06 Mei 2013

Perjalanan Menuju Pulau Dewata


Akhirnya tiba juga waktunya untuk berangkat ke Bali. Hari ini tanggal 5 Mei 2013, aku dan teman-teman SMA berangkat ke Bali. Aku masih tak menyangka bahwa aku akan pergi ke Bali dengan gratis. Benar-benar gratis, meski uan g sakuku sangat terbatas.
Hari itu dijadwalkan kami akan berangkat pukul 7 pagi dari Malang, tetapi kami harus sudah bersiap sejak pukul 6 pagi karena panitia takut jika ada kemoloran. Akhirnya aku putuskan untuk bangun setengah lima pagi itu dan segera mandi. Sambil mandi aku menegnang rumah. Air disini tidak seidngin air yang ada di rumah, meski katanya daerah Malang itu dingin. Mungkin juga karena asrama ini ada di Tlogowaru, daerah yang dikenal kering yang menyebabkan airnya tak sedingin air di rumah asalku.
Setelah mandi dan ganti baju aku segera sholat Shubuh dan mengecek perlengkapan untuk ke Bali. Aku memang sudah mempersiapkan barang apa saja yanga ku bawa, namun tetap aku hars mengeceknya. Aku hanya membawa dua celana panjang dan satu celana pendek. Tiga kaus pendek, satu kemeja, satu baju batik, san beberapa baju dalam. Aku sudah mewanti wanti diriku untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu banyak. Beruntung sekalin aku sudah memodifikasi tas decofresh ku menjadi penampilan baru yang fresh dan ceria. Sehingga ke Bali aku hanya membawa tas hijau mencolok itu dan juga tas kecil berisi pakaian.
Setelah sarapan dan menunggu apakah bus sudah datang atau belum, aku sempatkan untuk berlatih biola. Aku tak mau hanya karena berapa hari di Bali kemampuanku menurun. Aku harus tetap berlatih, apalagi karena aku masih beginner.
Tak dinyana bus pun datang. Dengan menjinjing kedua tas bawaanku, aku turun ke bawah. Ternyata sudah banyak anak turun untuk menunggu bus. Tak disangka, teman-teman berminat juga untuk datang lebih awal.
Seperti biasa, aku turun dan tak tahu harus gabung ke mana. Kau tahu maksudku, di usia ku seperti ini banyak anak cenderung untuk membentuk kelompok. Namun aku tidak. Bukan karena aku egois atau apa, tapi karena aku tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap bentuk kelompok. Setiap melihat teman-teman disini berekelompok, aku selalu teringat teman-temanku waktu MTs dulu. Jadi aku hanya melihat mereka, berbicara sebentar dengan teman-teman, dan duduk memperhatikan. Aku sangat suka memperhatikan orang, beljaar dari perilaku mereka, dan mengamati karakter mereka.
Bus sudah datang semua, kami pun berbaris untuk berdoa bersama. Setelah pembagian tiket atau lebih tepatnya kartu tanda masuk bus, aku pun masuk ke bus nomor 2. Untung sekali aku bisa duduk disamping jendela, sehingga aku bisa melihat pemandangan diperjalanan nanti. Memikirkannya saja sudah membuatku tersenyum.
Aku kembali sendiri di bus. Tito, teman sampingu sedikit sakit sehingga dia berada di belakang bersama pacaranya yang merawatnya. Jadilah aku sendirian terus.
Perjalanan ke Bali dengan bus 2 ternyata di damping oleh seorang guide dari Wahana Tour yang bernama Mas Syamsul. Orangnya cukup ramah dan bersahabat. Aku mulai menyukai orang ini. Cocok sekali memilih tipe orang seperti ini sebagai guide dalam perjalanan panjang yang jika tanpa teman dan pemandangan inah berubah menjadi membosankan.
Perjalanan dengan Wahana Tour ini sangat menyenangakn. Di bus 2 aku mendapatkan roti boy dan juga segelas susu sebagai snack pagi, karena nanti baru sekitar pukul 12 siang kami akan makan siang di daerah Situbondo.
Perjalanan menuju pelabuhan Ketapang masih sangat lama. Di bus jika aku tidak tidur, au mungkin melihat pemandangan sekitar. Sepertinya agak salah memilih bagian  kanan bus untuk tempat duduk. Sinar matahari pagi menerobos masuk jendela. Ketika matahari makin meninggi, sinaranya menyilaukan dan meradiasikan panas yang membuat gerah.
Kadang-kadang, pemandangan di luar sangat indah. Aku terutama sangat menyukai arsitektur Belanda zaman era pra kemerdekaan. Gabungan anatar arsitektur colonial dengan local membuhkan hasil menarik. Di beberapa daerah seperti Probolinggo dan Pasuruan aku menjumpai rumah yang keren seperti itu. Sayangnya, rumahnya selalu kurang terawatt. Apa mungkin karena bangunan kuno sehingga angker atau bagaimana. Namun  kalau boleh membelinya atau merawatnya aku mau sekali.
Aku tertidur. Ketika bangun aku sudah berada di jalan denga pepohonan jati di kiri kananku. Sepertinya kami memasuki aerah hutan sekitar Banyuwangi, pikirku. Ternyata benar. Kami sudah semakin dekat dengan Pulau Dewata. Hutan di kiri kananku sangat indah. Meski hutan homogeny, namun sepertinya sangat subur sekali. Pohon-pohon jati tumbuh dengan subur. Tanaman-tanaman liar pun tumbuh merangkul kaki-kaki pohon-pohon itu dan membuatnya kembali seperti hutan hujan tropis.
Tak disangka, pelabuhan Ktapang pun sudah terlihat mata. Waktu itu sekitar pukul 3 sore. Bau laut oun tercium ketika kami turun dari bus untuk menuju kapal yang akan membawa kami ke Pulau Dewata. Bau campuran antara ikan dan garam yang tersamarkan oleh keringat dan juga wajah lelah para pelancong menyerbu hidungku saat aku dan teman-teman turun dari bus.
Aku belum pernah ke Pelabuhan. Kapal-kapal berjejer di dermaga. Besar kecil, kapal penyeberangan, kapal penangkap ikan, dari yang memiliki layar hingga yag bertenaga uap. Semuanya ada di situ. Suara ombak dikejauhan menggempur pantai, suara orang meminta uang receh, suara penjual yang mengedarkan dagangannnya melebur menjadi satu di pelabuhan. Beberapa anak kecil dengan telanjang dada berlarian. Rambut mereka basah oleh air laut. Mereka pengemis, ujar temanku. Aku memandangi mereka dengan tanda tanya. Ketika aku sampai di jembatan untuk ke kapal. Aku paham maksud temanku. Mereka mengemis dengan cara berenang di air laut dan meminta pelancong melemparkan uang receh mereka. Aku salut dengan kemampuan renang mereka. Mereka pasti sangat ahli. Karena aku tidak bisa apa-apa dibandingkan dengan mereka, maksudku berenang.
Baru kali ini aku masuk ke kapal. Aku pikir rasanya seperi berada di ayunan. Disini aku bertemu dengan SMA 110 Jakarta, yang ternyata kami selalu bertemu dengan mereka dimanapun kami berada. Berada di atas kapal sangat menyenangkan, apalagi jika bersama teman-teman. Kami snagat beruntung membawa gitar. Dengan itu, akmi bernyanyi dan bersenang-senang. Sehingga goyangan kapal yang biasanya membuat orang mabuk laut itu tidak berpengaruh. Aku juga sudah memerintahkan otakku utnuk selalu berpikir positif diatas laut agar aku tidak terkena mabuk laut.
Banyak hal yang baru pertama ku lakukan waktu berkunjung ke Pulau Dewata ini. Melihat laut dengan dekat. Memandang birunya air dan juga cerahnya langit diatasnya. Kapal-kapal yang sibuk bersliwearn dan juga celotehan anak-anak diatas kapal sungguh membuatku merasa aneh. Aneh dalam artian positif. Aku tidak bisa mendeskripsikannya kalau kamu ingin tahu.
Bernyanyi diata slaut dan tertawa tawa membuatku sanggup melupakan seidkit kegalauanku. Seiring dengan matahari yang semakin malu-malu mendekap bumi untuk tidur. Aku dan teman-teman akhirnya sampai di Bali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,