27 Mei 2012

STUCK


Aku benci kata-kata terjebak. Apalagi jika terjebak dalam tugas-tugas skala Q1 yang important dan juga mendesak. Bagaimana tidak? Tugas semacam itu sangat tidak enak untuk dinikmati, karena selain membuat stress juga bisa membuat kepela kita puyeng, hilang konsentrasi, berat badan menurun. Akibat lebih lanjut bisa menimbulkan kegilaan sesaat atau bahkan permanen. Jadi jangan heran kalau di kota-kota besar seperti Jakarta banyak orang gila dan bunuh diri.
Jadi apa hubungannya denganku? Tentu saja ada. Jadi sekarang ini aku sedang stress mengerjakan proyek yearbook 2012 untuk sekolahku. Lumrah juga sebenarnya, stress. Namun yang aku takutkan dari stress ini adalah dampaknya terhadap pelajaranku. See, I'm not the smartest guy here, kalau aku nggak belajar, nilai-nilaiku bisa jeblok dan apa yang aku cita-citakan bisa kabur.
Kami mengerjakan yearbook ini sejak 25 April kemarin namun belum juga selesai-selesai. Bagi orang lain pasti akan bertanya begini. Sudah lama ngerjain kok nggak selesai-selesai? Maka aku menjawab. Kami pelajar. Kami punya bisnis yang sama Q1 nya yang harus dikerjakan seperti mengerjakan PR dan belajar untuk ulangan. Lihat kan? Apalagi didukung kenyataan bahwa kami bekerja secara sukarela. Jadi ya mohon maklum kalau kerjanya sedikit terhalang.
Kadang-kadang aku bingung dengan ini. Pihak sekolah menyuruh kita belajar dengan baik, tapi dilain sisi mereka juga menyuruh kita untuk mengerjakan proyek mereka, atau proyek bersama sebenarnya. Bagi mereka mungkin kita mampu, tapi padahal hal itu belum tentu bukan? Kami mampu kalau diberi cukup waktu atau diberi fokus kerja. Sekolah atau proyek? Namun kenytaannya tidak demikian. Kami harus sekolah dan kami harus kerja. Para direktur, dan pekerja-pekerja lain pasti kalah melihat bagaimana kami harus bekerja. Lembur setiap malam, kadang-kadang tidur baru jam 3 atau 4 pagi. Mash untung kalau bekerja bersama, bisa giliran tidur.
Tapi dari sinilah pengalaman itu ada dan sangat indah, jadi bisa diceritakan ke orang lain atau kalau waktu interview dengan orang bisa dikatakan kita memiliki nilai jual lebih dibanding dengan pelajar SMA lain yang memiliki umur yang sama dengan kita. Hal ini akan sanagt bermanfaat kalau mau apply untuk beasiswa atau masuk ke fakultas favorit. Jika ada yang tanya, jadi apa yang kamu lakukan waktu SMA? Kita bisa menjawab, oh, aku belajar cukup banyak, namun aku juga bekerja cukup banyak. Kita malah terdengar sebagai murid super, apalagi kalau bisa mempertahankan nilai-nilai kita. rata-rata masih diatas 8 dan sukses dalam proye sekolah. Hmm, siapa yang tidak mau?
Dari sini terlintaslah ideku untuk membuat sekolah yang memberikan kredit berdasarkan proyek yang dikerjakan. Jadi ini idenya.
1. Jika ada anak nakal, sebagai hukuman gunakan tenaga mereka untuk melakukan proyek sekolah yang juga bermanfaat bagi dirinya. Jika dia tidak melakukannya, maka dia akan mendapat hukuman yang lebih berat. Hal ini lebih berguna daripada diskors kan?
2. Jika ada yang nggak lulus pelajaran tertentu bahkan dengan 3 kali remedial, suruh mereka melakukan proyek sekolah sebagai syarat kelulusan nilai itu.
3. Sekolah memberikan nilai tambahan kepada siswa yang dengan sukarela maupun ditunjuk yang sah dan diakui oleh komite akademik sekolah agar siswa tersebut lulus sebagai bbentuk kompensasi karena pelajar tidak bisa dibayar.
Lihat, bukankah hal tersebut sangat memotivasi para siswa untuk lebih semangat dalam bekerja?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,