01 Agustus 2013

Dalam Persimpangan




Aku akan menceritakan ini dengan menghela napas panjang
Suatu waktu, bertahun-tahun kemudian
Dua jalan terpencar di sebuah hutan kekuningan
Dan aku-
Aku mengambil jalan yang paling jarang dilalui
Dan itu mengubah segalanya

Di hari Rabu yang cerah, aku duduk di bawah pohon palem dengan membaca buku The Historian yang sudah berkali-kali aku baca namun kesan misterius yang ada di dalamnya tidak menghilang. Saat itu aku sedang menunggu kedatangan university counselor sekolah aku yang ternyata datang 2 jam lebih lambat dari yang dijadwalkan. Padahal aku sudah datang sejak pukul 9 dan harus melepas janji untuk bertukar sapa dengan teman aku yang tiba-tiba datang disaat aku membutuhkan tumpangan.
Setelah aku berkeliling, duduk membaca buku, mengangumi bangunan yang diadptasi dari Arc de Triomphe Perancis, aku mulai lelah dan kembali lagi membaca buku. Sambil duduk, aku mulai mempertimbangkan keputusan yang aku buat. Apakah aku bisa berkomitmen untuk mengambil ujian SBMPTN lagi tahun depan sementara aku mengambil gap year atau apakah aku harus mengambil PTS yang jelas-jelas sudah ada dan aku tinggal mengurus adiministrasinya. Kedua keputusan tersebut menghantui aku terus, pakah benar yang aku lakukan.
Matahari tepat diatas kepala dan teman aku Ade, mulai sms. Kamu dimana?. Mereka berarti sudah dekat. Aku mulai berdiri dan stand by di parkiran SLG (Simpang Lima Gumul) untuk menunggu mereka. Ketika mobil berwarna silver mendekat dan membunyikan klaksonnya, aku tahu kalau itu mereka dan aku melambiakan tangan menyambut.
Miss Novi, university counselor tetap terlihat sama seperti terakhir aku bertemu dengan orangnya. Ade juga demikian. Setelah bertukar sapa dan kabar kami mulai berjalan menuju monument melewati jalan ruang bawah tanah sambil berbicara.
“Jadi gimana Manaf?”, Miss Novi bertanya. Aku sudah tahu kalau beliau akan bertanya mengenai universitas meskipun subjek yang ditanyakan kurang jelas.
“Aku belum diterima dimanapun, mungkin akan mengambil gap year tahun ini dan mencoba lagi tahun depan”, aku menjawab dengan sedikit malu.
Akhirnya, dengan berdiri di depan pintu masuk di jalan bawah tanah SLG, kami berbicara mengenai masa depan.
Miss Novi terus meyakinkan saya untuk mengambil PTS, jangan sampai menganggur setahun, karena bisa saja nanti kebablasan. Masalahnya semua PTS yang menerima aku ada di Jakarta, and I hate Jakarta without reasonable reason, merely by heart. Aku masih ingin ambil PTN, selain lebih murah, jurusan yang aku inginkan juga ada di PTN, tidak di PTS, yakni jurusan yang berkaitan dengan biotechnology.
Miss Novi terus meyakinkan aku, dan aku mulai goyah. PTS sounds cool after she speaks about it . namun di hatiku tetap saja rasanya masih ada yang mengganjal. Lebih baik gap year setahun daripada mengambil PTS.
Setelah berbincang selama satu jam, dan aku juga masih belum memberikan jawaban yang pasti. Aku berjanji padanya akan memberikan jawaban setelah aku memikirkan masak-masak. Aku berharap masih ada PTN yang buka pendaftaran, dan PTN itu benar-benar berkualitas.
Di akhir pertemuan, Ade menceletuk. “Sangat simbolis ya, membicarakan persimpangan masa depan di tempang yang bernama Simpang Lima Gumul”, Simpang Lima Gumul atau lebih dikenal dengan nama SLG memang sebuah monument yang menandai adanya simpang lima yang menuju beberapa daerah seperi Malang, Surabaya, dan tempat-tempat wisata di Kediri. “Mungkin 4 tahun lagi kita akan membicarakan hal yang sama di sini”, ungkap Ade penuh canda. Aku hanya mengangguk angguk. Memang benar, bisa saja 4 tahun lagi kita akan bingung mencari kerja, atau nikah. Memikirkan itu membuatku tersenyum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,