19 Juli 2013

Tawadhu’ pada Ilmu


Kunci dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat adalah tawadhu’ kepada orang yang ahli ilmu. Setidaknya itu adalah hal yang aku dapat dari belajar kitab ta’lim al muta’alim. Kitab yang menerangkan banyak hal mengenai adab mencari ilmu. Kitab ini sangat menarik dan bermanfaat, sayangnya kitab ini hanya diajarkan di pondok pesantren, sehingga pelajar yang tidak pernah belajar kitab ini tidak akan tahu hal apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mencari ilmu.
Ketika belajar kitab ini, pikiran saya kembali ke masa masa MTs  dan MI saya, dimana adab untuk mencari ilmu sangat diperhatikan. Hal itu begitu berbeda ketika saya di SMA. Rasanya ada hal yang berbeda bagaimana teman-teman saya memperlakukan ilmu dan lain sebagianya. Mungkin ini juga da kaitannya dengan kemunduran prestasi saya dalam hal ilmu.
Waktu di MI dan MTs, entah kenapa rasanya saya itu cukup bisa dan mampu menghadapi soal-soal, ujian, dan berbagai macam tes. Setidaknya nilai saya itu masih bagus. Namun ketika di SMA, rasanya kalau nggak belajar itu kok susah. Bahkan ketika sudah belajar masih saja mendpata nilai 6. Memalukan memang, tapi dari situlah saya belajar, ada apa dengan diri saya.
Saya pikir mungkin saya dulu kurang belajar. Maka saya belajar, meski jika dibandingkan teman saya belajar saya sedang-sedang saja. Namun nilai saya tetap biasa saja. Average, nothing special. Jika barang itu kualitas saya tengah-tengah. Rasanya susah sekali mendapatkan nilai 90 keatas. Apalagi nilai perfect. Namun ketika saya pikir-pikir lagi bukan hanya itu masalahnya. Masalah yang paling pokok yang saya kurangnya tawadhu’ dalam menuntut ilmu.
Tawadhu’ itu maksudnya menghormati memulyakan ilmu. Dalam poin ini, rasanya saya kurang sekali. Dulu waktu MI membawa buku itu harus diatas pusar, tidak ditaruh dibawah. Tidak menduduki meja, tidak duduk di meja guru. namun ketika SMA, saya biasa melakukan hal-hal yang dulu tidak biasa saya lakukan. Nah, di SMA ini lah menurut saya moral saya dalam keilmuwan menurun.
Hal itu berakibat pada banyak hal. Mungkin usaha saya yang tidak berhasil itu gara-gara saya kurang memulyakan ilmu. Ujian SAT saya gagal memenuhi target, skor TOEFL saya juga urang dari target, ujian nasional saya juga gagal memenuhi target, ujian SBMPTN juga gagal. Kadang-kadang hal itu memnacing frustasi, tetapi ketika dipikir lagi, ternyata ini memang kesalahan saya. Padahal saya sudah bekerja dengan keras, semampun saya, namun ternyata tidak berhasil.
Bagi orang-orang yang berotak biasa seperti saya, tawadhu’ itu memegang pernanan kunci dalam menuntut ilmu. Istilahnya ini adalah good luck charm atau felis felicis kalau di Harry Potter, serial favorit saya. Karena, tanpa memulyakan ilmu, ilmu yang kita pelajari itu mudah terbang menghilang. Kita mudah lupa, dan tentunya ilmunya jadi tidak bermanfaat.
Di SMA saya fenomena ini bisa ditemui dengan mudah jika kita mau membuka mata dan telinga kita. Ada anak yang biasa saja, tetapi dia sopan kepada guru, tidak neko-neko, menghormati dan memuliaakan ilmu, dan dia sukses. Sedangkan ada juga yang pintar, tapi dia kurang memuliakan ilmu dan sekarang dia bingung mencari kuliah.
Saya berharap, ketika saya kuliah nanti, saya bisa lebih tawadhu’ dengan ilmu. Saya kembali ke jalan biasa saya dibesarkan oleh orang tua saya yakni cinta dan memuliakan ilmu. Semoga saya bisa menjalaninya, agar ilmu yang saya peroleh bisa bermnafaat baik di dunia maupun di akhirat, agar nama saya yang diambil dari kata Manaafi’u yang artinya manfaat bisa benar-benar terwujud.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,