyak. Ketemu teman baru yang asyik-asyik dan seru, dan kebebasan yang diberikan itu lho, I love it.

Pokoknya menjadi mahasiswa seru lah, terutama di permulaan ini. Namun yang pati tidak boleh terlena. Teman-teman saya yang di luar negeri semuanya berprestasi, mari buktikan bahwa yang di dalam negeri ini pun juga sanggup berprestasi.

13 Agustus 2013

Creased Brow




Memikirkan masalah kuliah benar-benar membuat kita lebih tua dengan cepat. Bagaimana tidak, selama kita belum mendapatkan kuliah, muka kita didominasi oleh ekspresi sedih dan bingung. Senyum kita turun, ada lipatan di dahi kita yang sulit menghilang, mata terlihat berair seperti meratapi sesuatu. Well, ini tidak terjadi disetiap orang. Namun setidaknya ini adalah gambaran yang tepat terhadap apa yang terjadi pada saya.
Saya tidak menyangka mencari kuliah akan sesulit ini dan quite depressing, sesuatu yang kurang saya antisipasi. Bukan bermaksud sombong atau bagaimana, namun saya menilai diri saya sebagai siswa yang bisa mendapat tempat di universitas dengan tidak terlalu sulit. Namun kenyataan tidak sejalan dengan hipotesa. Setidaknya alasannya cukup jelas.
Saya menilai diri saya sebagai siswa yang biasa-biasa saja. Secara akademis dan non akademis tidak ada sesuatu yang menonojol, setidaknya dibandingkan dengan teman-teman SMA saya yang kebanyakan A straight students dan merupakan orang-orang pekerja keras. Namun malah orang-orang biasa lah yang sering kesulitas mendapat universitas. Karena mungkin mereka terlalu datar. Kurang ada yang menonjol yang bisa membuat orang mengalihkan pandangan hanya untuk melihat seperti apa orang itu (setidaknya kalau ini terjadi di dapur admission office mereka akan tergoda untuk melihat aplikasinya). Nah, karena saya biasa saja makanya sulit mencari.
Selain itu, mungkin karena jurusan yang saya ambil termasuk favorit se-Nasional dan juga termasuk membutuhkan nilai tinggi. yakni SITH-Rekayasa ITB, Teknik Pertanian UGM, dan Teknik LIngkungan ITS. Jurusan-jurusan tersebut pastinya direbutkan oleh banyak siswa sehingga kesempatan yang saya dapat sedikit, terutama jika melawan orang-orang yang beruntung. Saya jelas kalah.
Saya bersyukur sekali bahwa UNAIR membuka pendaftaran Mandiri gel. 2 yang semoga saja bisa menjadi jalan untuk saya bisa diterima. Saya pikir saya bodoh sekali kok bisa-bisanya tidak melirik UNAIR waktu SBMPTN kemarin. Padahal UNAIR menawarkan program Tekno Biomedik yang merupakan jurusan favorit waktu kelas 2 SMA dulu. Saya mungkin terlalu dibutakan dengan ambisi sekolah di ivy league Indonesia, yakni UI, ITB, dan UGM.
Semoga saja pilihan saya di UNAIR ini diridhoi oleh Allah dan saya bsa diterima. Akhirnya, dan senyum saya yang turun nanti akhirnya bisa keatas, tersenyum bahagia karena pada akhirnya I belong to something (I hope UNAIR will claimed me).

25 Juli 2013

Orang Desa dan Pendidikan




Kemarin waktu kumpul-kumpul dengan  teman-teman 9-A kami  sepintas membahas bagaimana kmeiskinan di Indonesia itu kok selalu turun temurun, terutama di desa-desa. Jika orang tua miskin, anaknya bisa dipastikan miskin, atau lebih baik sedikit, atau malah lebih buruk. Jarang sekali ada cerita di desa-desa itu kalau orang tua miskin kemudian anak nya nanti bisa kaya. Satu-satunya cara yang biasa digunakan untuk menaikkan taraf hidup adalah dengan menikah dengan orang yang lebih kaya.
Nah, saya sempat memikirkan apa penyebab rantai kemiskinan itu terjadi. Setelah saya pikir-pikir, dan melihat fakta-fakta yang terjadi di sekeliling saya, saya melihat bahwa kunci untuk membebaskan diri dari rantai kemiskinan adalah dengan pendidikan. Entah pendidikan formal ataupun informal.
Di desa saya ada seorang bidan. Dulunya dia masih hidup dengan biasa saja. Rumahnya kecil. Namun sekarang, rumahnya adalah rumah terbesar di desa saya. Kenapa bidan itu bisa kaya? Karena dengan ilmu kedokteran yang dimilkinya. Selain itu juga mungkin suaminya polisi.
Ada juga guru. guru setidaknya hidupnya lebih baik di desa saya. Termasuk kaya lah, meskipun kekayaannya biasa-biasa saja. Namun setidakya bisa membiayai kuliah anak-anaknya, sehingga anak-anaknya bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik.
Selain bidan dan guru, ada juga DPR. Banyak yang bilang dulu DPR itu miskin. Yah, aku ingat, dulu rumahnya kecil dan memiliki toko. Dulu saya sering bermain dengan anak-anaknya.  Sekarang rumahnya termasuk slaah satu terbesar di desa saya. Perlu dicatat juga akalu orangtuanya juga hdupnya sederhana.
Yang paling miskin di daerah saya itu adalah petani dan pedagang. Hidup mereka itu ada di range miskin dan berkecukupan, yang artinya tidak ada uang yang tersisa untuk kuliah, untuk pendiidkan yang laun yang bisa diinvestasikan untuk anak-anak mereka. Namun, pengecualian bisa terjadi di sini jika orang tuanya sadar akan pendidikan, maka biasanya orang tuanya memiliki tabungan pendidikan untuk si anak.
Sayangnya, banyak orang di desa yang belum terlalu sadar akan pentingnya pendidikan tinggi. orang desa itu sudah merasa cukup dengan pendidikan SMP. Alhamdulillah kalau bisa SMA. Jarang sekali ada yang berpikir untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi atau kuliah. Selain tidak ada biaya, biasanya orang tua akan berkata, “nyapo kuliah, ngewangi wong tuwo wae” (kenapa harus kuliah, bantu orang tua saja!). ada juga yang orang tua dan anak sama-sama memiliki pandangan yang sama akan pentingya pendidikan tinggi, namun ternyata tidak ada biaya.
Sungguh menyedihkan memikirkan kenyataan ini. Padahal pendidikan adalah kunci yang ampuh untuk memutus rantai kemiskinan. Namun entah kenapa pemerintah sepertinya kurang memperhatikan pendidikan untuk orang-orang desa. 12 tahun pendidikan cukup. Meskipun ada bidik misi, namun orang desa sudah ciut nyalinya dengan biaya kuliah yang tinggi itu, sehingga menyurutkan semnagat mereka untuk belajar di perguruan tinggi.
Orang-orang desa itu butuh contoh dan penegasan, bahwa kalau ada kemauan , pasti ada jalan. Kalau anak ingin kuliah, orang tua seharusnya mendukung, kalau tidak dengan financial ya setidaknya ikut mendoakan si anak agar bisa mendpaat beasiswa dan diterima di universitas yang diidamkan. Dengan sadarnya orang desa akan pentingnya pendidikan tinggi, maka diharapkan kekayaan itu akan merata dan orang-orang kecil itu bisa merasakan nikmatnya apa yang sudah diusahakannya.

gambar diambil dari http://aurellyreresaputra.blogspot.com/2013/05/problematika-pendidikan-bangsa-indonesia.html

22 Juli 2013

Kerja keras dalam menuntut ilmu


Kemarin guru saya menekankan pentingnya bekerja keras dalam mencari ilmu. Bahwa apa yang kita dapatkan itu sebanding dengan usaha kita. Ketika mendengar ini, pikiran saya kembali ke masa SMA yang baru saja saya tinggalkan hampir satu bulan lalu.
Di SMA dulu, saya pikir saya belum bekerja keras untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Sungguh benar sekali. Saya jadi malu dan menyesal mengingatnya. Saya ingin bisa british accent, namun saya kurang bekerja keras memraktikan speaking dengan gaya itu. Saya ingin bisa bagus bahasa inggris, namun saya kurang bekerja keras untuk beljaar grammatical nya dengan keras. Saya ingin mendapat nilai SAT bagus, namun sepertinya usaha saya dibanding dengan teman-teman saya yang rela tidak tidur sampai larut malam terlalu ringan. Saya ingin nilai UNAS bagus namun saya tidak mau bersungguh sungguh untuk belajar dengan keras. Saya baru menyadari betapa saya terlalu santai dalam meraih impian saya.
Saya ingat teman syaa yang bernama Jaya. Dia adalah contoh dari kebalikan sifat saya dalam belajar. Ketika dia menginginkan ssuatu, dia benar-benar bekerja untuk itu. Tidak heran, dia sebentar lagi berangkat ke US untuk kuliah. Sedangkan saya, impian di ITB pun kandas karena ternyata usaha saya masih kurang dibandingkan dengan pesaing-pesaing di SITH Rekayasa ITB.
Saya menyadari diri saya seperti itu dan saya bersyukur saya bisa merefleksikan diri saya sebelum kuliah ini. Saya meski malu mengatakannya sebenarnya pemalas, namun saya ingin berubah. Saya ingin bisa melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras, terutama dalam menuntut ilmu. Karena ilmu itu kedudukannya sangat penting dalam agama saya, Islam.
Mungkin banyak yang berpikir, bukannya Islam identik dengan ibadahnya yang tak tanggung-tanggung? Puasa sebulan penuh. Sholat 5 kali sehari. Zakat, tak boleh init tak boleh itu. Memang benar, Islam menekankan ibadah karena memang itulah tujuan manusia seperti kita diciptakan. Namun ternyata kedudukan ilmu lebih tinggi lho dibandingkan dengan ibadah. Ilmu itu bagai pohon, sedangkan ibadah itu buah, yang menjadikan pohon itu lebih berharga lagi.
Balik lagi ke bekerja keras, saya berharap nanti disaat kuliah, saya bisa meniru semnagat kerja keras teman-teman saya, seperti Jaya, Nain, Bimly, dan masih banyak anak di SMA lain yang hebat-hebat. Bukan hanya karena otaknya yang cemerlang, namun mereka mampu membawa diri mereka untuk mengambil kerja keras demi memperoleh ilmu. Sungguh salut saya ini dan malu pada teman-teman saya. Semoga Allah memberikan saya kesempatan untuk menunjukkan perubahan yang positif waktu kuliah nanti.


19 Juli 2013

Tawadhu’ pada Ilmu


Kunci dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat adalah tawadhu’ kepada orang yang ahli ilmu. Setidaknya itu adalah hal yang aku dapat dari belajar kitab ta’lim al muta’alim. Kitab yang menerangkan banyak hal mengenai adab mencari ilmu. Kitab ini sangat menarik dan bermanfaat, sayangnya kitab ini hanya diajarkan di pondok pesantren, sehingga pelajar yang tidak pernah belajar kitab ini tidak akan tahu hal apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mencari ilmu.
Ketika belajar kitab ini, pikiran saya kembali ke masa masa MTs  dan MI saya, dimana adab untuk mencari ilmu sangat diperhatikan. Hal itu begitu berbeda ketika saya di SMA. Rasanya ada hal yang berbeda bagaimana teman-teman saya memperlakukan ilmu dan lain sebagianya. Mungkin ini juga da kaitannya dengan kemunduran prestasi saya dalam hal ilmu.
Waktu di MI dan MTs, entah kenapa rasanya saya itu cukup bisa dan mampu menghadapi soal-soal, ujian, dan berbagai macam tes. Setidaknya nilai saya itu masih bagus. Namun ketika di SMA, rasanya kalau nggak belajar itu kok susah. Bahkan ketika sudah belajar masih saja mendpata nilai 6. Memalukan memang, tapi dari situlah saya belajar, ada apa dengan diri saya.
Saya pikir mungkin saya dulu kurang belajar. Maka saya belajar, meski jika dibandingkan teman saya belajar saya sedang-sedang saja. Namun nilai saya tetap biasa saja. Average, nothing special. Jika barang itu kualitas saya tengah-tengah. Rasanya susah sekali mendapatkan nilai 90 keatas. Apalagi nilai perfect. Namun ketika saya pikir-pikir lagi bukan hanya itu masalahnya. Masalah yang paling pokok yang saya kurangnya tawadhu’ dalam menuntut ilmu.
Tawadhu’ itu maksudnya menghormati memulyakan ilmu. Dalam poin ini, rasanya saya kurang sekali. Dulu waktu MI membawa buku itu harus diatas pusar, tidak ditaruh dibawah. Tidak menduduki meja, tidak duduk di meja guru. namun ketika SMA, saya biasa melakukan hal-hal yang dulu tidak biasa saya lakukan. Nah, di SMA ini lah menurut saya moral saya dalam keilmuwan menurun.
Hal itu berakibat pada banyak hal. Mungkin usaha saya yang tidak berhasil itu gara-gara saya kurang memulyakan ilmu. Ujian SAT saya gagal memenuhi target, skor TOEFL saya juga urang dari target, ujian nasional saya juga gagal memenuhi target, ujian SBMPTN juga gagal. Kadang-kadang hal itu memnacing frustasi, tetapi ketika dipikir lagi, ternyata ini memang kesalahan saya. Padahal saya sudah bekerja dengan keras, semampun saya, namun ternyata tidak berhasil.
Bagi orang-orang yang berotak biasa seperti saya, tawadhu’ itu memegang pernanan kunci dalam menuntut ilmu. Istilahnya ini adalah good luck charm atau felis felicis kalau di Harry Potter, serial favorit saya. Karena, tanpa memulyakan ilmu, ilmu yang kita pelajari itu mudah terbang menghilang. Kita mudah lupa, dan tentunya ilmunya jadi tidak bermanfaat.
Di SMA saya fenomena ini bisa ditemui dengan mudah jika kita mau membuka mata dan telinga kita. Ada anak yang biasa saja, tetapi dia sopan kepada guru, tidak neko-neko, menghormati dan memuliaakan ilmu, dan dia sukses. Sedangkan ada juga yang pintar, tapi dia kurang memuliakan ilmu dan sekarang dia bingung mencari kuliah.
Saya berharap, ketika saya kuliah nanti, saya bisa lebih tawadhu’ dengan ilmu. Saya kembali ke jalan biasa saya dibesarkan oleh orang tua saya yakni cinta dan memuliakan ilmu. Semoga saya bisa menjalaninya, agar ilmu yang saya peroleh bisa bermnafaat baik di dunia maupun di akhirat, agar nama saya yang diambil dari kata Manaafi’u yang artinya manfaat bisa benar-benar terwujud.

16 Juli 2013

Wondering


Here I come again, talking about university enrollment and how hard it is to get cheap but high quality education in Indonesia. If you were student like me, I think you can imagine my miserable life in this case.
I was born in farmer family, and for 14 years I always happy. Because, whatever season, I can easily eat. I don’t think about fashion, higher education, and anything related about the future. Simply, I enjoy my life at that time.
When I grown up, I start to feel worry about my look. Why there is acnes in my face? Why I am like this, why I can be like that? You know how it goes, I start to seek who really I am. What was my thing and what was not. Another anxious looks added to my face and became burdened in my thought, higher education.
At first, getting quality education is easy. Just get yourself in to favorite school, and you have granted that you will get the favorite university and plus scholarship. But I was wrong all a long (or it is about the wrong system rooted in Indonesian education, I don’t know). Although I was accepted in the best senior high school, it didn’t grant me the favorite university at my hand. In fact, I failed and now I wonder where I should go when the admission fee haunted me.
I never think that my family is poor. However, after I graduated high school and have difficulties in paying the high admission fee set up by the university make me realize that my plan to get higher education threatened.  This is only the admission fee, how about the tuition fee, living cost, and additional cost for something? Do I have money to pay it? The answer is NO, I don’t.
Actually when I took my university test last month, I believe that I can get Bidik Misi Scholarship, therefore I can get free tuition fee and living cost. That only chance is failed and now I am confused where to go and what should I do to overcome this situation. I am anxious all the time.
The positive thing is, I still have a chance left to get high education in UGM, since I sign up for PBUTM program, sort of program that give free tuition fee for student from middle and lower income family. I wish I could get this scholarship. If not, I don’t know what to do and where to go.
So please, God Almighty, let me accepted in UGM through this PBUTM way. I need it. Really need this scholarship to save my future so I can help others to believe in Your power.

12 Juli 2013

Learn to Fly; A short story


Learn to Fly
by M A Manaf

Raffi menatap datar layar komputer yang ada di depannya. Dadanya dag dig dug. Bahkan sejak tadi pagi ketika temannya mengatakan bahwa sore kemarin pengumuman SBMPTN usdah ada. Sekarang dia ada di warnet favoritnya mengecek nasibnya lewat jaringan computer. Tangannya yang dari tadi gemetaran memegang mouse langsung berhenti lemas melihat tulisan yang tertera di layar komputer itu. Tulisannya simple, tidak aneh-aneh. Hitam bold yang tertulis secara kapital dengan background warna putih. Seakan mengatakan kalau pernyataan ini absolut, dan ketika dia benar-benar menelan kata-kata itu, hampa tak berasa, dia bisa mendengar jantungnya berdegup tak karuan, dadanya panas dan kemudian boom! Hampa. Tak berasa apa-apa.
ANDA TIDAK LOLOS SBMPTN
Sembari membaca tulisan itu berkali-kali dengan rasa tak percaya, hatinya panas, terasa aneh, seperti ada yang memeras dan memanaskannya sekaligus. Itu hanyalah adrenalin, pikirnya. Namun dia tahu jauh di dalam hati kecilnya dia tahu, itu adalah rasa ketika impiannya pecah berkeping-keping seperti kaca yang hancur.
“Tak mungkin”, bisiknya tak percaya.
Dia menarik nafas dengan pelan, ayo tenangkan diri, atur nafas, ini pasti ada kesalahan, aku pasti lolos kok, ini pasti error. “UUhhh…huuuuhhh”, dia hanya mendengar suara nafasnya di telinganya, meski kenyataannya penghuni warnet disekelilingnya ramai berbincang dan bermain game.
Dia memutuskan untuk membuka facebook dan e-mail untuk mencari hiburan. Ayolah, kalau error pasti beberapa menit lagi akan ada perbaikan. Di facebook dia melihat status teman-temannya yang diterima di universitas pilihan mereka. Ada mengucap Alhamdulillah, ada yang berucap Puji Tuhan, Thank God, berbagai macam bentuk syukur yang ditujukan pada yang Maha Kuasa. Tapi aku sedang tidak bersyukur. Raffi melihat-lihat grup sekolahnya, mencari-cari teman-teman senasib. Jari-jarinya bergerak lincah menggenggam mouse computer dan suara klik klik klik terdengar di kepalanya. Seperti dengan membuka banyak tab sekaligus bisa menghilangkan rasa aneh yang ada di dadanya.
“Wah, ada satu teman senasib!”, gumamnya. Entah kenapa rasa aneh yang ada didadanya sedikit berkurang. Dia langsung melihat profil temannya. Tulisan galau dan sok filosofis terbaca olehnya.
Bukankah biasanya yang kuat yang mendapat cobaan? Toh Tuhan pasti akan memberikan penyelesaian kan?
Dia membaca tulisannya dan mengklik, like di status itu. Dalam hati dia tersenyum sinis, betapa manusia mencari sokongan semangat dari kata-kata yang mungkin dia sendiri belum terlalu paham apa artinya. Pasti dia Cuma sok tabah, mungkin sekarang dia lagi di depan computer nangis. Munafik! Mungkin dia tidak akan menulis seperti itu jika dia sudah bekerja keras seperti Raffi. Setidaknya jika dia tahu bagaimana aku mengikuti bimbingan belajar dan menelan soal-soal SBMPTN seperti snack, pikir Raffi sarkastik.
Raffi kemudian ingat dengan hipotesis hasil error milik akunnya. Cepat-cepat dia mengetik lagi alamatnya dengan berdoa semoga apa yang dia prediksikan betul. Kemudian dia memasukkan nomor miliknya pelan-pelan, sambil lirih berdoa. Tangannya gemetar lagi. 1-3-1-5-5-0-5-4-7-3, kemudian memasukkan tanggal-bulan-tahun yang sangat akrab dengan dia akhir-akhir ini gara-gara keseringan mengisis formulir untuk kuliah.
Dia menarik nafas lagi, tangan kirinya di dada dan dia menghadap keatas seperti meminta petunjuk. Tangan kanannya yang tiba-tiba gemetar memegang mouse mengklik kolom dengan tulisan Lihat Hasil.
Dia memejamkan mata dan dalam detik ini dia merasa bodoh sekali berharap kejaiban terjadi. Peluangnya mungkin satu banding sejuta, bodoh!. Namun rasa penasarannya menang. Dia menatap layar komputernya penuh harap, matanya yang tadi bercahaya dengan harapan mati seketika ketika dia melihat tulisan yang sama yang menimbulkan rasa seperti terbakar dan diperas sekaligus pada hatinya.
ANDA TIDAK LOLOS SBMPTN.
***
Dalam perjalanan pulang dia masih belum percaya dengan apa yang menimpa dia. Ini pasti kesalahan, Dia selalu mendapat PG tinggi yang seharusnya bisa menjebol pilihan pertamanya. Ini bahkan pilihan kedua dan ketiga tidak ada yang masuk. What the hell!, dengan umpatan itu dia menendang kerikil di depannya, seketika kerikil itu meloncat jauh, melambung dan menuju arus kendaraan di jalan yang Ia lalui. Seorang pengendara sepeda motor menatapnya garang dan berucap tanpa suara yang Raffi tangkap sebagai makian. Raffi hanya melihat pengendara sepeda motor itu dengan muka datar dan mata menatap tajam, seakan mengatakan peduli apa?
***
Sesampainya di rumah, Raffi langsung menuju dapur mencari air minum. Sebelum dia sampai di depan kulkas, ibunya datang. Wanita paruh baya tersebut tersenyum dengan ramah menatap Raffi, tangannya sibuk mengaduk sesuatu yang berbau sedap. Dia berharap dengan membuka pengumuman SBMPTN nya di warnet dia masih ada waktu untuk menyiapkan jawaban jika ada hal buruk terjadi, meski jaringan internet di rumahnya ada 24 jam.
“Gimana Nak, pengumumannya?”
Tak siap dengan pertanyaan Ibunya, Raffi membuka kulkas dan mengambil air minum sambil menjawab, “Nggak lolos Ma”, dibukanya tutup botol jus jeruk kemudian diminumnya dengan pelan tanpa menatap Ibunya.
“Maksud kamu?”, Ibunya masih belum paham.
“Ya, nggak lolos Ma. Aku nggak masuk kedokteran”, jawab Raffi setengah hati.
“Tapi kamu masuk dipilahan dua kan?”, Ibunya bertanya penuh harap. Sejenak dia berhenti mengaduk sup. Apinya dia kecilkan.
Raffi menutup botol jus jeruk dan memain-mainkannya, “Nggak Ma, nggak ada universitas yang nerima aku lewat SBMPTN ini”, Raffi berhenti sejenak, “Maaf Ma”. Shit! Kenapa mata gue berair,Shit!
Ibunya yang melihat Raffi menekuk kepala dengan sedih menuju Raffi yang sekarang duduk di kursi meja makan. Ibunya dengan pelan menaruh tangannya di pundak Raffi.
“Jangan sedih Raffi, kalau kamu nggak bisa masuk kedokteran, berarti memang sulit seleksi masuknya”. Mendengar kata-kata Ibunya yang penuh dengan rasa pemahaman entah kenapa membuat Raffi tambah melankolis. Dengan gaya sewajar mungkin dia mengucek matanya, gue gak boleh nangis, Damn!.
Dengan pelan, Raffi balik badan menghadap Ibunya, “Ma, entar gimana ngomong ke Ayah?”, dia bertanya dengan pelan. Dia melihat Ibunya menggigit bibir dan matanya menerawang.
“Nanti saja dibahas, toh Ayahmu belum pulang kerja kan?”, Ibunya berkata dengan meyakinkan, “Sudah, gak usah nangis, sekarang cari adik kamu Mia di rumah tetangga, mungkin di rumah temen kamu Naufal. Sekarang adiknya sama adik kamu geng. Ajak pulang, karena makan siang udah siap”, Ibunya tersenyum sambil kembali menuju kesibukannya.
“Ma, Raffi gak nangis. Ini cuma kena debu SBMPTN”, Raffi membantah sambil berjalan pergi ke luar lagi. Entah kenapa memikirkan percakapannya dengan Ibunya membuat dia tersenyum.
***
“Assalamu’alaikum…”, Raffi sekarang berdiri di depan pintu rumah sahabat SMP nya. Dari pintu dia bisa mendengar suara cempreng adiknya bermain dengan anak lain, dia juga mendengar suara televisi yang sepertinya menayangkan film anak-anak. Sambil mencuri dengar, dia mendengar suara langkah kaki bergegas menuju pintu.
“Waalaikum salam…”, Ucap seorang cowok sebaya Raffi, “Eh Raffi, gimana bro SBMPTN kamu?”, ucap Naufal sambil mengulurkan tangan, menjabat tangan Raffi.
Tak siap dengan serbuan pertanyaan, dia berusaha menjawab dengan gaya sebiasa mungkin.
“Gak masuk tuh. Gagal”, ucap dia sembari menyunggingkan bibir yang menyerupai senyuman, “Kamu gimana?”, Raffi balas bertanya sambil mengikuti Naufal duduk di ruang tamu.
“Yah, “, dia mendengar Naufal mendengus, “Sama nggak lolosnya”.
Mendengar ucapan Naufal  membuat Raffi terkejut sendiri. Ternyata dia tidak sendirian menghadapi beban kegagalan SBMPTN. Sahabatnya juga bernasib sama, dan mungkin ribuan pelajar sekarang juga menghadapi situasi yang sama. Memikirkan itu membuat rasa sakit di dadanya berkurang.
“Kok bisa?”, tanya Raffi.
“Nggak tahu juga, mungkin gara-gara ngambilnya terlalu tinggi kali ya, jadi nggak bisa masuk,” Raffi mendengar Naufal mendengus lagi dan menjelaskan, “Atau kalah doa sama anak-anak lain”, Naufal tersenyum sambil membenahi kacamatanya.
“Emang  kamu milih apa aja?”, Tanya Raffi yang sekarang menghadapi Naufal dengan serius.
“FTTM ITB, FTMD ITB, sama Teknik Geologi ITS. Dari ketiga itu nggak ada yang masuk, padahal aku yakin banget setidaknya bisa masuk ITS, tapi ya nggak tahu lagi”, Naufal mengangkat bahu kemudian melanjutkan, “sedih sih gagal SBMPTN, tapi hidup nggak berhenti gara-gara SBMPTN kan?”, Naufal menambahkan secara retoris sambil tersenyum. Wajahnya tenang, matanya cerah. Raffi tak habis pikir bagaimana Nufal bisa menghadapi kenyataan ini dengan sikap yang tenang.
“Tapi kalau gagal SBMPTN ini kan, gimaan ya, malu banget men, apa kata temenku yang lain? Bukannya Raffi siswa teladan ya? Kok nggak bisa masuk SBMPTN sih?”, ucap Raffi menirukan celotehan yang mungkin akan muncul ketika semua temannya tahu Raffi nggak lolos SBMPTN.
Naufal membenahi kacamatanya dan berkata, “Emang aku juga nggak digituin?”, sejenak dia menatap Raffi sambil menaikkan salah satu alisnya, kemudian dia melanjutkan, “Kayak gitu lumrah kok sebenarnya, semua orang pasti bertanya-tanya penasaran kenapa kita yang dianggap bisa malah nggak lolos. SBMPTN itu yang ikut jutaan, yang diterima berapa, cuma seratus ribu berapa kan? Selain pake otak, pake doa juga. Bener mungkin kita termasuk pintar, otak kita encer, tapi doa kita? Hubungan kita sama Tuhan? Siapa yang tahu? Temen-temen kita yang mungkin kita anggap biasa tapi bisa masuk SBMPTN kan juga piihannya beda sama kamu yang kedokteran atau aku yang FTTM ITB. Saiangannya ketat…! Lumrah lah kalau nggak lolos”, Naufal tersenyum diakhir ucapannya yang seperti khotbah menurut Raffi.
Raffi berpikir sebentar mendengar khotbah Naufal. Membenarkan poin-poin yang diucapkan sambil menganggukkan kepala tanda setuju meski dia masih belum percaya kok bisa dia tidak diterima,”Terus langkah kita selanjutnya gimana? Aku denger kan ITB nggak nerima mahasiswa diluar jalur undangan sama SBMPTN kan?”, Raffi bertanya kepada Naufal.
Mendengar pertanyaan itu, Naufal menjawab dengan tersenyum, “Emang sih. Kecewa mendengar kalau ITB nggak nerima mahasiswa diluar kedua jalur tersebut. Tapi ya mau gimana lagi”, ucap Naufal pasrah, “Mungkin aku akan ngambil di ITS yang masih ada hubungannya dengan pertambangan, belajar lebih giat agar menonjol, terus bisa dapat beasiswa S2 diluar negeri. Bagi kita yang kata kamu pinter ini”, Naufal menekankan kata pinter seperti mengejek “Kita malah ada banyak kesempatan untuk menonjol dan mendapatkan beasiswa. Kalau aku di ITB misalnya, saingannya banyak banget. Pasti pinter-pinter. Kesempatan agar menonjol juga berkurang kan?”, Lagi-lagi Naufal mengeluarkan argumen yang masuk akal.
“Bagi kamu yang pengen masuk kedokteran UI lewat SBMPTN, bener kamu emang nggak lolos. Tapi kamu ikus Simak UI dan Utul UGM kan? Doa terus agar bisa diterima. Terus masih ada juga alternatif universitas lain yang punya faklutas kedokteran yang bagus yang mungkin masih bisa nerima kamu kayak UNAIR sama UB. Apalagi uang kayaknya bukan masalah bagi keluarga kamu. Percaya deh Raf, dari semua temenku, kamu lah orang yang paling beruntung meski kamu nggak diterima lewat jalur SBMPTN”, ucapan Naufal kali ini menohok Raffi.
Sejak tadi setelah pengumuman dia selalu merasa kacau, kecewa. Namun setelah mendengar perkataan Naufal tadi, dia masih punya banyak kesempatan untuk mengambil kedokteran dibandingkan dengan anak lain, dan dia juga bisa lebih menonjol nantinya. Asyik, bisa berkesempatan menjadi mahasiswa teladan, pikir Raffi optimis.
“Terus ini ada juga”, Naufal melanjutkan lagi, “Kamu atau kita ini lebih beruntung dibandingkan temen-temen yang tertarik dengan jurusan yang cuma ada di universitas tertentu saja, nggak ada yang lain. Contohnya adalah SITH-Rekayasa ITB. Jurusan bioengineering itu cuma ada di ITB doang. Nggak ada di universitas lain. Temenku ada yang kayak gitu. Dia suka banget dengan bioengineering dan dia juga udah optimis bisa diterima soalnya nilainya dia kalau TO SBMPTN itu pasti tinggi, bisa masuk jurusan itu. Ternyata, dia nggak masuk. Bandingin dengan kamu, kayaknya dia sudah terobsesi dengan SITH-Rekayasa ITB. Nah, sekarang dia bingung sendiri gimana nanti kuliahnya. Percaya deh, kamu lebih beruntung”, Naufal menyimpulkan dengan meyakinkan.
Raffi kembali tertohok, “Thanks ya udah bikin aku lebih baik”, Raffi berusaha tersenyum terus dia ingat tujuan dia kesini, “Aku mau jemput Mia dulu, tadi Mama udah nyuruh aku buat jemput dia”, Raffi berkata sambil berdiri.
“Oh ya, aku juga lupa”, Naufal tersenyum, “Eh, besok kalau kamu mau riset universitas bareng aku kesini aja atau aku ke rumah kamu, gimana? Toh aku juga udah lama banget nggak ke rumah kamu”, Naufal berkata sambil mengantarkan Raffi ke ruang keluarga untuk menjempt adiknya.
Sambil berjalan pulang, Raffi berfikir mengenai perkataan Naufal tadi. Betapa egois nya dia berfikir bahwa dia adalah orang yang paling kecewa dan paling tidak beruntung, padahal sekarang teman-temannya pasti banyak juga yang mengalami hal yang sama. Raffi mengingat bahwa dari kecil dia belum pernah merasakan rasanya tidak bisa mendapatkan sekolah favoritnya. Dari SD hingga SMA dia selalu diterima di sekolah idamannya, mungkin sekarang saatnya roda harus berputar. Dia harus bisa merasakan bagaimana deseperate nya anak yang belum mendapat sekolah agar dia bisa lebih rendah hati dan memiliki mental yang kuat. Toh, dia masih punya Simak UI dan Utul UGM. Raffi tiba-tiba tersenyum, dia masih punya harapan untuk masuk fakultas kedokteran. Pengalaman ini akan membuatnya untuk belajar terbang. Bukankah kalau kita ingin terbang kita harus menjejak tanah dahulu, susah dahulu, jatuh, baru kita bisa membentangkan sayap dan terbang diangkasa. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang familiar tapi dia tidak bisa mengungat apa itu, kayaknya ada hubungannya dengan lagu.
“Mia, hati-hati!”, Raffi menggandeng tangan adiknya pulang.
***
Raffi duduk dengan deg-degan waktu makan malam. Dari tadi dia berusaha agar tidak menatap wajah Ayahnya yang sedari tadi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dengan pelan dia makan sambil berfikir bagaimana mengatakan kegagalan SBMPTN kepada Ayahnya.  Sebelum dia mengatakan sesuatu, Ayahnya sudah bertanya,
“Raffi, gimana SBMPTN kamu Nak?”, Ayahnya melihatnya dengan tajam dari kacamatanya. Sekilas seperti ada kilatan cahaya di kacamata Ayahnya, membuat wajahnya yang impassive tambah membuat Raffi takut.
“Hmm, itu Yah, Raffi nggak lulus SBMPTN”, Raffi hanya menatap makanannya yang tinggal setengah sambil berdoa. Suasana hening, Mia yang biasanya ramai waktu makan dengan denting piring tak biasanya tenang.
“Raffi jangan dimarahi ya Pa, kasihan dia”, Mamanya ikut nimbrung, berusaha agar Raffi tidak kena amuk, “Dia sudah berusaha kok”, Mamanya menambahkan.
“Mungkin tak cukup berusaha”, Ayahnya berkata tajam, “Kamu tahu kan Ayah berharap kalau kamu itu bisa jadi dokter kayak Ayah. Kamu juga sudah setuju kalau kamu ambil kedokteran. Ayah punya harapan besar agar kamu yang katanya pintar ini bisa mengambil kedokteran. Ini sudah tradisi di keluarga kita, Kakek kamu juga dokter, Ayah juga dokter”, Ayahnya berhenti mengambil nafas secara berat, “Tetapi sepertinya kamu mengecewakan Ayah lagi”,
Raffi hanya diam. Matanya tak lepas dari makanannya yang tinggal setengah tak tersentuh. Hatinya yang hampir sembuh sakit lagi mendengar perkataan Ayahnya.
“Ayah sudah memaafkan kamu yang hanya bisa meraih peringkat tiga nilai tertinggi UNAS kemarin, kamu harusnya bisa membuat Ayah bangga di SBMPTN ini. Kamu kan sudah Ayah daftarkan les untuk SBMPTN, kamu nggak serius ya?”, sejenak Ayah Raffi berhenti, “Jawab Raffi”, Ayahnya sekarang memandang Raffi meminta penjelasan.
Entah kenapa kata-kata ayahnya yang diutarakan secara pelan-pelan malah membuat Raffi semakin takut.
“Raffi serius kok Yah”, Sejenak Raffi memandang ibunya meminta dukungan kemudian kembali memandang Ayahnya, “Setiap  try out Raffi lolos, tapi nggak tahu kenapa waktu SBMPTN kemarin nggak lolos. Banyak juga kok teman Raffi yang nggak lolos ujian masuk tahun ini”, Raffi berhenti sebentar terus melanjutkan dengan pelan sambil menunduk lagi, “Mungkin sudah takdirnya”.
“Ayah nggak mau tahu alasannya. Kamu harus bisa masuk kedokteran, atau kamu ingin masuk jurusan lain?”
“Nggak Yah, Raffi tetap ingin masuk fakultas kedokteran”, Raffi kembali memandang Ayahnya. Raffi sudah jatuh cinta dengan kedokteran. Jangan sampai Ayahnya berfikir bahwa dia sudah pindah minat.
“Oh begitu”, Ayahnya hanya menanggapi datar. Kemudian Ayah Raffi berpaling untuk berbicara dengan istrinya dan anaknya yang tidak didengar oleh Raffi. Dalam otak Raffi hanya terngiang perkataan Ayahnya tadi.
Raffi memutuskan untuk melanjutkan makanannya dengan cepat dan segera kembali ke kamar. Ketika dia melangkah pergi, dia mendengar Ayah dan Ibunya berdiskusi mengenai langkah yang harus diambil untuk membantu Raffi melanjutkan kuliah. Sejenak dia berusaha menguping dibalik tembok. Dia mendengar perkataan mengenai mandiri, uang perkuliahan, dan kesediaan Ayahnya untuk membiayai perkuliahan Raffi di fakultas kedokteran. Mendengar ini dia tersenyum dan bersyukur. Setidaknya dia masih bisa bersekolah meski lewat jalur mandiri, meski mahal tapi keluarganya masih mampu. Lagi-lagi, rasa sakit di dadanya berkurang. Kemudian dia pergi menuju kamar dengan perasaan lebih lega. Ternyata kemarahan Ayahnya tidak semengerikan yang dia bayangkan, meski tadi cukup dingin.
***
Pagi harinya dia bangun telat, ketika dia melihat jam kamarnya, dia melihat sekarang sudah pukul 8 pagi. Sambil duduk di kasur dan mengucek mata, pikirannya langsung berputar ke saat sahur bersama keluarganya diwarnai dengan pernyataan ayahnya yang mendukung Raffi bila dia mengambil jalur mandiri kedokteran, ayahnya juga berkata bahwa dia akan mendoakan Simak UI dan Utul UGM Raffi bisa sukses. Mengingat itu dia tersenyum dengan lega. Dia bangun dan berkaca, dia baru sadar kalau dia masih memakai baju koko yang dia pakai sholat shubuh tadi.
Dia mengecek HP nya, ada sms dari Naufal yang mengajak browsing bareng mengenai jalur-jalur mandiri universitas di rumahnya pukul 10 nanti. Raffi sekarang menyalakan music player di HP nya, dia hubungkan dengan speaker dan dia mulia beres-beres kamar. Ketika dia menuju kamar mandi kamarnya, dia mendengar lagu yang agak asing di HP nya. Sejenak dia berhenti. Oh, lagu baru yang dia dapat dua hari sebelum tanggal 8 kemarin dari radio.
Sambil mandi, dia ikut bernyanyi mengikuti lagu oleh Shannon Noll,
When you feel the dream is over,
Feel the world is on your shoulders,
and you've lost the strength to carry on.
Even though the walls may crumble,
And you find you always stumble through,
Remember never to surrender to the dark.
Cos if you turn another page,
You will see that's not the way, The story has to end.

If you need to find a way back,
Feel you're on the wrong track,
Give it time, Learn to fly,
Tomorrow is a new day,
You will find you're own way,
You'll be stronger with each day that you cry,
Then you'll learn to fly.

Sungguh aneh, batin Raffi. Kenapa tepat sebelum dia mengetahui pengumuman SBMPTN dia sudah memiliki obat untuk mengatasi galau hatinya itu. Learn to Fly, seperti yang dikatakan Naufal kemarin. Dia harus belajar untuk menerima kenyataan dengan hati lapang. Yang lalu adalah pelajaran yang berharga. Dengan ditolaknya dia lewat jalur SBMPTN ini akan mengajarkan Raffi untuk bersyukur dengan apa yang dia miliki dan berjuang dengan keras untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia mengingat perkataan ayahnya saat sahur tadi, dan dia tersenyum.

Looking at your situation,
There's so much that you can do,
Now's the time to make your stand.
This is just an observation,
In the end it's up to you,
The future's in your hands.*

*Learn to Fly, song by Shannon Noll

21 Mei 2013

Modem hilang


Jadi, aku kehilangan modem.
Lebih tepatnya modem ku mungkin dipinjam anak tanpa dikembalikan. Ini membuatku khawatir. Semoga saja benar-benar dipinjam dan kemudian bisa kembali. Aku sangat butuh modem itu. Dimana ya? Dimana ya?
D   i   m   a   n   a      y   a   ?
Dimana kah gerangan modem?
Dicari pergi
Pergi mencari
Tak tahulag daku
Yang matanya hitam
Otaknya buram
Kemanakah gerangan?
Modem kepunyaanku?
Hilangkah?
Dipinjamkah?
Kemana pergi pergi kemana
Tak tahu aku daku tak mengerti

01 Mei 2013

Alas Kaki dan Korupsi


ALAS KAKI?

Sebagai seorang siswa yang hidup di asrama, berapa kali anda kehilangan alas kaki anda? Berapa kali pula anda meminjam alas kaki tanpa izin dari pemiliknya? Jujur saja, saya pernah kehilangan dan ‘ghasab’ alas kaki, begitu pula mungkin juga dengan anda.
Meskipun demikian, pengalaman yang paling menampar saya adalah ketika saya kehilangan sepatu saya tepat ketika saya butuhkan.
Pagi itu seperti biasa saya duduk di depan laptop saya, memelototi adegan Great Ninja War pada manga terkenal dari Jepang, Naruto. Saat itu sekitar pukul tujuh pagi pada Rabu pagi yang cerah, saya bru dari toilet ketika saya menyadari ada yang aneh. Rak sepatu saya longgar. Ada sepatu saya yang diambil oleh  siswa lain. Parahnya, dia mengambilnya dari rak sepatu saya sendiri, yang ada tulisan nama saya. Melihat kenyataan tersebut, saya langsung naik darah. Bisa-bisanya ada anak yang tidak menghargai kepemilikan orang lain.
Saya langsung bergerak cepat. Melihat ke kanan ke kiri. Sepi. Kecil kemungkinannya kalau pelakunya kelas 12. Kemungkinan besar pasti adalah siswa yang masuk pagi dan se-blok dengan saya. Jadwal ibadah saya pagi itu rusak karena kemarahan yang terpendam. Sakit rasanya melihat milik kita diambil oleh orang lain. Bukan begitu?
Untung saja saya bukan orang yang suka bicara kotor. Kalau tidak, pasti kertas putih pun akan berwarna hitam karena saya. Saya hanya tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang anak beasiswa yang dipercaya memiliki perilaku yang baik ternyata bertindak seperti itu. Bukankah dia bisa membaca? Untuk apa “otak” nya kalau tidak digunakan untuk mencerna tulisan nama saya yang tertampang dengan jelas di rak sepatu saya? Pagi itu rasanya seperti ada awan hitam menggelantung di depan mata saya, petir menyambar-nyambar mencari pelampiasan. (Parahnya lagi, sampai tulisan ini ditulis “Si Pengambil” tidak juga mengembalikan sepatu saya ke tempat yang seharusnya).
Saya segera menyiapkan strategi ketika untuk mendapatkan sepatu saya kembali. Saya menulis pengumuman kecil di pintu kamar-kamar se-blok dengan saya, dengan harapan mereka akan membantu untuk menemukan sepatu saya, meski saya agak sangsi karena sepatu saya tidak berindentitas. Saya juga menyiapkan kata-kata jika nanti bertemu dengan “Si Pengambil”, mulai dari berteriak di depan muka nya, mencoba pura-pura akan mengancamnya, atau menyerahkannya kepada Kepala Asrama agar dihukum sesuai perbuatannya. Namun sampai sore hari, tidak ada yang muncul. Semua persiapan saya menguap, dan sepatu saya tetap berkelana entah dimana.
Saya menyadari, saya juga pernah memakai sandal tanpa ijin. Bukannya bermaksud untuk membela diri atau bagaimana, namun sandal tersebut tergeletak begitu saja, toh saya juga mengembalikannya ke tempat semula. Saya yakin, Anda pun demikian juga.  Bahkan, ada banyak anak yang rela “nyeker” dibandingkan memakai alas kaki yang bukan miliknya.
Ketika saya berpikir lebih jauh mengenai hal ini, saya jadi teringat dengan korupsi. Sebagai negara terkorup, kesempatan perubahan hanya ada ditangan generasi sekarang ini. Jika dari kecil kita sudah tidak merasa bersalah mengambil atau memakai hak orang lain, bagaimana nantinya. Jika kita sudah terbiasa mengambil hak orang lain, katakanlah meskipun itu kecil, namun kalau lama kelamaan bukankah kita akan berani juga untuk mengambil hak orang yang lebih besar?
Semenjak kecil kita sudah terbiasa mengambil uang seribu rupiah dari Ibu kita tanpa sepengetahuannya. Ketika kita dewasa, bisa saja kita akan terbiasa mengambil satu juta, sepuluh juta, dari orang lain. Hal itu karena kita sudah terbiasa. Bukankah begitu?
Nah, tentu kita tidak ingin hal tersebut terjadi. Permasalahan kecil seperti alas kaki atau sepatu seperti ini janganlah muncul lagi. Mari kita saling menyadari kesalahan masing-masing dan menjadikannya pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Memang tak bisa dipungkiri, hidup satu atap dengan banyak orang yang dikonsep sebagai “family” memang sudah biasa bantu membantu. Bahkan ada yang bilang, satu untuk semua, semua untuk satu berkaitan dengan pemakaian property di asrama. Memang bantu membantu itu baik, namun ada etika dan tata cara, bukan dengan merampas hak orang lain.(naf)

29 April 2013

Mifuck dan Ifuck


Harus berkali-kali saya bilang bahwa saya sudah tidak tahan lagi dengan adik-adik kuman saya. Ada dua orang di kamar saya. Namanya adalah Mifuk dan Ipuk (bukan nama asli). Mereka berdua sungguh sangat menjengkelkan. Bukan dalam artian mereka nakal, memakai narkoba, atau sebagainya. Bukan hal tersebut. Kenakalan mereka lebih parah, yakni suka mengobral janji, jarang menepati; talk big, but no proof at all; malas-malasan. Yang paling parah menurut saya adalah mereka yang tidak bertanggung jawab itu.
Mungkin beberapa dari anda tahu kalau saya hidup di asrama. Yah, di asrama memang banyak jenis orangnya. Yang baik, banyak sekali. Yang seperti saya sebutkan diatas, hanya sedikit namun sudah membuat cacat, kalau kain itu ibarat kain yang putih bagus yang terkena tinta hitam setitik.
Memang, saya akui saya bukan baik 100%, tetapi setidaknya saya itu mencoba untuk menjadi baik. Belajar bagaimana menjadi orang yang bertanggung jawab dan belajar memotivasi diri sendiri. Mifuk dan Ipuk tadi itu sepertinya tidak punya motivasi diri untuk berubah, untuk bertanggung jawab terhadap apa yang mereka perbuat. Sungguh sangat bikin jengkel jika anda menjadi saya.
Mifuk dan Ipuk itu bagaikan duo kuman. Malah mungkin hewan, karena mereka dinasehati sudah tidak bisa. Kalau hewan itu benar sekali, karena mereka kan tidak paham dengan bahasa saya. Saya sudah dibuat putus asa berkali-kali karena saya gagal menyadarkan mereka sekedar untuk melakukan hal-hal sepele. Seperti; membuang sampah pada tempatnya setelah memakan makanan berbungkus (kebanyakan sampahnya hanya ditaruh diatas meja bercampur bersama buku), merapikan barang-barang yang habis dipakai (mereka jarang sekali merapikan barang-barang mereka), bertanggung jawab terhadap janji yang mereka lontarkan, atau untuk lebih banyak berbuat dari pada berkata-kata.
Duo kuman tersebut sungguh sangat pas kalau diacuhkan, tak usah dianggap saja. Pasalnya, saat ini, ketika saya menulis ini Ipuk punya janji kepada temannya, A, untuk menghadiri acara English debate course, nyatanya, dia Cuma obral janji kemudian dia keluar bersama temannya yang lain untuk bermain bulu tangkis. Mifuk juga seperti itu, jarang sekali merapikan barang-barangnya, terutama tasnya (dia selalu menelantarkan tas nya dimana-mana, kalau satu masih oke sih, tapi ada 5 tas yang membuat pusing). Kelakuan mereka sungguh mencerminkan siswa yang tidak bertanggung jawab.
Saya heran sampai sekarang, apa yang dilihat oleh PSF dari mereka. Mungkin karena secara akademis mereka tergolong siswa pintar, sedangkan saya tidak. Bagaimanapun, duo kuman tersebut semoga saja bisa sadar dan menjadi orang yang lebih baik.
Aku berharap ketika aku lulus mereka akan berubah, aklau tidak, ya sudah. Setidaknya saya sudah mencoba untuk menyadarkan mereka. Semoga mereka membaca ini dan sadar kalau mereka butuh berubah.

03 Maret 2013

UNAS Makin Dekat


 Unas makin dekat. Satu bulan lagi dan semua usaha selama tiga tahun akhirnya akan ditentukan juga dengan ujian selama tiga hari. Meskiipun demikian, ternyata tiga hari ujian tidak akan menentukan 100% kelulusan siswa dari sekolah. Ujian Nasional hanya akan menentukan 60% kelulusan, sedangkan 40% nya adalah performa di sekolah yang diambil dari ujian sekolah. Meski demikian, berarti tetap saja kelulusan di Indonesia ditentukan oleh ujian.
Aku kurang tahu dengan negara lain, namun memang ujian selalu dijadikan ajang penentuan bagi kelulusan siswa. Berat memang, kalau sampai ada anak yang smart namun gagal di ujian karena dia punya masalah.
Disitulah tantangan dalam ujian nasioanl di Indonesia. Semakin dekat dengan ujian nasional, semakin banyak keringat dingin yang muncul, rasa deg degan, stress, atau parahnya lagi depresi gara-gara tidak dapat memenuhi target.
What about me? Do I feel the same about UNAS? Well, I should say it honestly that I feel anxious about UNAS. Like I’m not 100% prepared. My focused still divided by something I don’t know, maybe the university enrollment that caused it. However, I considered that the caused is come from inside my mind, which is really good in manipulating. So, from now on, I think the best way to save myself is to negotiate with my mind and give positives affirmation that will lead me to break the wall.
Still, UNAS one month again, I should be prepare for this war. Because UNAS is another war and I will win this time.

Don’t Know What Happened


Recently, I feel strange about myself because of something I don’t really know. Don’t ask me why. I just feel I’m lazier, and I can’t write anything more than 300 words in 15 minutes like usually I always do. I feel bewildered about this.
I wondered what happened with my true personal character, is it my failure in SAT affected  my personality? I hated being like this. I feel the weaknesses inside my mind. Like a dementor sucked my happiness and my hopes. Like I’m being depressed because of something I don’t know.
I wish I could find what happen with me so I could figure out how to overcome this and move forward. 

28 Februari 2013

Try Out 2 UNAS

Sejak Senin, 25 februari kemarin, sebenarnya ada try out 2 Kota Malang untuk SMA. Alhamdulillah, tanggal 27 kemarin sudah selesai dan aku bisa menghabiskan waktuku untuk membaca novel dan juga melakukan aktivitas yang aku senangi. Apa? browsing lah.
Ok, try out 2 kmearin rasanya ngak terlalu bagus menurutku. Nilaiku meningkat, namun belum terlalu signifikan untuk bisa mencapai rata-rata 8 keatas. Raanya jadi sedih. Ok, mungkin terdengar melankolis, namun beberapa hari ini aku selalu sedih dan kurang fokus terhadap try out 2 ini.
Aku berharap aku bisa menjadi ceria seperti dulu. Ketika SMP, aku selalu ceria, otak ini rasanya encer. Namun sekarang, waktu SMA ini otakku rasanya kok nggak encer ya, perlu di push berkali-kali agar apa yang aku pikirkan benar-benar bisa dilaksanakan.
Back to my try out. Aku hanya berharap bisa rata-rata 7 untuk ini. Doain aja aku bisa.