30 Juli 2012

Melabel Guru

Melabel Guru
Oleh Muhammad Abdul Manaf


Kapankah seseorang dianugehi gelar guru atau pendidik? Apakah ketika mereka sudah beruban dan mengajar di depan kelas? Apakah yang dimaksud pendidik itu adalah orang lulusan sarjana pendidikan? Ataukah yang dimaksud dengan pendidik itu adalah orang yang berdiri di depan kelas mengajar mengeja?
jikalau demikian, maka dengan apa kita sebut orang yang berjuang demi anak jalanan mengajarkan baca tulis itu? Dengan apa kita harus menyebut teman-teman kita yang merelakan waktunya mengajari kita kimia, fisika, matematika jika bukan dengan guru atau pendidik?
Bukankah pendidik berasal dari kata didik yang artinya sama dengan belajar? Tinggal ditambah awalan Pe- maka arti yang aslinya belajar menjadi pengajar. Maka jika ada yang menyatakan bahwa guru atau pendidik itu adalah selalu berkutat dengan sekolah, maka mereka salah. Guru atau pendidik merupakan orang yang mengajarkan kepada orang lain suatu ilmu. Itu adalah definisi yang bisa saya berikan. Sehingga setiap orang yang mengajari orang lain suatu ilmu berhak menyandang gelar guru.
Kakak kelas saya yang mengajari saya bermain biola boleh saya sebut sebagai guru saya. Teman sebangku saya yang mengajari saya kimia berhak menyandang gelar guru dalam dirinya karena jasanya sudah membantu saya menghadapi kebutaan ilmu. Saya dan Anda pun berhak mendapatkan gelar guru ketika kita sudah mengajari orang lain.
Namun pertanyaannya adalah, sepenting apakah gelar guru tersebut? Tidak terlalu penting amat kan? Orang suka mendapat gelar guru karena dengan demikian orang tersebut berarti dihormati karena gelar itu. Bandingka jika dia mendapatkan gelar petani, apa yang terjadi padanya? Bisa saja dia akan malu. Karena kalau boleh jujur, saya amati bahwa pekerjaan guru adalah pekerjaan yang tidak bisa dihina, namun juga tidak bisa dibangga-banggakan.
Bagaimana anda bisa membangga-banggakan gelar “guru” yang melekat pada anda jikalau anda sendiri belum sepenuhnya benar dalam mendidik anak orang?  Pekerjaan guru adalah pekerjaan jangka panjang. Tidak cukup 3 tahun saja sudah, tetapi guru harus bisa menanamkan ajarannya selama mungkin kepada sang murid. Jangan sampai katakanlah masa SMA habis, murid-murid mereka sudah melupkan ajaran mereka.
Pekerjaan guru juga tidak bisa dihina karena semua orang tahu betapa besar tanggung jawab yang dibebankan kepada guru. Taruhannya adalah masa depan siswanya. Jika guru sukses mengajar, murid bisa dipastikan sukses masa depannya. Jika tidak, mungkin si murid harus mencari guru lain agar bisa sukses. Karena korelasi antara guru dan murid dalam hal pengaruh sangat kuat. Jika ada guru yang mampu memberikan motivasi yang melekat kepada siswanya, maka siswa tersebut akan tergerak untuk melakukan hal-hal baik demi masa depan yang lebih baik. Namun jika tidak, sang siswa bisa-bisa hanya terjebak dalam kubangan zona nyaman yang makin lama makin hilang ditelan masa.
Sehingga ketika orang tersebut dianugerahi gelar guru, secara otomatis mereka juga akan dibebani tanggung jawab untuk membimbing si anak itu menuju sukses. Inilah yang berat, maka jangan heran ada juga seorang guru yang tidak mau dipanggil Pak Guru atau Bu Guru karena merasa belum layak untuk mendapatkan gelar tersebut. Tetapi lebih mengherankan lagi banyak orang yang ingin dipanggil atau secara kasar dilabeli sebagai guru. Buktinya setiap tahun yang mencalonkan diri jadi guru berjuta-juta.
Entah dipanggil guru atau bukan semua orang yang mengajari orang lain itu berhak mendapatkan gelar tersebut. Namun terserah orang tersebut mau menerima gelar guru atau tidak. Kalau mau, ya siap saja mendapatkan berbagai macam tanggung jawab. Asalkan, jangan ingin menjadi guru hanya karena terikat gaji dan label “guru” yang memberi kesan pahlawan tanpa tanda jasa. (naf)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,