24 Desember 2010

Mulung Sampah yok!

Yah, beginilah nasib kalau ingin menjadi seoang pemenang. Kita harus bersusah- suah dahulu., Betul nggak? Dan hal itulah yang terajdi padaku. Aku harus bersuasah- susah membawa sampah seberat 100 kg ke rumahku yang jaraknya 19 km. Aargh...
Aku membutuhkan sampah itu untuk membuat bioethanol. Aku berangkat kje pasar grosir ngronggo bersama temanku, Idoez untuk memulung sampah di sana. Tapi aku yakin, tak ada pemulung sekeren gw (narsis..). Kami bener- bener kayak orang hilang. Memungut sampah organik dimanapun berada.
parahnya lagi, Idoez ada acara pukul 08.30, jadi aku ditinggal sendiri di pasar sambil mencari sampah. huh, lelah... tapi emang terbayar sudah sih semuanya. aku dapet 100 kg sampah dan aku berbasah- basah dengan sampah. Karena ada sampah semangak dan melon yang busuk dan mengeluarkan abu tak sedap dan cairan.
Setelah itu, aku menunggu Idoez, lama... bbanget rasanya. aku udah bolak- balik sambil berdoa, doez, cepet balik berulang- ulang. Setelah rasanya cukup lama, Idoez bailk lagi tapi membwa temannya yang kutahu bernama Tina. kemudian, di izin untuk mengajak temannya Tina makan pangsit dulu. Aku nunggu lagi, lama... banget rasanya. Bahkan aku hampir nangis gara- gara takut nggak bisa ikut sholat jum'at.
Akhirnya Idoez dateng dan aku membawa sampah itu pulang. Motor Idoeza nggak kuat, bunyinya praks praks kayak ada seorang petani memangkas tebu. Ternyata sekoknya nggak kuat.
Setelah itu, aku dibantu Emak menghancurkan dan memeras sampah itu. Dan hanya menjadi 18 liter air perasan. lelah, dan itu harus difermentasi dulu selama 7 hari. huh, nunggu lama lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,