30 Juli 2012

Menjadi Pendidik Tak Harus Tua


Menjadi Pendidik Tak Harus Tua
Oleh: Muhammad Abdul Manaf


Siapa bilang menjadi pendidik harus nunggu tua? Setiap orang bisa kok menjadi pendidik. Anak SMA pun bisa, setidaknya itulah yang dilakukan oleh SMA ku. Setiap hari Sabtu kami pergi ke SD, MI, TK, Panti Asuhan, yayasan anak jalanan, untuk melakukan kegiatan yang dinamakan Community Service. Disini kami belajar berkontribusi kepada masyarakat lain mengenai ilmu yang sudah kami dapat di sekolah. Sehingga kami nggak belajar teori doing, namun juga praktik.
Teman-teman yang mengikuti kegiatan ini pun banyak sekali, karena kelas 10 dan 11 di SMA ku wajib melakukan kegiatan ini. Selama dua tahun bertugas, aku selalu mengajar anak-anak SD. Satu dua kali mengajar di anak-anak jalanan. Kegiatan seperti ini akan kami jalani secara rutin setiap hari Sabtu. Sehingga jikalau hari Sabtu disekolah lain mereka masih aktif KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), kami sudah kelayapan di Kota Malang menuju tempat comserv.
Sungguh pengalaman yang sangat berharga dalam kegiatan seperti ini. Bagaimana tidak berharga, kapan lagi kami bisa mencicipi kegiatan menjadi guru jika tidak lewat tugas seperti ini? Apalagi kami tidak perlu mengurus ijin dan segala macam tetek bengek untuk melakukan kegiatan disekolah yang dimaksud. Kami cukup datang, melapor ke Kepala Sekolah sebentar dan tara… kami sudah boleh masuk kelas dan mengajari adek-adek SD atupun MI.
Kami mengajar mereka mengenai apa yang kami bisa. Bisa ditebak, kami mengajari mereka seni, bahasa inggris, environmental awareness, dan berbagai hal lain seperti pelajarn pokok sekolah. Jangan bilang kami tidak belajar dari mereka. Malah sebenarnya kamilah yang belajar dari adek-adek SD/MI. darimana lagi kalau bukan dari mereka kami merasakan stress nya guru menghadapi siswa yang rame di kelas, berantem sesama teman, nangis, nakal, usil, dan segala macam perilaku yang menguras emosi kami sebagai pendidik cilik.
Tetapi hal itulah yang membuat aku benar-benar belajar bagaimana susah dan tertantangnnya menjadi guru. Jika sebelum itu aku berfikir bahwa tugas guru itu enak karena Cuma berdiri didepan kelas dan mengajar pelajaran, ternyata dugaanku salah. Ternyata menjadi guru tidak cukup hanya dengan seperti itu. Menjadi guru itu harus punya kharisma dan wibawa agar murid-murid tersebut hormat kepada kita. Kita harus punya berates-ratus strategi agar murid-murid tersebut mau menuruti omongan kita. Mulai dari bujukan yang sangat halus, diberi janji permen, hingga menindak secara tegas. Itu semua perah kami lakukan untuk mengatasi masalah dalam kelas. Sungguh suatu pengalaman yang sangat nyata untuk menjadi seorag pendidik.
Jikalau dulu aku kepada guru kurang menaruh hormat dan cenderung meremehkan, aku mulai tambah respek kepada guru. bagaimana tidak? Aku sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi guru, diacuhkan oleh anak didik, dilecehkan, dihina, aku pernah merasakannya selama mengajar. Mulai dihina negro gara-gara kulit banyak melanin, hingga diolok-olok. Apalagi guru tersebut selain dianugerahi anak titipan dari banyak orang tua, mereka juga punya anak-anak sendiri di rumah yang harus diurus. Sehingga pekerjaan mejadi seorang pendidik itu harus siap fisik dan psikis.
Intinya, menjadi seorang guru itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun untuk menjadi seorang yang benar-benar guru dibutuhkan kesabaran dan pengalaman berinteraksi dan integritas yang tinggi untuk mengabdi kepada masyarakat.  Sehingga kenapa kok seorang guru itu diminta sudah bersekolah tinggi, hal tersebut agar mereka memenuhi kualifikasi yang ditetapkan sehingga tidak stress sendiri menghadapi murid seperti yang selalu kami dapatkan saat community service.(naf)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,