23 Januari 2013

Sebuah Surat Untuk Diri Saya


From: Anies Baswedan
Date: 2013/1/19
Subject: Fw: Salam untuk teman-teman PPI

--------------------------


Kepada Teman-teman PPI
(di Kobe, Jepang)

Assalamu’alaikum wr wb

Saya menulis email ini dalam perjalanan kembali dari Tokyo ke Jakarta. Senang sekali bisa berdiskusi dengan teman-teman di PPI kemarin. Setiap kali perjalanan pulang sesudah berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, ada kenangan yang khusus. 

Diskusi di Kobe kemarin malam mengingatkan saya pada masa-masa kuliah dulu. Saat itu setiap kali ada dialog dengan siapa saja yang datang dari tanah air tercinta, maka banyak urusan di kampus saya jadwal ulang agar bisa pergi ke pertemuan, sekadar untuk mendengar kabar terbaru dari tanah air dan berdiskusi tentang Indonesia kita.

Memang waktu saya kuliah itupun sudah ada internet, sudah ada kabar terbaru yang real-time tetapi tetap saja sebuah tatap muka itu adalah obat kangen kampung halaman.

Pesawat terbang memang sanggup menerbangkan badan kita ke negeri yang jauh, tapi ia takkan pernah berhasil membawa pergi hati dan pikiran dari Indonesia. Sejauh apapun badan pergi, hatinya, pikirannya selalu tertinggal di Indonesia.

Dalam diskusi PPI malam itu saya tersadarkan lagi bahwa sedang bertemu dan menyaksikan sebuah generasi baru, generasi amat terdidik. Anda semua mewakili sebuah generasi baru Indonesia yang akan ikut mendorong perubahan.

Seperti saya katakan malam itu, kalau diukur maka hitungan kilometer jarak anda dengan Indonesia amat-amat jauh. Tapi saya yakin sekali Indonesia kita ada amat dekat dengan benak, dengan hati dan dengan semangat anda.

Selama ini hampir seluruh energi dan perhatian anda dipakai untuk belajar, meneliti atau menulis tapi saya amat yakin bahwa cahaya Indonesia itu selalu hidup di dada anda.

Anda sesungguhnya sedang mewakili kita semua untuk meraih ilmu pengetahuan, mengambil best-practice dari manapun. Setiap hari senin jutaan anak-anak sekolah mengucapkan Pembukaan UUD 1945, sesungguhnya mereka sedang menyebutkan tentang anda dan kita semua.

Republik ini berjanji akan mencerdaskan dan mensejahterakan. Sebagian dari kita sudah mendapatkan janji itu. Anda yang saat ini sedang belajar di negeri-negeri termaju di dunia ini sesungguhnya adalah anak-anak bangsa yang kepadanya janji kemerdekaan itu sudah dibayar lunas: telah tercerdaskan, tersejahterakan, telah menjadi bagian dari dunia yang amat raya dan tentu terlindungi.

Bagi kita yang sudah merasakan janji kemerdekaan, rasanya tidak pantas lagi untuk sekadar mengidentifikasi dan mendiskusikan apalagi mengutuk terus kekurangan bangsa kita.

Daftar kekurangan kita panjang. Tapi ingat, semua bangsa yang maju hari ini dulunya juga pernah tertinggal. Hanya lewat usaha kolektif yang serius dan dimulai dengan mengubah kualitas manusianya maka mereka bisa meraih kemajuan seperti sekarang.

Mengubah Indonesia itu sesungguhnya mengubah manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci untuk mempercepat pelunasan semua Janji Kemerdekaan kita.

Kita yang sudah merasakan manfaat pendidikan ini tidak boleh menjadi beban bagi republik, sebaliknya kita harus menjadi motor pendorong. Jangan pilih lipat tangan tapi pilih turun tangan untuk membenahi Indonesia kita.

Seperti saya sampaikan kemarin bahwa iuran terbesar untuk pendidikan itu bukan bea-siswa, bukan buku, bukan fasilitas belajar tapi iuran kehadiran. Kehadiran anda sebagai inspirasi adalah iuran terbesar. Anda memang tinggal jauh dari Indonesia tapi hadirkan diri anda di kelas-kelas tempat dulu anda pernah belajar. Jadikan diri anda yang sudah mendapatkan kesempatan untuk belajar di kampus-kampus terkemuka ini sebagai inspirasi. Sama sekali bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menanamkan bibit mimpi, iuntuk menjadi motivasi bagi adik-adik sebangsa.

Buatlah rekaman movie singkat tentang kegiatan anda. Gambaran saat belajar, saat di laboratorium, di kelas, di perpustakaan, di kampus dan di mana saja tempat sekarang anda menuntut ilmu. Jelaskan itu semua sebagai cerita, sebagai narasi kegiatan anda. Lalu kirimkan rekaman itu ke SD, SMP atau SMA anda atau yang lain. Jangan takut dianggap menyombongkan diri, tegaskan bahwa rekaman ini anda kirimkan untuk adik-adik sebangsa agar mereka kelak bisa melampaui keberhasilan anda.

Anda kirimkan rekaman ini sebagai iuran anda untuk menghadirkan mimpi di kelas-kelas di kampung halaman anda dan di manapun di negeri tercinta ini. Titipkan pesan disana bahwa Anda jauh dari tanah air tapi tidak pernah lupa dan akan selalu mendorong kemajuan bagi Indonesia.

Perjalanan anda di Kobe dan di manapun anda belajar tidak akan terlupakan. Jadikan masa di “pengasingan” ini sebagai masa membawa bekal ilmu sebesar-besarnya untuk memberikan makna pada saudara sebangsa.

Jika anda telah selesai belajar, anda tidak harus pulang cepat-cepat. Selesai kuliah langsung pulang itu baik-baik saja, tapi sesungguhnya pulang sesaat sesudah lulus membuat anda hanya bisa membawa pulang ilmu dari kampus dan selembar ijazah bukti telah tamat.

Menurut saya, jika usia masih muda apalagi jika belum ada kewajiban yang harus ditunaikan di tanah air maka akan lebih baik jika anda bisa mencari peluang untuk bekerja dan mencari pengalaman dahulu. Bekerja di institusi yang bagus di negeri maju bisa meluaskan wawasan, menambah jaringan di bidang anda.

Dengan begitu kelak saat pulang anda bisa membawa juga pengalaman bekerja dengan standard profesionlisme yang tinggi dan membawa jaringan yang anda bangun selama bekerja. Kehadiran anda di Indonesia kelak akan lebih berpotensi untuk memberikan manfaat dan makna yang jauh lebih besar. Silahkan anda pertimbangan sesuai dengan kondisi dan situasi yang anda hadapi.

Selamat belajar, selamat meneruskan perjalanan mulia di tempat-tempat jauh. Kemarin malam saat anda semua memperkenalkan diri, saya perhatikan wajah anda anda satu per satu. Saya menyaksikan anak-anak bangsa yang sedang jauh dari rumah asalnya, jauh dari keluarganya.

Setiap anda menyebutkan bidang ilmu yang sedang dipelajari, dalam hati saya mengatakan pada anda terdapat tanda akumulasi pahala dan didikan yang luar biasa dari orang-tua, dari para guru dan dari lingkungan tempat anda tumbuh.

Kini Anda sedang jauh dari mereka semua untuk meraih ilmu pengetahuan, pengalaman; ya anda pergi jauh untuk belajar, untuk menjawab tantangan zaman dengan mempelajari ilmu-ilmu termutakhir di bidangnya.

Anda sedang melewati jalan mulia. Jaga stamina: stamina fisik, stamina intelektual dan stamina moral. InsyaAllah anda kelak akan meraih kemuliaan.

Keluarga di tanah air tentu bangga dengan keberhasilan studi Anda, tapi saya yakin mereka akan lebih bangga saat keberhasilan studi itu menjadi awal baru kiprah anda untuk tetap memberikan makna pada saudara sebangsa.

Salam hangat dari tanah ibu.

Salam,

Anies Baswedan
----------
Ketika membaca pesan ini, merinding saya dibuatnya. Saya jadi ingat dengan hijaunya Indonesia, dengan langitnya yang berwarna biru cerah dan mataharinya yang hangat sehangat senyuman masyarakatnya. Ketika membaca ini, saya teringat juga akan perjuangan yang saya dan teman-teman saya lakukan untuk meraih Janji Kemerdekaan, yakni sebuah janji untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Saya termasuk orang yang beruntung, bahwa saya bisa merasakan janji tersebut. Sekolah secara gratis di sebuah fasilitas berstandar internasional, meskipun kami tidak pernah gembar gembor standar sekolah kami. Ketika saya menampakkan kaki saya di sekolah ini dan menarik nafas dalam-dalam, teringat Janji Kemerdekaan tersebut dan betapa saya sangat bersyukur sekaligus tertantang, karena saya lah yang bertanggung jawab terhadap generasi sesudah saya nantinya. Saya bertanggung jawab kepada mereka untuk membuat negara ini bukan lagi negara yang terkenal akan kekurangannya, namun negara ini bisa terkenal karena semangat putra dan putri mereka yang berjuang untuk memajukan tanah air mereka tercinta.
Membaca pesan ini juga membuat saya memiliki pandangan fresh terhadap cita-cita saya. Kadang-kadang saya ingin bersekolah untuk bisa mendapat gaji tinggi ketika nanti saya bekerja. Namun setelah membaca ini, niat saya kembali diluruskan. Ada tugas mulia yang menanti, yakni memberikan Janji Kemerdekaan itu kepada orang lain, kepada generasi dibawah saya. Maka, dari sekarang, mari berjuang bersama, wahai putra putri generasi bangsa.

Malang, 23 Januari 2013 di Kamar Asrama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,