14 Oktober 2010

REMAJA DIKEPUNG KEBINGUNGAN

REMAJA DIKEPUNG KEBINGUNGAN
Oleh : Danang Tri Prastiyo



Melihat Realita
Berbagai bentuk penyimpangan, disadari maupun tidak telah menjadi warna dalam kehidupan sehari-hari negeri ini. Baik bentuk penyimpangan sosial, maupun moral. Semua merupakan konsekuensi dari derasnya arus globalisasi dan liberalisme yang telah menyentuh dan menyatu pada semua lini kehidupan. Tak pelak jika identitas bangsa mulai terkaburkan oleh hal tersebut. Korban globalisasi dan liberalisme yang nyata dan memprihatinkan adalah remaja. Berbagai bentuk tindakan remaja yang mengatas namakan sebuah kebebasan rasanya telah jauh kebablasan. Tidak sulit kita temui berbagai bentuk penyimpangan yang dilakukan remaja, mulai dari kasus anak SMA yang memperkosa temannya, mencuri uang orang tua, bahkan sampai yang melukan seks bebas dan bergelut dengan NAPZA.
Sangat memilukan memang jika kita melihat realita sekarang, sesungguhnya semua merupakan awal dari mulai mengaburnya esensi nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan generasi muda. Remaja sebagai generasi muda sungguh telah banyak yang meninggalkan nilai-nilai budaya Indonesia. Diakui maupun tidak generasi muda kita telah beralih acuan, acuan mereka adalah acuan yang mengatas namakan sebuah kebebasan dalam liberalisme. Kemana acuan negara kita?, apakah kita tidak mempunyai acuan hidup?. Acuan yang seharusnya dijadikan landasan para generasi muda dalam bertindak adalah Pancasila. Ideologi Pancasila sebagai suatu acuan yang disarikan dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Mencari idola Pancasila
Dengan pernyataan secara singkat bahwa nilai dasar Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Sejarah telah membuktikan bahwa nilai Pancasila merupakan sumber kekuatan bagi perjuangan bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila merupakan pengikat sekaligus pendorong dalam usaha menegakkan dan memperjuangkan kemerdekaan. Contohnya warga di Jakarta Timur melakukan pemilihan minyak tanah atau gas, pemilihan tersebut digelar layaknya pemilihan umum kepala daerah ( Radar Jogja, Senin 26 Juli 2010, hlm 4) hal ini jelas menjunjung nilai pancasila yaitu musyawarah mufakat untuk menentukan keputusan tertentu. Uraian tersebut memberikan bukti bahwa nilai-nilai Pancasila sesuai dengan kepribadian dan keinginan Bangsa Indonesia.
Sementara itu terjadinya perilaku menyimpang remaja serta lunturnya rasa hormat generasi muda terhadap generasi tua, merupakan indikasi menurunnya pemahaman dan pengalaman nilai-nilai budaya yang terumuskan dari Pancasila. Menyimak kondisi demikian, tidaklah bijaksana menumpukan kesalahan pada pemerintah, remaja ataupun pihak-pihak terkait. Lebih bijaksana jika terlebih dahulu mengkaji kondisi remaja dan problematika di dalamnya. Dan dari situ kita bisa memberikan solusi yang mudah diaplikasikan.
Menyadari bahwa masa remaja merupakan masa yang rawan, karena pada saat itulah mereka mulai mampu berfikir abstrak, dan mencoba menjelaskan beberapa hal yang kompleks, dengan emosi yang masih labil. Sebetulnya remaja dapat dikatakan tidak memiliki tempat yang jelas, mereka sudah tidak termasuk dalam golongan anak-anak dan belum dapat diterima ke dalam golongan orang dewasa. Remaja berada di antara anak dan orang dewasa. Biasanya masa ini terjadi antara rentan umur 14-17 tahun. Dengan adanya globalisasi dan liberalisme tidak menutup kemungkinan masa rawan ini akan datang lebih awal. Pada masa ini pula remaja akan mencoba mencari jati dirinya, proses pencarian jati diri pada remaja, di awali dengan sebuah perilaku mencari sosok idola dan selanjutnya adanya tindakan mengimitasi atau meniru sang idola. Di sinilah letak masalah utamanya, masihkah ada idola yang patut dicontoh oleh remaja. Sebuah idola yang tingkah lakunya mencerminkan nilai-nilai yang diadopsi dari Pancasila.
Realitanya remaja cenderung mengidolakan siapa saja yang dianggap poluler bagi mereka. Salah satu yang bayak menjadi idola remaja adalah artis, tapi apakah tingkah prilaku artis mencerminkan nilai-nilai esensi Pancasila?. Waktu telah membuktikan bahwa banyak artis yang tak patut dicontoh, seperti yang sedang tren sekrang adalah kasus tiga artis, Ariel dan bersama Luna Maya, dan Cut Tari yang selama ini banyak diidolakan remaja kita, ternyata memiliki prilaku yang sangat tidak mencerminkan budaya Pancasila. Seolah-olah kasus Ariel telah melegitimasi kehidupan seks bebas.
Selain artis, satu lagi yang terkesan populer di mata remaja adalah politisi dan pejabat. Kenyataan telah membuktikan lagi bahwa politisi dan pejabat Indonesia banyak yang bermoral dan mental pencuri, memang tak semuanya, tapi sangat mudah kita temui, dari berbagai berita seperti kasus korupsi beberapa anggota DPR, sampai wacana rekening gendut para perwira Polri. Jelas tindakan tersebut tidak dapat dikatakan sesuai dengan nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.
Mengidolakan guru, jika seorang remaja mengidolakan guru memang terkesan mulia dan baik. Bagaimana tidak seorang guru yang di Indonesia dianugrahi gelar pahlawan tanpa tanda jasa, menurut sebagian orang bahwa tindakan guru lebih mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Guru yang sopan bertutur, guru yang ikhlas dalam mengajar, guru yang selalu memberikan ilmu, hal ini patut dicontoh oleh remaja. Tetapi tidak bisa dipungkiri, bahwa ada guru yang mengajar tidak karena panggilan jiwa, dan sebuah rasa keikhlasan tetapi, terlebih karena panggilan uang. Jika tidak ada uang maka tidak mengajar. Selain itu sudah banyak kiranya oknum guru yang menjadikan pendidikan yang seharusnya menjadi hak yang harus diterima peserta didik, oknum guru malah mengkomersilkan pendidikan dengan mematok biaya tinggi pada institusi pendidikannya. Satu lagi, telah terbukti bahwa banyak guru yang mengajar dengan kekerasan. Jelas tindakan sebagian guru tersebut telah mencoreng nilai kemanusiaan, keadilan, dan kerakyatan.
Siapakah yang patut menjadi idola bagi remaja, idola yang Pancasilais. Untuk memunculkan idola yang Pancasilais guna mencegah mengaburnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan remaja. Diperlukan peran dari berbagai pihak. Salah satu yang penting adalah peran keluarga, dalam hal ini orang tua. Kenyataan yang terjadi sekarang ini peran keluarga dalam hal ini orang tua dalam memberikan pendidikan dan bimbingan moral bagi anak-anaknya sering terlupakan. Orang tua kurang memperhatikan anak-anaknya dengan dalih sibuk bekerja memenuhi kebutuhan ekonominya. Anak hanya disuapi dengan kebutuhan fisik saja, sementara aspek batin, mental dan spritual pada diri anak kurang diperhatikan oleh orang tuanya.
Kenapa keluarga? keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama memiliki fungsi yang penting terutama dalam penanaman sikap, nilai hidup serta berfungsi menumbuhkan kesadaran bahaya perilaku menyimpang pada remaja. Penanaman kesadaran perilaku menyimpang pada hakekatnya merupakan penanaman nilai-nilai Pancasila, karenanya perlu diberikan pada remaja sebagai warga negara. Menurut Willis (dalam Danang 2008:4) pembinaan mental ideologi Pancasila dimaksudkan “agar anak -anak nakal atau menyimpang itu memahami sila-sila dari idiologi negara kita yakni Pancasila. Dan mengusahakan agar dapat melatih kebiasaan hidup ber-Pancasila di lingkungan mereka”.
Dalam hal ini orang tua harus bisa menciptakan sistem imun otomatis agar remaja tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila. Untuk megaktifkan sistem imun otomatis tersebut kiranya cara berikut dapat dilakukan. Pertama memberikan kebebasan yang proporsinal, pada anak yaitu kebebasan yang bertangung jawab. Pada usia remaja, anak-anak cenderung suka melanggar peraturan dan bebas, jadi orang tua harus memahami kondisi ini. Dalam langkah pertama ini orang tua berperan memberi peringatan dini. Orang tua harus memberikan pemahaman bahwa berbagai perilaku menyimpang yang anak ketahui di luar rumah, sejatinya memang dan pasti ada. Ajari anak untuk selalu bersikap memahi dan belajar menilai sekalipun dari hal yang jelek.
Kedua mengubah cara berkomunikasi dalam keluarga, pada masa remaja anak mulai kritis terhadap diri sendiri dan berbagai perubahan dan penyimpangan sosial di lingkungannya. Komunikasi yang terbuka dan diaslogis diharapkan mampu menciptakan kondisi yang kondusif. Dalam hal ini orang tua harus pandai memilah dan memilih sikap, yang harus disuntikkan kepada anaknya serta orang tua harus bisa memasukkan nilai-nilai Pancasila kepada anaknya secara halus.
Ketiga menanamkan kemandirian pada diri sang anak, karena pada masa remaja adalah saat mereka berkompetisi. Peluang kompetisi sangat terbuka luas, baik itu kompetisi negatif maupun kompetisi positif. Dalam hal ini peran orang tua untuk mengarahkan anaknya menuju kompetisi yang positif, serta meyakinkan sang anak bahwa mereka pasti bisa dan mampu menjadi pemenang dalam kompetisi tersebut.
Dengan tiga langkah tersebut niscaya remaja kita tidak akan kebingunan dalam mencari idola, dan orang tua akan menjadi idola pancasilais bagi anak-anak mereka. Secara tidak langsung bahkan orang tua telah mengaktifkan sistem imun otomatis dalam diri anak.


DAFTAR PUSTAKA
Laksono, Tunjung Danang. 2008. Pemahaman pancasila sebagai pandangan hidup dan intensitas bimbingan Moral oleh orang tua pengaruhnya terhadap kesadaran bahaya Perilaku menyimpang pada remaja di kabayanan Desa mulur kecamatan bendosari Kabupaten sukoharjo Tahun 2008. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Mahartiningsi, Cunik Yupila. Family Sphere. Artikel dokumen pribadi.

Nama: Danang Tri Prastiyo
Alamat sekolah: Jl. Magelang km 4 Sinduadi, Mlati, Sleman Yogyakarta

Penulis ini merupakan teman baikku. Danang...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,