29 Maret 2012

Wabah Tomcat

Aku baru nyadar bahwa bikin artikel itu ternyata nggak mudah. Lebih sulit daripada yang aku bayangkan. Sebenarnya aku suka nulis, tapi pasti terbiasa berita atau nulis jurnal, nggak terlalu sering bikin artikel. Eh, waktu aku nulis artikel ternyata malah lebih cenderung ke berita. Soalnya memang aku jurnalis sih, jadi kalau bikin tulisan lebih enak kepada berita.

Jadi, karena artikel awalku jelek, guruku Pak Utomo meminta aku dan teman-teman sekelasku untuk memuat artikel lagi agar menambah nilai kami.

Jadi, inilah artikelku yang baru

Wabah Tomcat


Akhir-akhir ini, penyebaran Tomcat semakin meluas. Sejak pertama kali muncul pada tanggal 13 Maret lalu di Surabaya, Tomcat sudah mulai menyebar ke daerah-daerah lain di Jawa Timur seperti Gresik, Lmaongan, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, dan masih banyak lagi. Bahkan area penyebarannya sekarang lebih luas lagi meliputi daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, NTB, dan Sulawesi Utara. Hal ini menimbulkan keresahan warga karena diketahui cairan yang dikeluarkan oleh Tomcat ini beracun.
Serangan Tomcat tersebut telah menjadi wabah di berbagai kota di Jawa Timur karena telah menimbulkan sekitar 559 laporan terkait dengan korban cairan Tomcat yang disebut paederin. Dikatakan wabah disini bukan karena tanpa alasan, tetapi kenyataan bahwa serangan Tomcat ini telah menyebar luas dan cenderung meningkat.
Tomcat sendiri merupakan satu dari sekian anggota Insecta yang masuk keluarga besar kumbang (Staphylinidae). Bentuknya seperti semut, namun lebih besar dengan capit di mulut dan ekor yang lancip. Warna tuuhnya merah kecoklatan dengan habitat asli di persawahan dan pantai yang lembap. Sebenarnya Tomcat sendiri merupakan pemakan hama wereng. Jadi bisa dikatakan ahwa Tomcat merupakan sahabat petani. Cairan yang dikeluarkan Tomcat merupakan cairan menyerupai lendir bening yang berbahaya karena dapat menyebabkan kulit menjadi panas dan bereaksi seperti terkena penyakit herpes.
Sebenarnya banyak juga serangga yang bisa menyebabkan wabah selain Tomcat seperti lalat dan nyamuk. Lalat dapat menjadi agen utama penyebar diare karena keiasaan lalat yang hidup di daeerha yang kotor dan penuh kuman. Sedangkan gigitan nyamuk beresiko menularkan penyakit malaria dan demam berdarah melalui virus dan protoza yang dibawa oleh nyamuk dan terinjeksi ke dalam darah manusia lewat gigitan nyamuk.
Serangan Tomcat pada manusia kemungkinan besar disebabkan oleh rusaknya haitat asli Tomcat. Tomcat yang dulunya hidup tenteram di habitatnya terusik dengan adanya alih lahan persawahan menjadi perumahan, perkantoran, dan bangunan-bangunan lain di kota-kota besar. Hal ini menyebabkan Tomcat mulai menyerang manusia dan menyebabkan kulit kemerahan dan terasa panas dengan cairan yang dimilikinya. Selain itu, predator tomcat yang alami seperti tokek dan cicak juga diburu untuk keperluan-keperluan ekspor, obat, dan lain sebagainya. Hal inilah yang menyebabkan populasi tomcat bertambah.
Tomcat sebenarnya bukan hewan yang berbahaya jika tidak diancam oleh keberadaan dan kepentingan manusia yang semakin beragam. Karena tomcat adalah teman petani. Jika saja habitat asli mereka masih bertahan alami, maka tomcat tidak akan melakukan invasi ke pemukiman manusia dan menyebarkan wabah. Namun satu hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tomcat secara cepat adalah dengan membasminya menggunakan predator alaminya atau menggunakan pestisida alami. Selain itu, jika terkena serangan tomcat jangan pernah menepuknya, cukup ditiup atau disentil pelan. Hal itulah yang sekiranya dapat dilakukan, karena sebenarnya tomcat tidak mengeluarkan lendirnya yang berahaya jika dia tidak terancam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,