15 Mei 2012

Meraba Profesionalitas Guru

MERABA PROFESIONALITAS GURU MASA DEPAN

Oleh: Muhammad Abdul Manaf

Guru, Pendidikan, dan Masalahnya

Guru sekarang ini menurut saya bukan hanya sebatas orang yang bekerja dalam dunia pendidikan yang mengajar siswa dari hari Senin hingga Sabtu. Namun sekarang definisi tersebut sudah meluas sehingga setiap orang yang membagi pengetahuan darinya bisa dikatakan sebagai seorang guru. Hal itu tidak tergantung dari sedikit banyaknya jumlah ilmu yang dibagikan ke orang lain tetapi lebih ke arti ilmu yang dibagikannya. Sehingga anak SMP pun bisa didaulat sebagai guru.

Namun tentunya guru itu tidak terbatas sebagai figur yang menularkan ilmu saja, Tetapi mereka harus bisa memenuhi fungsinya secara moral dan secara dinas. Secara moral guru harus bisa memberikan contoh moral yang baik kepada muridnya serta mengajar mereka dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Selain itu mereka juga harus memenuhi fungsinya secara dinas yakni mendidik mereka agar menjadi insan yang berkualitas dan bermanfaat. Kedua fungsi tersebut harus dilaksanakan secaa beriringan agar bisa memunculkan pribadi-pribadi yang seimbang baik secara intelektual maupun emosional dan spiritual.

Apalagi sekarang ini sedang digiatkan pendidikan berkarakter yang bertujuan untuk mencetak siswa yang memiliki karakter dalam dunia pendidikan, siswa dicetak sebagai seorang murid yang proaktif dalam belajar, bukan hanya menjadi figur yang hanya menjadi imitator. Sehingga diharapkan nantinya akan didapat siswa-siswa yang memiliki karakter dan moral yang baik.

Tetapi nyatanya hal tersebut belum bisa mengatasi masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia. Seperti yang diketahui bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih menduduki peringkat rendah dunia. Hal itu terbukti dengan hasil dari survei yang dilakukan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) terhadap kualitas pendidikan di negara-negara berkembang di Asia Pasifik. Indonesia ternyata hanya menempati urutan ke-10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada peringkat 14 dari 14 negara berkembang.

Hal tersebut sungguh ironis sekali mengingat jumlah guru di Indonesia sangat banyak. Dari catatan Kemendikbud, saat ini jumlah guru di Indonesia sebanyak 2.925.676 orang. Rasio jumlah guru dan murid secara adalah rata-rata 1:18. Angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan negara maju seperti Korea (1:30), atau Jerman (1:20).

Sayangnya, jumlah guru yang banyak tersebut selain tidak terditribusi dengan baik juga memiliki kekurangan profesionalitas dan kompetensi yang itu-itu saja. Belum lagi sistem pendidikan yang cenderung menjadikan murid sebagai gelas yang tinggal diisi sesukanya oleh guru yang menjadikan siswa robot yang pandai mencari kerja, karena mereka tidak diberi kesempatan mengolah kreativitas untuk bisa menciptakan lapangan kerja sendiri di masa depan.

Kekurang profesionalitasan guru tersebut jangan sampai dibiarkan terus menerus. Jika hal tersebut tidak segera diambil tindakan penyelesaian maka yang mendapat dampak secara langsung adalah siswa-siswanya. Bagaimana para siswa bisa menjadi orang yang berkompeten kalau orang yang mengajarinya saja kurang profesional dan tidak memenuhi spesifikasi sebagai guru yang berkompeten? Itulah kenapa Kementerian Pendidikan Nasional sangat perlu untuk menjadikan masalah ini sebagai prioritas untuk diselesaikan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, seperti yang dilanisir oleh Kompas pada November 2011, Kemendikbud sedang berkonsentrasi pada proses pengaderan dan pemersiapkan secara matang kompetensi para calon guru yang masih berada di perguruan tinggi. Salah satunya dengan mengasramakan para calon guru yang telah memasuki semester ketujuh. Setelah diasramakan, lanjutnya, para calon guru akan dikirim ke daerah untuk uji kemampuan dan belajar mengenal berbagai macam medan mengajar.

Tapi apakah hal itu cukup? Karena kebanyakan guru ternyata belum memiliki profesionalisme yang memenuhi syarat untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20 tahun 2003 yakni merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Banyak guru yang asal datang ke kelas dan mengajar tanpa memiliki visi kedepannya bagaimana. Sehingga banyak ditemukan siswa yang kadang-kadang bingung juga diajar oleh guru tersebut dan dibiarkan saja oleh gurunya.

Oleh karena itu, untuk mencetak guru-guru yang cakap dan berkompeten perlu sekali diadakan pembenahan sistematik dalam perekrutan guru. Kulaifikasi untuk bisa diangkat menjadi guru mungkin bisa ditingkatkan. Selain itu diperlukan juga peningkatan kesejathteraan guru agar guru lebih termotivasi lagi untuk mengajar. Selain itu alangkah lebih baik lagi jika pemerintah memberikan beasiswa kepada guru-guru yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu juga bisa dilakukan pelatihan untuk peningkatan kualitas kepada guru-guru.

Meraba Profesionalitas Guru Masa Depan

Seperti yang diungkapkan diatas betapa penting sekali posisi guru dalam dunia pendidikan ini. Tak ayal lagi, mereka disebut sebagai tonggak pendidikan. Hal ini tak lepas dari peranan mereka yang memang besar dalam membina siswa siswi untuk menjadi pribadi berkualitas, bermoral, dan bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Untuk itu diperlukanlah guru yang profesional agar tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai dengan maksimal.

Namun apakah yang disebut guru profesional tersebut? Menurut saya guru profesional selain seorang yang kreatif, tak gentar menghadapi tantangan dalam medan pengajaran yang dilaksanakan, selalu termotivasi untuk mencerdsakan bangsa meski kesejahteraannya dikesampingkan oleh pihak-pihak yang diatas. Selain itu tentu saja sebagai seorang guru yang memenuhi kriteria pasal 39 UU No 20 tahun 2003. Selain itu, mereka harus bisa mendeteksi bakat siswa siswinya dan mampu mengantarkan bakat dan potensi tersebut untuk menjadi bekal hidup dimasa mendatang.

Para guru sekarang bisa saja dengan mudah memenuhi kriteria guru profesional secara administrative seperti yang tertuang dalam undang-undang. Namun dalam praktik lapanganlah yang paling menentukan apakah mereka profesional atau tidak. Apakah mereka teguh menghadapi tantangan dan selalu termotivasi atau hanya orang yang bermental tempe. Hal tersebut akan dapat terlihat jelas jika mereka sedang bertarung dalam medan pengajaran yang sulit seperti di Papua.

Jika para guru tersebut tetap sanggup bertahan dalam medan pengajaran yang sulit dan alat-alat pendidikan yang serba terbatas serta mereka tetap termotivasi untuk menularkan ilmu semata-mata demi mencerdaskan bangsa, maka hal tersebut patut diacungi jempol. Karena sudah jelas mereka tidak bekerja bukan karena iming-iming uang.

Apalagi jika ada guru yang mampu mencetak siswa siswi sukses yang seimbang baik itu inteletual, emosional, dan spiritual dan sanggup menggunakan potensi dalam dirinya, maka orang seperti itulah yang patut menjadi figur-figur yang sering diekspos sebagai motivasi kepada yang lain. Bukannya berita-berita picisan mengenai siapa dengan siapa.

Untuk mencetak guru-guru yang memiliki dedikasi tinggi dalam profesinya seperti itu tentunya tidak bisa dicetak dengan instan. Semisal hanya cukup dengan satu dua kali pelatihan guru. Untuk benar-benar ingin mendapat guru yang berkompeten dan profesioanl harus segera dumali dari generasi muda itu sendiri.

Karena bagaimanapun generasi mudalah nantinya yang akan mewarisi tampuk kemimpinan dan tugas untuk menyebarkan pelita ilmu kepada anak cucu keturunan mereka.

Hal itu bisa dimulai dengan mengenalkan mereka dengan dunia pendidikan dan pengenalan kepada mereka mengenai kondisi pendidikan sekarang ini. Pengenalan tersebut harus dilakukan sedemikian kreatif sehingga mereka tidak akan sadar kalau sebenarnya mereka sedang diajar. Hal itu bisa dilakukan lewat film, iklan, dan berita-berita di media massa yang untungnya sangat sigap dalam meliput dunia pendidikan.

Salah satu gambaran yang sukses mengenai gambaran pendidikan di Indonesia salah satunya adalah film yang berjudul Laskar Pelangi. Dalam film ini ditunjukkan bagaimana seharusnya pendidikan itu berjalan. Meski terhalang dengan keterbatasan fasilitas, namun mereka ditampilkan sanggup mengatasi rintangan yang ada. Hal itu tak lepas dari sosok guru profesional disitu, yakni Ibu Muslimah.

Menurut saya gambaran Ibu Muslimah dalam adaptasi novel yang dibuat oleh Andrea Hirata berdasar pengalaman nyata tersebut merupakan salah satu bentuk gambaran guru yang ideal. Guru yang memiliki dedikasi tinggi untuk membina murid-muridnya. Guru yang mampu mengidentifikasi potensi siswa dan mengarahkannya untuk terus maju. Guru yang mau dibayar hanya dengan beras dan uang seadanya. Andai saja ada banyak guru seperti Ibu Muslimah maka saya yakin kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini pasti lebih baik.

Kesempatan untuk membentuk guru-guru seperti Ibu Muslimah sekarang ini jauh lebih baik. Pasalnya, sekarang ini fasilitas sudah mudah sekali didapatkan. Berbagai macam cara bisa ditempuh untuk mencetak guru-guru profesional dimasa mendatang. Sekarang internet bisa diakses dengan mudah, dana pun juga bukan masalah utama karena pemerintah sudah mengucurkan anggaran 20% dari APBN untuk bidang pendidikan. Sehingga akan sangat memalukan jika pada Indonesia tidak bisa membentuk guru-guru profesional.

Saya sangat yakin bahwa suatu hari nanti ketika masanya tiba generasi saya memimpin, hal itu berarti sekitar lima belas tahun lagi maka Indonesia akan memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik karena selain didukung oleh fasilitas yang tersedia juga karena guru-guru profesional yang siap membina muridnya dengan kasih dan tanggung jawab. Bahkan mungkin perubahan tersebut jika kita mau bisa dimulai dari sekarang, dimulai dari sendiri dulu kemudian barulah ke lingkungan yang lebih besar.

Masa depan nanti tidak perlu diperlukan guru yang banyak banyak namun hasilnya nonsense. Yang paling penting adalah kualitas yang dihasilkan, bukan kuantitas. Jika ada guru-guru profesional yang siap terjun ke medan pendidikan, maka orang tua dan murid sendiri tidak perlu terlalu khawatir dalam menghadapi masa depan mereka,

Jika takdir mengatakan bahwa saya akan menjadi salah satunya, maka hal yang saya lakukan adalah mengidentifikasi potensi yang saya miliki pada anak didik saya. Dengan begitu, dia dan saya bisa bersinergi untuk membentuk lingkaran sukses. Saya dan dia akan tahu kira-kira nanti apa hal yang paling cocok bagi dia dimasa depan. Sehingga tidak menjadi musimnya ketika lulus sekolah yang ditanyakan adalah, aku mau jadi apa? Tapi akan menjadi aku tahu aku akan jadi ini. Itulah harapan saya bahwa mereka punya visi untuk masa depan mereka dan bersemangat untuk meraih itu semua.

Sumber:

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/12/26/171312/2012-Fokuskan-Pemerataan-Guru

http://van88.wordpress.com/makalah-permasalahan-pendidikan-di-indonesia/

http://edukasi.kompas.com/read/2011/11/24/09561786/Rasio.Jumlah.Guru.Indonesia.Termewah.di.Dunia.tetapi.

http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/22/masalah-pendidikan-indonesia/

http://www.psb-psma.org/content/blog/5189-masalah-pendidikan-di-indonesia

http://van88.wordpress.com/makalah-permasalahan-pendidikan-di-indonesia/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,