01 Mei 2013

Alas Kaki dan Korupsi


ALAS KAKI?

Sebagai seorang siswa yang hidup di asrama, berapa kali anda kehilangan alas kaki anda? Berapa kali pula anda meminjam alas kaki tanpa izin dari pemiliknya? Jujur saja, saya pernah kehilangan dan ‘ghasab’ alas kaki, begitu pula mungkin juga dengan anda.
Meskipun demikian, pengalaman yang paling menampar saya adalah ketika saya kehilangan sepatu saya tepat ketika saya butuhkan.
Pagi itu seperti biasa saya duduk di depan laptop saya, memelototi adegan Great Ninja War pada manga terkenal dari Jepang, Naruto. Saat itu sekitar pukul tujuh pagi pada Rabu pagi yang cerah, saya bru dari toilet ketika saya menyadari ada yang aneh. Rak sepatu saya longgar. Ada sepatu saya yang diambil oleh  siswa lain. Parahnya, dia mengambilnya dari rak sepatu saya sendiri, yang ada tulisan nama saya. Melihat kenyataan tersebut, saya langsung naik darah. Bisa-bisanya ada anak yang tidak menghargai kepemilikan orang lain.
Saya langsung bergerak cepat. Melihat ke kanan ke kiri. Sepi. Kecil kemungkinannya kalau pelakunya kelas 12. Kemungkinan besar pasti adalah siswa yang masuk pagi dan se-blok dengan saya. Jadwal ibadah saya pagi itu rusak karena kemarahan yang terpendam. Sakit rasanya melihat milik kita diambil oleh orang lain. Bukan begitu?
Untung saja saya bukan orang yang suka bicara kotor. Kalau tidak, pasti kertas putih pun akan berwarna hitam karena saya. Saya hanya tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang anak beasiswa yang dipercaya memiliki perilaku yang baik ternyata bertindak seperti itu. Bukankah dia bisa membaca? Untuk apa “otak” nya kalau tidak digunakan untuk mencerna tulisan nama saya yang tertampang dengan jelas di rak sepatu saya? Pagi itu rasanya seperti ada awan hitam menggelantung di depan mata saya, petir menyambar-nyambar mencari pelampiasan. (Parahnya lagi, sampai tulisan ini ditulis “Si Pengambil” tidak juga mengembalikan sepatu saya ke tempat yang seharusnya).
Saya segera menyiapkan strategi ketika untuk mendapatkan sepatu saya kembali. Saya menulis pengumuman kecil di pintu kamar-kamar se-blok dengan saya, dengan harapan mereka akan membantu untuk menemukan sepatu saya, meski saya agak sangsi karena sepatu saya tidak berindentitas. Saya juga menyiapkan kata-kata jika nanti bertemu dengan “Si Pengambil”, mulai dari berteriak di depan muka nya, mencoba pura-pura akan mengancamnya, atau menyerahkannya kepada Kepala Asrama agar dihukum sesuai perbuatannya. Namun sampai sore hari, tidak ada yang muncul. Semua persiapan saya menguap, dan sepatu saya tetap berkelana entah dimana.
Saya menyadari, saya juga pernah memakai sandal tanpa ijin. Bukannya bermaksud untuk membela diri atau bagaimana, namun sandal tersebut tergeletak begitu saja, toh saya juga mengembalikannya ke tempat semula. Saya yakin, Anda pun demikian juga.  Bahkan, ada banyak anak yang rela “nyeker” dibandingkan memakai alas kaki yang bukan miliknya.
Ketika saya berpikir lebih jauh mengenai hal ini, saya jadi teringat dengan korupsi. Sebagai negara terkorup, kesempatan perubahan hanya ada ditangan generasi sekarang ini. Jika dari kecil kita sudah tidak merasa bersalah mengambil atau memakai hak orang lain, bagaimana nantinya. Jika kita sudah terbiasa mengambil hak orang lain, katakanlah meskipun itu kecil, namun kalau lama kelamaan bukankah kita akan berani juga untuk mengambil hak orang yang lebih besar?
Semenjak kecil kita sudah terbiasa mengambil uang seribu rupiah dari Ibu kita tanpa sepengetahuannya. Ketika kita dewasa, bisa saja kita akan terbiasa mengambil satu juta, sepuluh juta, dari orang lain. Hal itu karena kita sudah terbiasa. Bukankah begitu?
Nah, tentu kita tidak ingin hal tersebut terjadi. Permasalahan kecil seperti alas kaki atau sepatu seperti ini janganlah muncul lagi. Mari kita saling menyadari kesalahan masing-masing dan menjadikannya pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Memang tak bisa dipungkiri, hidup satu atap dengan banyak orang yang dikonsep sebagai “family” memang sudah biasa bantu membantu. Bahkan ada yang bilang, satu untuk semua, semua untuk satu berkaitan dengan pemakaian property di asrama. Memang bantu membantu itu baik, namun ada etika dan tata cara, bukan dengan merampas hak orang lain.(naf)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,