31 Juli 2013

Buber part 2


















Buber Part 1

On 31th July 2013, I and my friends held an evening meals together to break our fasting at that day. This event was held in Rofiq's house, near Simpang Lima Gumul monument Kediri.

narsis dulu, mumpung ada temen

nge-game dulu ah, sambil nunggu adzan (daripada gosip)








takjil kami

narsis dulu

tertawa bahagia melepas dahaga karena buka

aaarggh, NO!



dari pada makan snack, mending makan komik dulu

apa?

menu buka kami

27 Juli 2013

My Flaw


Dalam kesempatan yang langka ini, aku kasih kalian tour ke dalam personality-ku. Temanya adalah kelemahan yang ada pada kepribadianku. Mungkin agak aneh kalau kalian baca ya, tapi setidaknya kalian bisa tahu seperti apa aku ini dan kalian bisa belajar dari apa yang ada pada diriku.
Aku orangnya optimis. Saking optimisnya, kadang-kadang aku jatuh pada hal-hal di masa depan dan tidak focus pada masa sekarang. Sebagai contoh, aku ingin bisa british accent. Aku malah berfikir bagaimana nanti jika aku bisa. Apakah aku bisa lebih charming, or finally with this accent I can hooked up with the girl I like. Aku malah mengabaikan hal yang paling penting. Masa ini.
Masa ini itu penting. Kamu ingin nilai bagus, maka usaha dulu. Jangan berfikir bagaimana jika nilai kamu nanti bagus, apakah kamu nanti akan dianggap pintar, apakah nanti kamu bahagia, dan lain sebagainya. Jika kamu ingin nilai bagus, maka kamu lebih baik untuk berusaha dengan keras. Nila bagus itu upah. Masalah yang ada di aku adalah aku tidak melihat masa ini sebelum liburan ini.
Aku terlalu melihat masa depan dan buta dengan apa yang harus aku lakukan sekarang. Padahal, jika kita focus pada masa ini, kayaknya masa depan bisa digenggam dengan lebih mudah. Dalam hal ini aku belajar banyak dari teman-teman. Teman-temanku yang punya cita-cita tinggi, pasti belajar dengan keras untuk mencapai apa yang dia inginkan. Mereka focus pada apa yang ada sekarang, bukan daydreaming dengan apa yang akan datang.

nah, jika kita itu pengen sesuatu


dia cuma pengen bisa sampai ke tujuan, udah bayangin banyak hal jika nanti dia sampai disana gimana. eh, ternyata dia jatuh karena nggak berusaha dulu


nah, ini yang terjadi jika dia berusaha dengan keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. maka untuk mencapai kastil, dia membangun jembatan dahulu


akhirnya sampai deh dia di kastil dengan bahagia karena usaha kerasnya

25 Juli 2013

Orang Desa dan Pendidikan




Kemarin waktu kumpul-kumpul dengan  teman-teman 9-A kami  sepintas membahas bagaimana kmeiskinan di Indonesia itu kok selalu turun temurun, terutama di desa-desa. Jika orang tua miskin, anaknya bisa dipastikan miskin, atau lebih baik sedikit, atau malah lebih buruk. Jarang sekali ada cerita di desa-desa itu kalau orang tua miskin kemudian anak nya nanti bisa kaya. Satu-satunya cara yang biasa digunakan untuk menaikkan taraf hidup adalah dengan menikah dengan orang yang lebih kaya.
Nah, saya sempat memikirkan apa penyebab rantai kemiskinan itu terjadi. Setelah saya pikir-pikir, dan melihat fakta-fakta yang terjadi di sekeliling saya, saya melihat bahwa kunci untuk membebaskan diri dari rantai kemiskinan adalah dengan pendidikan. Entah pendidikan formal ataupun informal.
Di desa saya ada seorang bidan. Dulunya dia masih hidup dengan biasa saja. Rumahnya kecil. Namun sekarang, rumahnya adalah rumah terbesar di desa saya. Kenapa bidan itu bisa kaya? Karena dengan ilmu kedokteran yang dimilkinya. Selain itu juga mungkin suaminya polisi.
Ada juga guru. guru setidaknya hidupnya lebih baik di desa saya. Termasuk kaya lah, meskipun kekayaannya biasa-biasa saja. Namun setidakya bisa membiayai kuliah anak-anaknya, sehingga anak-anaknya bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik.
Selain bidan dan guru, ada juga DPR. Banyak yang bilang dulu DPR itu miskin. Yah, aku ingat, dulu rumahnya kecil dan memiliki toko. Dulu saya sering bermain dengan anak-anaknya.  Sekarang rumahnya termasuk slaah satu terbesar di desa saya. Perlu dicatat juga akalu orangtuanya juga hdupnya sederhana.
Yang paling miskin di daerah saya itu adalah petani dan pedagang. Hidup mereka itu ada di range miskin dan berkecukupan, yang artinya tidak ada uang yang tersisa untuk kuliah, untuk pendiidkan yang laun yang bisa diinvestasikan untuk anak-anak mereka. Namun, pengecualian bisa terjadi di sini jika orang tuanya sadar akan pendidikan, maka biasanya orang tuanya memiliki tabungan pendidikan untuk si anak.
Sayangnya, banyak orang di desa yang belum terlalu sadar akan pentingnya pendidikan tinggi. orang desa itu sudah merasa cukup dengan pendidikan SMP. Alhamdulillah kalau bisa SMA. Jarang sekali ada yang berpikir untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi atau kuliah. Selain tidak ada biaya, biasanya orang tua akan berkata, “nyapo kuliah, ngewangi wong tuwo wae” (kenapa harus kuliah, bantu orang tua saja!). ada juga yang orang tua dan anak sama-sama memiliki pandangan yang sama akan pentingya pendidikan tinggi, namun ternyata tidak ada biaya.
Sungguh menyedihkan memikirkan kenyataan ini. Padahal pendidikan adalah kunci yang ampuh untuk memutus rantai kemiskinan. Namun entah kenapa pemerintah sepertinya kurang memperhatikan pendidikan untuk orang-orang desa. 12 tahun pendidikan cukup. Meskipun ada bidik misi, namun orang desa sudah ciut nyalinya dengan biaya kuliah yang tinggi itu, sehingga menyurutkan semnagat mereka untuk belajar di perguruan tinggi.
Orang-orang desa itu butuh contoh dan penegasan, bahwa kalau ada kemauan , pasti ada jalan. Kalau anak ingin kuliah, orang tua seharusnya mendukung, kalau tidak dengan financial ya setidaknya ikut mendoakan si anak agar bisa mendpaat beasiswa dan diterima di universitas yang diidamkan. Dengan sadarnya orang desa akan pentingnya pendidikan tinggi, maka diharapkan kekayaan itu akan merata dan orang-orang kecil itu bisa merasakan nikmatnya apa yang sudah diusahakannya.

gambar diambil dari http://aurellyreresaputra.blogspot.com/2013/05/problematika-pendidikan-bangsa-indonesia.html

22 Juli 2013

Newmoon; new collection

I had a fortune today. I got a newmoon book in English edition only for 40k! Oh my, I can't belive this happening. I bought it in book bazaar in Library of Kediri City, they held a cheap book exhibition untill 31 July next week. I'm so glad I can buy a book from there.

Kerja keras dalam menuntut ilmu


Kemarin guru saya menekankan pentingnya bekerja keras dalam mencari ilmu. Bahwa apa yang kita dapatkan itu sebanding dengan usaha kita. Ketika mendengar ini, pikiran saya kembali ke masa SMA yang baru saja saya tinggalkan hampir satu bulan lalu.
Di SMA dulu, saya pikir saya belum bekerja keras untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Sungguh benar sekali. Saya jadi malu dan menyesal mengingatnya. Saya ingin bisa british accent, namun saya kurang bekerja keras memraktikan speaking dengan gaya itu. Saya ingin bisa bagus bahasa inggris, namun saya kurang bekerja keras untuk beljaar grammatical nya dengan keras. Saya ingin mendapat nilai SAT bagus, namun sepertinya usaha saya dibanding dengan teman-teman saya yang rela tidak tidur sampai larut malam terlalu ringan. Saya ingin nilai UNAS bagus namun saya tidak mau bersungguh sungguh untuk belajar dengan keras. Saya baru menyadari betapa saya terlalu santai dalam meraih impian saya.
Saya ingat teman syaa yang bernama Jaya. Dia adalah contoh dari kebalikan sifat saya dalam belajar. Ketika dia menginginkan ssuatu, dia benar-benar bekerja untuk itu. Tidak heran, dia sebentar lagi berangkat ke US untuk kuliah. Sedangkan saya, impian di ITB pun kandas karena ternyata usaha saya masih kurang dibandingkan dengan pesaing-pesaing di SITH Rekayasa ITB.
Saya menyadari diri saya seperti itu dan saya bersyukur saya bisa merefleksikan diri saya sebelum kuliah ini. Saya meski malu mengatakannya sebenarnya pemalas, namun saya ingin berubah. Saya ingin bisa melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras, terutama dalam menuntut ilmu. Karena ilmu itu kedudukannya sangat penting dalam agama saya, Islam.
Mungkin banyak yang berpikir, bukannya Islam identik dengan ibadahnya yang tak tanggung-tanggung? Puasa sebulan penuh. Sholat 5 kali sehari. Zakat, tak boleh init tak boleh itu. Memang benar, Islam menekankan ibadah karena memang itulah tujuan manusia seperti kita diciptakan. Namun ternyata kedudukan ilmu lebih tinggi lho dibandingkan dengan ibadah. Ilmu itu bagai pohon, sedangkan ibadah itu buah, yang menjadikan pohon itu lebih berharga lagi.
Balik lagi ke bekerja keras, saya berharap nanti disaat kuliah, saya bisa meniru semnagat kerja keras teman-teman saya, seperti Jaya, Nain, Bimly, dan masih banyak anak di SMA lain yang hebat-hebat. Bukan hanya karena otaknya yang cemerlang, namun mereka mampu membawa diri mereka untuk mengambil kerja keras demi memperoleh ilmu. Sungguh salut saya ini dan malu pada teman-teman saya. Semoga Allah memberikan saya kesempatan untuk menunjukkan perubahan yang positif waktu kuliah nanti.


20 Juli 2013

Ramadhan Tiba



Ada yang berbeda dengan ramadhan tahun ini. Saya tidak sepenuhnya bahagia. Bukan karena ramadhan, karena saya belum mendapat tempat untuk kuliah yang saya inginkan, setidaknya PTN dan jurusannya berhubungan dengan biotechnology. Sebenarnya sudah diterima, namun di PTS dengan jurusan ekonomi.
Secara umum, ramadhan tahun ini terasa lebih sepi dibandingkan dengan tahun lalu. Jujur, rasanya seperti bulan-bulan biasa, meski saya merasa saya lebih dekat dengan yang Maha Kuasa di ramadhan tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu.
Ramadhan tahun ini akan saya habiskan secara full di rumah. Dulu saya menghabiskan ramadhan di asrama. Kenangan yang sangat indah. Ketika di rumah, tiba-tiba saya kangen suara teman-teman saya yang ramai bermain game, bahkan saya kangen dengan shitty words dari teman-teman saya. Ramadhan di asrama benar-benar berwarna, namun Ramdhan di rumah juga bisa berwarna jika saya ingin.
Aktivitas di bulan ini rasanya kurang padat. Waktu saya banyak dihabiskan untuk membaca buku di rumah dan menulis. Entah kenapa galau gara-gara mencari kuliah ini membuat saya banyak menulis dan membaca. Saya juga lebih dekat kepada Allah. Memang, kadang-kadang bencana membuat kita lebih dekat kepada Dzat yang menguasai segalanya.
Saya hanya berharap di Ramadhan tahun ini saya bisa menjadi lebih baik. Ibadah lebih meningkat dan juga apa yang saya cita-citakan bisa terwujud. Saya hanya berharap semoga hal ini benar-benar bisa terjadi.

19 Juli 2013

Tawadhu’ pada Ilmu


Kunci dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat adalah tawadhu’ kepada orang yang ahli ilmu. Setidaknya itu adalah hal yang aku dapat dari belajar kitab ta’lim al muta’alim. Kitab yang menerangkan banyak hal mengenai adab mencari ilmu. Kitab ini sangat menarik dan bermanfaat, sayangnya kitab ini hanya diajarkan di pondok pesantren, sehingga pelajar yang tidak pernah belajar kitab ini tidak akan tahu hal apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mencari ilmu.
Ketika belajar kitab ini, pikiran saya kembali ke masa masa MTs  dan MI saya, dimana adab untuk mencari ilmu sangat diperhatikan. Hal itu begitu berbeda ketika saya di SMA. Rasanya ada hal yang berbeda bagaimana teman-teman saya memperlakukan ilmu dan lain sebagianya. Mungkin ini juga da kaitannya dengan kemunduran prestasi saya dalam hal ilmu.
Waktu di MI dan MTs, entah kenapa rasanya saya itu cukup bisa dan mampu menghadapi soal-soal, ujian, dan berbagai macam tes. Setidaknya nilai saya itu masih bagus. Namun ketika di SMA, rasanya kalau nggak belajar itu kok susah. Bahkan ketika sudah belajar masih saja mendpata nilai 6. Memalukan memang, tapi dari situlah saya belajar, ada apa dengan diri saya.
Saya pikir mungkin saya dulu kurang belajar. Maka saya belajar, meski jika dibandingkan teman saya belajar saya sedang-sedang saja. Namun nilai saya tetap biasa saja. Average, nothing special. Jika barang itu kualitas saya tengah-tengah. Rasanya susah sekali mendapatkan nilai 90 keatas. Apalagi nilai perfect. Namun ketika saya pikir-pikir lagi bukan hanya itu masalahnya. Masalah yang paling pokok yang saya kurangnya tawadhu’ dalam menuntut ilmu.
Tawadhu’ itu maksudnya menghormati memulyakan ilmu. Dalam poin ini, rasanya saya kurang sekali. Dulu waktu MI membawa buku itu harus diatas pusar, tidak ditaruh dibawah. Tidak menduduki meja, tidak duduk di meja guru. namun ketika SMA, saya biasa melakukan hal-hal yang dulu tidak biasa saya lakukan. Nah, di SMA ini lah menurut saya moral saya dalam keilmuwan menurun.
Hal itu berakibat pada banyak hal. Mungkin usaha saya yang tidak berhasil itu gara-gara saya kurang memulyakan ilmu. Ujian SAT saya gagal memenuhi target, skor TOEFL saya juga urang dari target, ujian nasional saya juga gagal memenuhi target, ujian SBMPTN juga gagal. Kadang-kadang hal itu memnacing frustasi, tetapi ketika dipikir lagi, ternyata ini memang kesalahan saya. Padahal saya sudah bekerja dengan keras, semampun saya, namun ternyata tidak berhasil.
Bagi orang-orang yang berotak biasa seperti saya, tawadhu’ itu memegang pernanan kunci dalam menuntut ilmu. Istilahnya ini adalah good luck charm atau felis felicis kalau di Harry Potter, serial favorit saya. Karena, tanpa memulyakan ilmu, ilmu yang kita pelajari itu mudah terbang menghilang. Kita mudah lupa, dan tentunya ilmunya jadi tidak bermanfaat.
Di SMA saya fenomena ini bisa ditemui dengan mudah jika kita mau membuka mata dan telinga kita. Ada anak yang biasa saja, tetapi dia sopan kepada guru, tidak neko-neko, menghormati dan memuliaakan ilmu, dan dia sukses. Sedangkan ada juga yang pintar, tapi dia kurang memuliakan ilmu dan sekarang dia bingung mencari kuliah.
Saya berharap, ketika saya kuliah nanti, saya bisa lebih tawadhu’ dengan ilmu. Saya kembali ke jalan biasa saya dibesarkan oleh orang tua saya yakni cinta dan memuliakan ilmu. Semoga saya bisa menjalaninya, agar ilmu yang saya peroleh bisa bermnafaat baik di dunia maupun di akhirat, agar nama saya yang diambil dari kata Manaafi’u yang artinya manfaat bisa benar-benar terwujud.

18 Juli 2013

Beware of Scholarship

Siapa sih yang nggak mau beasiswa? Apalagi kalau beasiswa yng diberikan itu adalah jenis full scholarship. Hmm, membuat kita kepengen grab it and own it right?
Tapi tahukah kalian kalau beasiswa itu selalu ada kelanjutannya. Jarang sekali ada beasiswa yang ngasih kamu uang buat ngelanjutin sekolah tanpa ada apa-apa dibalik itu. Nggak ada. Pasti semua ada syarat dan ketentuan yang berlaku, dan hal itu lumrah.
Nah, disini aku mau share mengenai beware scholarship. Kadang-kadang ketika kita dpaat beasiswa kita langsung bangga banget kan? Wah, bakal sekolah gratis, buku gratis, rasanya kayak orang spesial. Namun, hal itu nyatanya ada banyak hal yang harus kamu tahu. Beasiswa itu kebanyakan meminta kamu untuk berkontribusi balik.
Berkontribusi balik gimana maksudnya? Maksudnya adalah, setelah kamu dapat beasiswa dan kamu bekerja, kadang-kadang kamu disuruh menjadi donatur untuk calon penerima beasiswa yang akan datang. Atau kalau nggak gitu kamu harus melakukan community service seperti ngajar dan sebagainya. Hal itu lumrah sekali, dan aku juga dukung. Istilahnya untuk rasa terima kasih lah, kamu sudah diberi 'gratisan' ketika kamu sekolah, masa kamu melakukan kontribusi balik aja nggak mau.
Apa yang harus kamu waspadai adalah jika beasiswa yang kamu peroleh meminta timbal balik dalam bentuk uang yang sesuai dengan jumlah yang kamu terima. Contohnya, kamu dpaat beasiswa untuk kuliah 50 juta. Di akhir kuliah, ternyata kamu disuruh menandatangani surat yang mengatakan kamu harus membayar 50 juta dalam jangka waktu tertentu. Nah, itu yang bahaya. Itu bukan beasiswa namanya, tapi student loan. Kamu harus hati-hati jika menghadapi hal yang seperti ini. Meskipun kayaknya lunak banget karena nggak adabunganya, tapi tetep aja kamu akan merasa tertipu dengan adanya hal demikian. Oleh karena itu, sebelum kamu nerima atau melamar beasiswa, kamu juga harus lihat, tanya tanya, buka semua lini informasi agar kamu nggak jatuh kedalam lubang. Ok?

Ridiculously Wise

Suatu hari teman saya berkata, ketika kami berdiskusi mengenai tantangan dalam hidup manusia,

"Hidup itu kayak pemerkosaan, kalau nggak bisa ngelawan, nikmati aja"

Perkataan tersebut sungguh sangat bijak dan lucu. Ketika aku sedih, ingat kata-kata yang dia ungkapkan dan aku selalu menyunggingkan senyum.

16 Juli 2013

Wondering


Here I come again, talking about university enrollment and how hard it is to get cheap but high quality education in Indonesia. If you were student like me, I think you can imagine my miserable life in this case.
I was born in farmer family, and for 14 years I always happy. Because, whatever season, I can easily eat. I don’t think about fashion, higher education, and anything related about the future. Simply, I enjoy my life at that time.
When I grown up, I start to feel worry about my look. Why there is acnes in my face? Why I am like this, why I can be like that? You know how it goes, I start to seek who really I am. What was my thing and what was not. Another anxious looks added to my face and became burdened in my thought, higher education.
At first, getting quality education is easy. Just get yourself in to favorite school, and you have granted that you will get the favorite university and plus scholarship. But I was wrong all a long (or it is about the wrong system rooted in Indonesian education, I don’t know). Although I was accepted in the best senior high school, it didn’t grant me the favorite university at my hand. In fact, I failed and now I wonder where I should go when the admission fee haunted me.
I never think that my family is poor. However, after I graduated high school and have difficulties in paying the high admission fee set up by the university make me realize that my plan to get higher education threatened.  This is only the admission fee, how about the tuition fee, living cost, and additional cost for something? Do I have money to pay it? The answer is NO, I don’t.
Actually when I took my university test last month, I believe that I can get Bidik Misi Scholarship, therefore I can get free tuition fee and living cost. That only chance is failed and now I am confused where to go and what should I do to overcome this situation. I am anxious all the time.
The positive thing is, I still have a chance left to get high education in UGM, since I sign up for PBUTM program, sort of program that give free tuition fee for student from middle and lower income family. I wish I could get this scholarship. If not, I don’t know what to do and where to go.
So please, God Almighty, let me accepted in UGM through this PBUTM way. I need it. Really need this scholarship to save my future so I can help others to believe in Your power.

15 Juli 2013

Ke Malang

Pergi ke Malang ambil ijazah dan SKHUN, bertemu dengan banyak teman.

12 Juli 2013

Learn to Fly; A short story


Learn to Fly
by M A Manaf

Raffi menatap datar layar komputer yang ada di depannya. Dadanya dag dig dug. Bahkan sejak tadi pagi ketika temannya mengatakan bahwa sore kemarin pengumuman SBMPTN usdah ada. Sekarang dia ada di warnet favoritnya mengecek nasibnya lewat jaringan computer. Tangannya yang dari tadi gemetaran memegang mouse langsung berhenti lemas melihat tulisan yang tertera di layar komputer itu. Tulisannya simple, tidak aneh-aneh. Hitam bold yang tertulis secara kapital dengan background warna putih. Seakan mengatakan kalau pernyataan ini absolut, dan ketika dia benar-benar menelan kata-kata itu, hampa tak berasa, dia bisa mendengar jantungnya berdegup tak karuan, dadanya panas dan kemudian boom! Hampa. Tak berasa apa-apa.
ANDA TIDAK LOLOS SBMPTN
Sembari membaca tulisan itu berkali-kali dengan rasa tak percaya, hatinya panas, terasa aneh, seperti ada yang memeras dan memanaskannya sekaligus. Itu hanyalah adrenalin, pikirnya. Namun dia tahu jauh di dalam hati kecilnya dia tahu, itu adalah rasa ketika impiannya pecah berkeping-keping seperti kaca yang hancur.
“Tak mungkin”, bisiknya tak percaya.
Dia menarik nafas dengan pelan, ayo tenangkan diri, atur nafas, ini pasti ada kesalahan, aku pasti lolos kok, ini pasti error. “UUhhh…huuuuhhh”, dia hanya mendengar suara nafasnya di telinganya, meski kenyataannya penghuni warnet disekelilingnya ramai berbincang dan bermain game.
Dia memutuskan untuk membuka facebook dan e-mail untuk mencari hiburan. Ayolah, kalau error pasti beberapa menit lagi akan ada perbaikan. Di facebook dia melihat status teman-temannya yang diterima di universitas pilihan mereka. Ada mengucap Alhamdulillah, ada yang berucap Puji Tuhan, Thank God, berbagai macam bentuk syukur yang ditujukan pada yang Maha Kuasa. Tapi aku sedang tidak bersyukur. Raffi melihat-lihat grup sekolahnya, mencari-cari teman-teman senasib. Jari-jarinya bergerak lincah menggenggam mouse computer dan suara klik klik klik terdengar di kepalanya. Seperti dengan membuka banyak tab sekaligus bisa menghilangkan rasa aneh yang ada di dadanya.
“Wah, ada satu teman senasib!”, gumamnya. Entah kenapa rasa aneh yang ada didadanya sedikit berkurang. Dia langsung melihat profil temannya. Tulisan galau dan sok filosofis terbaca olehnya.
Bukankah biasanya yang kuat yang mendapat cobaan? Toh Tuhan pasti akan memberikan penyelesaian kan?
Dia membaca tulisannya dan mengklik, like di status itu. Dalam hati dia tersenyum sinis, betapa manusia mencari sokongan semangat dari kata-kata yang mungkin dia sendiri belum terlalu paham apa artinya. Pasti dia Cuma sok tabah, mungkin sekarang dia lagi di depan computer nangis. Munafik! Mungkin dia tidak akan menulis seperti itu jika dia sudah bekerja keras seperti Raffi. Setidaknya jika dia tahu bagaimana aku mengikuti bimbingan belajar dan menelan soal-soal SBMPTN seperti snack, pikir Raffi sarkastik.
Raffi kemudian ingat dengan hipotesis hasil error milik akunnya. Cepat-cepat dia mengetik lagi alamatnya dengan berdoa semoga apa yang dia prediksikan betul. Kemudian dia memasukkan nomor miliknya pelan-pelan, sambil lirih berdoa. Tangannya gemetar lagi. 1-3-1-5-5-0-5-4-7-3, kemudian memasukkan tanggal-bulan-tahun yang sangat akrab dengan dia akhir-akhir ini gara-gara keseringan mengisis formulir untuk kuliah.
Dia menarik nafas lagi, tangan kirinya di dada dan dia menghadap keatas seperti meminta petunjuk. Tangan kanannya yang tiba-tiba gemetar memegang mouse mengklik kolom dengan tulisan Lihat Hasil.
Dia memejamkan mata dan dalam detik ini dia merasa bodoh sekali berharap kejaiban terjadi. Peluangnya mungkin satu banding sejuta, bodoh!. Namun rasa penasarannya menang. Dia menatap layar komputernya penuh harap, matanya yang tadi bercahaya dengan harapan mati seketika ketika dia melihat tulisan yang sama yang menimbulkan rasa seperti terbakar dan diperas sekaligus pada hatinya.
ANDA TIDAK LOLOS SBMPTN.
***
Dalam perjalanan pulang dia masih belum percaya dengan apa yang menimpa dia. Ini pasti kesalahan, Dia selalu mendapat PG tinggi yang seharusnya bisa menjebol pilihan pertamanya. Ini bahkan pilihan kedua dan ketiga tidak ada yang masuk. What the hell!, dengan umpatan itu dia menendang kerikil di depannya, seketika kerikil itu meloncat jauh, melambung dan menuju arus kendaraan di jalan yang Ia lalui. Seorang pengendara sepeda motor menatapnya garang dan berucap tanpa suara yang Raffi tangkap sebagai makian. Raffi hanya melihat pengendara sepeda motor itu dengan muka datar dan mata menatap tajam, seakan mengatakan peduli apa?
***
Sesampainya di rumah, Raffi langsung menuju dapur mencari air minum. Sebelum dia sampai di depan kulkas, ibunya datang. Wanita paruh baya tersebut tersenyum dengan ramah menatap Raffi, tangannya sibuk mengaduk sesuatu yang berbau sedap. Dia berharap dengan membuka pengumuman SBMPTN nya di warnet dia masih ada waktu untuk menyiapkan jawaban jika ada hal buruk terjadi, meski jaringan internet di rumahnya ada 24 jam.
“Gimana Nak, pengumumannya?”
Tak siap dengan pertanyaan Ibunya, Raffi membuka kulkas dan mengambil air minum sambil menjawab, “Nggak lolos Ma”, dibukanya tutup botol jus jeruk kemudian diminumnya dengan pelan tanpa menatap Ibunya.
“Maksud kamu?”, Ibunya masih belum paham.
“Ya, nggak lolos Ma. Aku nggak masuk kedokteran”, jawab Raffi setengah hati.
“Tapi kamu masuk dipilahan dua kan?”, Ibunya bertanya penuh harap. Sejenak dia berhenti mengaduk sup. Apinya dia kecilkan.
Raffi menutup botol jus jeruk dan memain-mainkannya, “Nggak Ma, nggak ada universitas yang nerima aku lewat SBMPTN ini”, Raffi berhenti sejenak, “Maaf Ma”. Shit! Kenapa mata gue berair,Shit!
Ibunya yang melihat Raffi menekuk kepala dengan sedih menuju Raffi yang sekarang duduk di kursi meja makan. Ibunya dengan pelan menaruh tangannya di pundak Raffi.
“Jangan sedih Raffi, kalau kamu nggak bisa masuk kedokteran, berarti memang sulit seleksi masuknya”. Mendengar kata-kata Ibunya yang penuh dengan rasa pemahaman entah kenapa membuat Raffi tambah melankolis. Dengan gaya sewajar mungkin dia mengucek matanya, gue gak boleh nangis, Damn!.
Dengan pelan, Raffi balik badan menghadap Ibunya, “Ma, entar gimana ngomong ke Ayah?”, dia bertanya dengan pelan. Dia melihat Ibunya menggigit bibir dan matanya menerawang.
“Nanti saja dibahas, toh Ayahmu belum pulang kerja kan?”, Ibunya berkata dengan meyakinkan, “Sudah, gak usah nangis, sekarang cari adik kamu Mia di rumah tetangga, mungkin di rumah temen kamu Naufal. Sekarang adiknya sama adik kamu geng. Ajak pulang, karena makan siang udah siap”, Ibunya tersenyum sambil kembali menuju kesibukannya.
“Ma, Raffi gak nangis. Ini cuma kena debu SBMPTN”, Raffi membantah sambil berjalan pergi ke luar lagi. Entah kenapa memikirkan percakapannya dengan Ibunya membuat dia tersenyum.
***
“Assalamu’alaikum…”, Raffi sekarang berdiri di depan pintu rumah sahabat SMP nya. Dari pintu dia bisa mendengar suara cempreng adiknya bermain dengan anak lain, dia juga mendengar suara televisi yang sepertinya menayangkan film anak-anak. Sambil mencuri dengar, dia mendengar suara langkah kaki bergegas menuju pintu.
“Waalaikum salam…”, Ucap seorang cowok sebaya Raffi, “Eh Raffi, gimana bro SBMPTN kamu?”, ucap Naufal sambil mengulurkan tangan, menjabat tangan Raffi.
Tak siap dengan serbuan pertanyaan, dia berusaha menjawab dengan gaya sebiasa mungkin.
“Gak masuk tuh. Gagal”, ucap dia sembari menyunggingkan bibir yang menyerupai senyuman, “Kamu gimana?”, Raffi balas bertanya sambil mengikuti Naufal duduk di ruang tamu.
“Yah, “, dia mendengar Naufal mendengus, “Sama nggak lolosnya”.
Mendengar ucapan Naufal  membuat Raffi terkejut sendiri. Ternyata dia tidak sendirian menghadapi beban kegagalan SBMPTN. Sahabatnya juga bernasib sama, dan mungkin ribuan pelajar sekarang juga menghadapi situasi yang sama. Memikirkan itu membuat rasa sakit di dadanya berkurang.
“Kok bisa?”, tanya Raffi.
“Nggak tahu juga, mungkin gara-gara ngambilnya terlalu tinggi kali ya, jadi nggak bisa masuk,” Raffi mendengar Naufal mendengus lagi dan menjelaskan, “Atau kalah doa sama anak-anak lain”, Naufal tersenyum sambil membenahi kacamatanya.
“Emang  kamu milih apa aja?”, Tanya Raffi yang sekarang menghadapi Naufal dengan serius.
“FTTM ITB, FTMD ITB, sama Teknik Geologi ITS. Dari ketiga itu nggak ada yang masuk, padahal aku yakin banget setidaknya bisa masuk ITS, tapi ya nggak tahu lagi”, Naufal mengangkat bahu kemudian melanjutkan, “sedih sih gagal SBMPTN, tapi hidup nggak berhenti gara-gara SBMPTN kan?”, Naufal menambahkan secara retoris sambil tersenyum. Wajahnya tenang, matanya cerah. Raffi tak habis pikir bagaimana Nufal bisa menghadapi kenyataan ini dengan sikap yang tenang.
“Tapi kalau gagal SBMPTN ini kan, gimaan ya, malu banget men, apa kata temenku yang lain? Bukannya Raffi siswa teladan ya? Kok nggak bisa masuk SBMPTN sih?”, ucap Raffi menirukan celotehan yang mungkin akan muncul ketika semua temannya tahu Raffi nggak lolos SBMPTN.
Naufal membenahi kacamatanya dan berkata, “Emang aku juga nggak digituin?”, sejenak dia menatap Raffi sambil menaikkan salah satu alisnya, kemudian dia melanjutkan, “Kayak gitu lumrah kok sebenarnya, semua orang pasti bertanya-tanya penasaran kenapa kita yang dianggap bisa malah nggak lolos. SBMPTN itu yang ikut jutaan, yang diterima berapa, cuma seratus ribu berapa kan? Selain pake otak, pake doa juga. Bener mungkin kita termasuk pintar, otak kita encer, tapi doa kita? Hubungan kita sama Tuhan? Siapa yang tahu? Temen-temen kita yang mungkin kita anggap biasa tapi bisa masuk SBMPTN kan juga piihannya beda sama kamu yang kedokteran atau aku yang FTTM ITB. Saiangannya ketat…! Lumrah lah kalau nggak lolos”, Naufal tersenyum diakhir ucapannya yang seperti khotbah menurut Raffi.
Raffi berpikir sebentar mendengar khotbah Naufal. Membenarkan poin-poin yang diucapkan sambil menganggukkan kepala tanda setuju meski dia masih belum percaya kok bisa dia tidak diterima,”Terus langkah kita selanjutnya gimana? Aku denger kan ITB nggak nerima mahasiswa diluar jalur undangan sama SBMPTN kan?”, Raffi bertanya kepada Naufal.
Mendengar pertanyaan itu, Naufal menjawab dengan tersenyum, “Emang sih. Kecewa mendengar kalau ITB nggak nerima mahasiswa diluar kedua jalur tersebut. Tapi ya mau gimana lagi”, ucap Naufal pasrah, “Mungkin aku akan ngambil di ITS yang masih ada hubungannya dengan pertambangan, belajar lebih giat agar menonjol, terus bisa dapat beasiswa S2 diluar negeri. Bagi kita yang kata kamu pinter ini”, Naufal menekankan kata pinter seperti mengejek “Kita malah ada banyak kesempatan untuk menonjol dan mendapatkan beasiswa. Kalau aku di ITB misalnya, saingannya banyak banget. Pasti pinter-pinter. Kesempatan agar menonjol juga berkurang kan?”, Lagi-lagi Naufal mengeluarkan argumen yang masuk akal.
“Bagi kamu yang pengen masuk kedokteran UI lewat SBMPTN, bener kamu emang nggak lolos. Tapi kamu ikus Simak UI dan Utul UGM kan? Doa terus agar bisa diterima. Terus masih ada juga alternatif universitas lain yang punya faklutas kedokteran yang bagus yang mungkin masih bisa nerima kamu kayak UNAIR sama UB. Apalagi uang kayaknya bukan masalah bagi keluarga kamu. Percaya deh Raf, dari semua temenku, kamu lah orang yang paling beruntung meski kamu nggak diterima lewat jalur SBMPTN”, ucapan Naufal kali ini menohok Raffi.
Sejak tadi setelah pengumuman dia selalu merasa kacau, kecewa. Namun setelah mendengar perkataan Naufal tadi, dia masih punya banyak kesempatan untuk mengambil kedokteran dibandingkan dengan anak lain, dan dia juga bisa lebih menonjol nantinya. Asyik, bisa berkesempatan menjadi mahasiswa teladan, pikir Raffi optimis.
“Terus ini ada juga”, Naufal melanjutkan lagi, “Kamu atau kita ini lebih beruntung dibandingkan temen-temen yang tertarik dengan jurusan yang cuma ada di universitas tertentu saja, nggak ada yang lain. Contohnya adalah SITH-Rekayasa ITB. Jurusan bioengineering itu cuma ada di ITB doang. Nggak ada di universitas lain. Temenku ada yang kayak gitu. Dia suka banget dengan bioengineering dan dia juga udah optimis bisa diterima soalnya nilainya dia kalau TO SBMPTN itu pasti tinggi, bisa masuk jurusan itu. Ternyata, dia nggak masuk. Bandingin dengan kamu, kayaknya dia sudah terobsesi dengan SITH-Rekayasa ITB. Nah, sekarang dia bingung sendiri gimana nanti kuliahnya. Percaya deh, kamu lebih beruntung”, Naufal menyimpulkan dengan meyakinkan.
Raffi kembali tertohok, “Thanks ya udah bikin aku lebih baik”, Raffi berusaha tersenyum terus dia ingat tujuan dia kesini, “Aku mau jemput Mia dulu, tadi Mama udah nyuruh aku buat jemput dia”, Raffi berkata sambil berdiri.
“Oh ya, aku juga lupa”, Naufal tersenyum, “Eh, besok kalau kamu mau riset universitas bareng aku kesini aja atau aku ke rumah kamu, gimana? Toh aku juga udah lama banget nggak ke rumah kamu”, Naufal berkata sambil mengantarkan Raffi ke ruang keluarga untuk menjempt adiknya.
Sambil berjalan pulang, Raffi berfikir mengenai perkataan Naufal tadi. Betapa egois nya dia berfikir bahwa dia adalah orang yang paling kecewa dan paling tidak beruntung, padahal sekarang teman-temannya pasti banyak juga yang mengalami hal yang sama. Raffi mengingat bahwa dari kecil dia belum pernah merasakan rasanya tidak bisa mendapatkan sekolah favoritnya. Dari SD hingga SMA dia selalu diterima di sekolah idamannya, mungkin sekarang saatnya roda harus berputar. Dia harus bisa merasakan bagaimana deseperate nya anak yang belum mendapat sekolah agar dia bisa lebih rendah hati dan memiliki mental yang kuat. Toh, dia masih punya Simak UI dan Utul UGM. Raffi tiba-tiba tersenyum, dia masih punya harapan untuk masuk fakultas kedokteran. Pengalaman ini akan membuatnya untuk belajar terbang. Bukankah kalau kita ingin terbang kita harus menjejak tanah dahulu, susah dahulu, jatuh, baru kita bisa membentangkan sayap dan terbang diangkasa. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang familiar tapi dia tidak bisa mengungat apa itu, kayaknya ada hubungannya dengan lagu.
“Mia, hati-hati!”, Raffi menggandeng tangan adiknya pulang.
***
Raffi duduk dengan deg-degan waktu makan malam. Dari tadi dia berusaha agar tidak menatap wajah Ayahnya yang sedari tadi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dengan pelan dia makan sambil berfikir bagaimana mengatakan kegagalan SBMPTN kepada Ayahnya.  Sebelum dia mengatakan sesuatu, Ayahnya sudah bertanya,
“Raffi, gimana SBMPTN kamu Nak?”, Ayahnya melihatnya dengan tajam dari kacamatanya. Sekilas seperti ada kilatan cahaya di kacamata Ayahnya, membuat wajahnya yang impassive tambah membuat Raffi takut.
“Hmm, itu Yah, Raffi nggak lulus SBMPTN”, Raffi hanya menatap makanannya yang tinggal setengah sambil berdoa. Suasana hening, Mia yang biasanya ramai waktu makan dengan denting piring tak biasanya tenang.
“Raffi jangan dimarahi ya Pa, kasihan dia”, Mamanya ikut nimbrung, berusaha agar Raffi tidak kena amuk, “Dia sudah berusaha kok”, Mamanya menambahkan.
“Mungkin tak cukup berusaha”, Ayahnya berkata tajam, “Kamu tahu kan Ayah berharap kalau kamu itu bisa jadi dokter kayak Ayah. Kamu juga sudah setuju kalau kamu ambil kedokteran. Ayah punya harapan besar agar kamu yang katanya pintar ini bisa mengambil kedokteran. Ini sudah tradisi di keluarga kita, Kakek kamu juga dokter, Ayah juga dokter”, Ayahnya berhenti mengambil nafas secara berat, “Tetapi sepertinya kamu mengecewakan Ayah lagi”,
Raffi hanya diam. Matanya tak lepas dari makanannya yang tinggal setengah tak tersentuh. Hatinya yang hampir sembuh sakit lagi mendengar perkataan Ayahnya.
“Ayah sudah memaafkan kamu yang hanya bisa meraih peringkat tiga nilai tertinggi UNAS kemarin, kamu harusnya bisa membuat Ayah bangga di SBMPTN ini. Kamu kan sudah Ayah daftarkan les untuk SBMPTN, kamu nggak serius ya?”, sejenak Ayah Raffi berhenti, “Jawab Raffi”, Ayahnya sekarang memandang Raffi meminta penjelasan.
Entah kenapa kata-kata ayahnya yang diutarakan secara pelan-pelan malah membuat Raffi semakin takut.
“Raffi serius kok Yah”, Sejenak Raffi memandang ibunya meminta dukungan kemudian kembali memandang Ayahnya, “Setiap  try out Raffi lolos, tapi nggak tahu kenapa waktu SBMPTN kemarin nggak lolos. Banyak juga kok teman Raffi yang nggak lolos ujian masuk tahun ini”, Raffi berhenti sebentar terus melanjutkan dengan pelan sambil menunduk lagi, “Mungkin sudah takdirnya”.
“Ayah nggak mau tahu alasannya. Kamu harus bisa masuk kedokteran, atau kamu ingin masuk jurusan lain?”
“Nggak Yah, Raffi tetap ingin masuk fakultas kedokteran”, Raffi kembali memandang Ayahnya. Raffi sudah jatuh cinta dengan kedokteran. Jangan sampai Ayahnya berfikir bahwa dia sudah pindah minat.
“Oh begitu”, Ayahnya hanya menanggapi datar. Kemudian Ayah Raffi berpaling untuk berbicara dengan istrinya dan anaknya yang tidak didengar oleh Raffi. Dalam otak Raffi hanya terngiang perkataan Ayahnya tadi.
Raffi memutuskan untuk melanjutkan makanannya dengan cepat dan segera kembali ke kamar. Ketika dia melangkah pergi, dia mendengar Ayah dan Ibunya berdiskusi mengenai langkah yang harus diambil untuk membantu Raffi melanjutkan kuliah. Sejenak dia berusaha menguping dibalik tembok. Dia mendengar perkataan mengenai mandiri, uang perkuliahan, dan kesediaan Ayahnya untuk membiayai perkuliahan Raffi di fakultas kedokteran. Mendengar ini dia tersenyum dan bersyukur. Setidaknya dia masih bisa bersekolah meski lewat jalur mandiri, meski mahal tapi keluarganya masih mampu. Lagi-lagi, rasa sakit di dadanya berkurang. Kemudian dia pergi menuju kamar dengan perasaan lebih lega. Ternyata kemarahan Ayahnya tidak semengerikan yang dia bayangkan, meski tadi cukup dingin.
***
Pagi harinya dia bangun telat, ketika dia melihat jam kamarnya, dia melihat sekarang sudah pukul 8 pagi. Sambil duduk di kasur dan mengucek mata, pikirannya langsung berputar ke saat sahur bersama keluarganya diwarnai dengan pernyataan ayahnya yang mendukung Raffi bila dia mengambil jalur mandiri kedokteran, ayahnya juga berkata bahwa dia akan mendoakan Simak UI dan Utul UGM Raffi bisa sukses. Mengingat itu dia tersenyum dengan lega. Dia bangun dan berkaca, dia baru sadar kalau dia masih memakai baju koko yang dia pakai sholat shubuh tadi.
Dia mengecek HP nya, ada sms dari Naufal yang mengajak browsing bareng mengenai jalur-jalur mandiri universitas di rumahnya pukul 10 nanti. Raffi sekarang menyalakan music player di HP nya, dia hubungkan dengan speaker dan dia mulia beres-beres kamar. Ketika dia menuju kamar mandi kamarnya, dia mendengar lagu yang agak asing di HP nya. Sejenak dia berhenti. Oh, lagu baru yang dia dapat dua hari sebelum tanggal 8 kemarin dari radio.
Sambil mandi, dia ikut bernyanyi mengikuti lagu oleh Shannon Noll,
When you feel the dream is over,
Feel the world is on your shoulders,
and you've lost the strength to carry on.
Even though the walls may crumble,
And you find you always stumble through,
Remember never to surrender to the dark.
Cos if you turn another page,
You will see that's not the way, The story has to end.

If you need to find a way back,
Feel you're on the wrong track,
Give it time, Learn to fly,
Tomorrow is a new day,
You will find you're own way,
You'll be stronger with each day that you cry,
Then you'll learn to fly.

Sungguh aneh, batin Raffi. Kenapa tepat sebelum dia mengetahui pengumuman SBMPTN dia sudah memiliki obat untuk mengatasi galau hatinya itu. Learn to Fly, seperti yang dikatakan Naufal kemarin. Dia harus belajar untuk menerima kenyataan dengan hati lapang. Yang lalu adalah pelajaran yang berharga. Dengan ditolaknya dia lewat jalur SBMPTN ini akan mengajarkan Raffi untuk bersyukur dengan apa yang dia miliki dan berjuang dengan keras untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia mengingat perkataan ayahnya saat sahur tadi, dan dia tersenyum.

Looking at your situation,
There's so much that you can do,
Now's the time to make your stand.
This is just an observation,
In the end it's up to you,
The future's in your hands.*

*Learn to Fly, song by Shannon Noll

11 Juli 2013

Learn to Fly, by Shannon Noll

Learn to Fly



When you feel the dream is over,
Feel the world is on your shoulders,
and you've lost the strength to carry on.
Even though the walls may crumble,
And you find you always stumble through,
Remember never to surrender to the dark.
Cos if you turn another page,
You will see that's not the way, The story has to end.

[CHORUS:]
If you need to find a way back,
Feel you're on the wrong track,
Give it time, Learn to fly,
Tomorrow is a new day,
You will find you're own way,
You'll be stronger with each day that you cry,
Then you'll learn to fly.
In you're head so many questions, 
The truth is your possession,
The answer lies within your heart.
You will see the doors are open,
If you only dare to hope and you,
Will find the way to fight the fears that kept you down.
Cos if you turn another page,
You will see that's not the way,
The story has to end.

[CHORUS]

Looking at your situation,
There's so much that you can do,
Now's the time to make your stand.
This is just an observation,
In the end it's up to you, 
The future's in your hands.

[CHORUS]


http://www.azlyrics.com/lyrics/shannonnoll/learntofly.html

09 Juli 2013

Berjuang Lagi


Broken Glass


It just like the worst dream come to life!.

I did not passed my SBMPTN. It hurts actually.
Really hurts.

How do you feel when your dream broken to pieces like a mirror glass being crush?
This is how I feel right now. Still hurts.



Although this is hurts and my heart like give a an ache, I will not give up. If I can't have a career in science, and if tried and failed failed again, I think I should take another, but still related to my concern. Biotechnology.

07 Juli 2013

Annabel Lee


Annabel Lee
BY EDGAR ALLAN POE


It was many and many a year ago,
   In a kingdom by the sea,
That a maiden there lived whom you may know
   By the name of Annabel Lee;
And this maiden she lived with no other thought
   Than to love and be loved by me.

I was a child and she was a child,
   In this kingdom by the sea,
But we loved with a love that was more than love—
   I and my Annabel Lee—
With a love that the wing├Ęd seraphs of Heaven
   Coveted her and me.

And this was the reason that, long ago,
   In this kingdom by the sea,
A wind blew out of a cloud, chilling
   My beautiful Annabel Lee;
So that her highborn kinsmen came
   And bore her away from me,
To shut her up in a sepulchre
   In this kingdom by the sea.

The angels, not half so happy in Heaven,
   Went envying her and me—
Yes!—that was the reason (as all men know,
   In this kingdom by the sea)
That the wind came out of the cloud by night,
   Chilling and killing my Annabel Lee.

But our love it was stronger by far than the love
   Of those who were older than we—
   Of many far wiser than we—
And neither the angels in Heaven above
   Nor the demons down under the sea
Can ever dissever my soul from the soul
   Of the beautiful Annabel Lee;

For the moon never beams, without bringing me dreams
   Of the beautiful Annabel Lee;
And the stars never rise, but I feel the bright eyes
   Of the beautiful Annabel Lee;
And so, all the night-tide, I lie down by the side
   Of my darling—my darling—my life and my bride,
   In her sepulchre there by the sea—
   In her tomb by the sounding sea.


Reading this poem really make me sad. It's really so sweet and I don't know, I just want to cry because of this poem.

03 Juli 2013

3 Juli 2013; Pertemuan



Sungguh terasa `sangat menyenangkan bisa bertemu dengan teman lama. Menatap wajah wajah yang terasa familiar namun siapa sangka ternyata telah berubah berbalut dengan kedewasaan  seiring dengan waktu berlalu. Namun dibalik balutan kedewasaan itu, aku masih menemukan eskpresi yang sama pada teman-teman 9A MTsN Kediri 2.
Teman-teman 9-A dari junior high ku dulu merupakan teman-teman yang ideal untuk diajak hang out. Selain mereka seru, bersama mereka terasa sangat ‘normal’. Meski lama tidak bertemu, ketika bertemu kita pasti ada bahan pembicaraan dan waktu yang memisahkan kita pun ternyata tak terasa.
Pada tanggal 3 Juli ini aku juga merasakan yang sama. Melihat teman-teman MTsN Kediri 2 yang sekarang sudah tumbuh menuju kedewasaan membangunkanku akan ingatan waktu dulu di MTs. Masa-masa itu merupakan mas-masa yang menarik dan indah. Seperti kami itu saling memiliki, memang ada twist and turns, namun itu semua berharga sebagai pembelajaran.
Hari ini berkumpul di rumah teman baikku, Rofiq, dekat dengan SLG (Monumen Simpang Lima Gumul, monument yang meniru Arc de Triomphe Paris). Bersama dengan teman-teman yang lain yakni Ziyda, Ivan, Widi, Aulia, Adin, Rinda, Linda, Alfi, dan Ema. Meskipun hanya seidkit yang datang, namun tetap seru sekali kumpul-kumpul ini. Dengan semangat kami membahas SBMPTN kemarin, semoga bisa berhasil dengan maksimal, terus gossip-gosip hangat seputar alumni 9-A, dan masih banyak lagi.
Padahal, sebenarnya agenda kami adalah untuk membahasa mengenai rencana community service dengan menyumbangkan pakaian dan juga buku-buku untuk orang yang  membutuhkan, buka bersama, dan juga syafari syawal (sillaturahmi dengan guru). namun ternyata setelah debat panjang, obrolan yang tak jelas dan berbagia macam gangguan lain, kami terpaksa membatalkan community service karena kami belum tahu mau dibawa kemana barang-barang yang akan terkumpul nantinya. Barang-barang kami kebanyakan untuk persiapan SMA. Mencari panti asuhan yang memiliki anak didik SMA itu ternyata susah, akhirnya ide itu kami hilangkan.
Tinggallah ide buka bersama dan sassya. Ternyata dua ide ini lebih mudah untuk dilaksanakan karena kami sudah pernah dan terbiasa melakukannya. Kami akan melakukkan buka bersma apada tanggal 31 Juli 2013. Sedangkan untuk Sassya kami akan merencanakannya pada tanggal 12 atau 13 Juli 2013. Aku harap dua rencana ini bisa berhasil.
Setelah diskusi itu kami masih meneruskan obrolan yang heboh dan diteruskan makan-makan. Brownies buatan Ibunya Rofiq sangat enak sekali. Aku tak tahu bagaimana resepnya, namun persis sekali rasanya dengan brownies Amanda, yang merupakan brownies favoritku. Setelah sholat dhuhur masing-masing dari kami pamit dan pertemuan hari ini merupakan pertemuan yang menyenangkan.