06 Februari 2013

Meraih Mimpi Nggak Ada yang Salah

Pagi ini saya sedikit berdebat dengan adik kelas saya. Hal ini disebabkan dia berkata bahwa anak yang pindah haluan, maksudnya dulunya ambil jurusan IPA waktu SMA kemudian pindah ke jurusan yang berkaitan dengan IPS waktu kuliah itu munafik. Saya kakget tentunya, bagaimana mungkin definisi munafik bisa seluas itu? Bukannya mereka yang pindah haluan itu hanya karena baru tahu bahwa hati mereka di IPS? Dia juga berkata dengan pindah haluan tersebut berarti mereka mendorong hegemoni anak IPA? Bagaimana mungkin? Apa sebenarnya kelompok IPA dan IPS itu? Bukannya seharusnya penggolongan itulah yang mendorong diskriminasi? Di luar negeri tak ada yang namanya anak IPA atau IPS. 
Diskusi panas yang singkat tadi diawali dengan pertanyaan saya kepada adik kelas mengenai pembelajaran business studies yang diberikan kepada kelas 10. Kemudian adik kelas saya yang satunya menyahut, pembelajran tersebut useless. Saya tak terima, mana ada ilmu yang useless? Meskipun tingkat intelegensi dia mungkin diatas saya, tapi kalau dari segi falsafah pembelajran saya sepertinya lebih paham. Tidak ada ilmu yang useless, pasti semua ada manfaatnya. 
Dia beralasan lagi karena pelajaran business studies nantinya tidak akan dipelajari lagi ketika akan tersebut masuk IPA. Perlu diketahui, di Indonesia, siswa SMA dijuruskan untuk mengambil pelajaran IPA atau IPS. Bebarap sekolah bahkan ada jurusan agama maupun bahasa. Hal ini sangat berbeda dengan yang ada di luar negeri dimana mereka mengemabil pelajaran yang mereka sukia dan focus di dalamnya, di Indonesia siswa siswi malang ini harus mempelajari satu paket penuh IPA (Matematika, Biologi, Kimia, Fisika), atau IPS (Matematika, Ekonomi, Geografi, Sejarah, Sosiologi). Mereka tidak dapat memilih lagi pelajaran-pelajaran yang mereka sukai kecuali berpacu pada apket pelajaran yang sudah ditentukan. 
Nah, dari situlah adik kelas saya tadi berkata bahwa mempelajari IPS untuk anak IPA itu tidak berguna, orangnya itu adalah munafik. Ekstrem senkali pernyataannya. Dari sudut pandang saya pribadi, pernyataan tersebut salah. Karena, di abad 21 ini, para pemenangnya malah cenderung dari otak kanan, yang mampu melihat keteratura dari kekacauan. Untuk itu, otak kiri dan otak kanan harus disatukan. Orang IPA juga harus tahu dunia IPS, tahu bisnis, tahu eknomin, sehingga ketika mereka sudah dewasa dan ingin berwirausaha, mereka mampu mengamalkan ilmu mereka untuk kehidupan yang lebih baik. Sehingga, mempelajari IPS itu tidak ada salahnya dan tidak munafik. 
Anak-anak IPA yang pindah haluan ke IPS itu karena mereka baru menemukan impian sebenarnya meeka di dalam dunia IPS itu. Banyak teman saya yang ingin mengambil jurusa IPS seperi bisnis, manajemen, akuntansi, eknonomi, dan lainnya ketika waktu kuliah nanti. Mereka tidak munafik. Saya sendiri adalah anak IPA yang dulu juga sempat mempelajari IPS dan saya menyukainya. Saya juga menyukai science meski ilmu science saya harus terus diasah. 
Jadi, tidak ada yang namanya munafik dalam menuntut ilmu dan tidak ada yang namanya ilmu yang useless. Yang ada hanyalah telat menyadari passion nyata dan ilmu yang tidak dimanfaatkan. Saya sendiri suka memanfaatkan ilmu IPS untuk tujuan baik, seperti menganalisis dampak ilmu otak kiri tersebut terhadap masyarakat. Perlu diketahui juga, saya juga ingin berkarir dalam green economy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,