29 April 2013

Mifuck dan Ifuck


Harus berkali-kali saya bilang bahwa saya sudah tidak tahan lagi dengan adik-adik kuman saya. Ada dua orang di kamar saya. Namanya adalah Mifuk dan Ipuk (bukan nama asli). Mereka berdua sungguh sangat menjengkelkan. Bukan dalam artian mereka nakal, memakai narkoba, atau sebagainya. Bukan hal tersebut. Kenakalan mereka lebih parah, yakni suka mengobral janji, jarang menepati; talk big, but no proof at all; malas-malasan. Yang paling parah menurut saya adalah mereka yang tidak bertanggung jawab itu.
Mungkin beberapa dari anda tahu kalau saya hidup di asrama. Yah, di asrama memang banyak jenis orangnya. Yang baik, banyak sekali. Yang seperti saya sebutkan diatas, hanya sedikit namun sudah membuat cacat, kalau kain itu ibarat kain yang putih bagus yang terkena tinta hitam setitik.
Memang, saya akui saya bukan baik 100%, tetapi setidaknya saya itu mencoba untuk menjadi baik. Belajar bagaimana menjadi orang yang bertanggung jawab dan belajar memotivasi diri sendiri. Mifuk dan Ipuk tadi itu sepertinya tidak punya motivasi diri untuk berubah, untuk bertanggung jawab terhadap apa yang mereka perbuat. Sungguh sangat bikin jengkel jika anda menjadi saya.
Mifuk dan Ipuk itu bagaikan duo kuman. Malah mungkin hewan, karena mereka dinasehati sudah tidak bisa. Kalau hewan itu benar sekali, karena mereka kan tidak paham dengan bahasa saya. Saya sudah dibuat putus asa berkali-kali karena saya gagal menyadarkan mereka sekedar untuk melakukan hal-hal sepele. Seperti; membuang sampah pada tempatnya setelah memakan makanan berbungkus (kebanyakan sampahnya hanya ditaruh diatas meja bercampur bersama buku), merapikan barang-barang yang habis dipakai (mereka jarang sekali merapikan barang-barang mereka), bertanggung jawab terhadap janji yang mereka lontarkan, atau untuk lebih banyak berbuat dari pada berkata-kata.
Duo kuman tersebut sungguh sangat pas kalau diacuhkan, tak usah dianggap saja. Pasalnya, saat ini, ketika saya menulis ini Ipuk punya janji kepada temannya, A, untuk menghadiri acara English debate course, nyatanya, dia Cuma obral janji kemudian dia keluar bersama temannya yang lain untuk bermain bulu tangkis. Mifuk juga seperti itu, jarang sekali merapikan barang-barangnya, terutama tasnya (dia selalu menelantarkan tas nya dimana-mana, kalau satu masih oke sih, tapi ada 5 tas yang membuat pusing). Kelakuan mereka sungguh mencerminkan siswa yang tidak bertanggung jawab.
Saya heran sampai sekarang, apa yang dilihat oleh PSF dari mereka. Mungkin karena secara akademis mereka tergolong siswa pintar, sedangkan saya tidak. Bagaimanapun, duo kuman tersebut semoga saja bisa sadar dan menjadi orang yang lebih baik.
Aku berharap ketika aku lulus mereka akan berubah, aklau tidak, ya sudah. Setidaknya saya sudah mencoba untuk menyadarkan mereka. Semoga mereka membaca ini dan sadar kalau mereka butuh berubah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,