26 November 2009

ASAL-USUL DESA KELUTAN

ASAL-USUL
DESA KELUTAN

FINA SAIDATUS SARIFAH, MAN 2 Kota kediri



Pada zaman dahulu. Ada sebuah desa yang warganya tengah memanen hasil tanamanya dan hasil panen warga sangat melimpah seminggu setelah panen hujan menguyur desa tersebut selama 3 hari, akibat dari hujan yang sangat deras dan lama, air sungai berantas sangat meluap dan banjirpun datang pada desa tersebut, banjir tersebut berlansung sangat lama dan kebutuhan warga tercukupi dari hasil panen. Jika warga igin makan-makanan yang lain maka mereka menukarkan baranganya kepada tetangganya mereka mengunakan sampan atau perahu kecil untuk berjalan ke rumah tangganya .
Setelah beberapa lama warga merasa resah karena hasil panenya sudah menipis untuk kebutuhannya. Dan hasil panen itu hanya cukup untuk 7 hari saja. Di saat resah atau bingung melanda datang seorang pemuda yang bernama Kelut. Warganya memangilnya dengan sebutan Raden Kelut karena sikapnya yang ramah, baik hati arif dan bijaksana. Sejak kedatangan Raden Kelut air yang mengenang di desa tersebut surut setelah 5 hari dari kedatanganya, setelah air surut atau tidak ada, warag melakukan aktifitasnya seperti saat sebelum banjir datang dan warga mengangap peristiwa ini sebagai keajaiban karena kedatangan kelut.
Di desa tersebut Raden Kelut mendapat perhatian yang baik dan para gadis desa tersebut banyak yang ingin di persunting oleh Raden Kelut. Setelah beberapa singgah di desa tersebut Raden Kelut melamar putri Tatan anak dari sesepuh desa. Putri Tatan sangatlah cantik parasnya dan baik budi pengkertinya. 3 hari sebelum pernikahan Raden Kelut dan putrid Tatan dilaksanakan hujan kembali sebelum mengguyur desa tersebut. Keresahan dan kesedihan melanda warga desa kalau akan terjadi banjir lagi.
Hujan menguyur desa itu selama 2 hari dan air mengenang sudah 1 jengkal dari tanah. Seorang dari warga menemui Raden Kelut untuk membatalkan pernikahannya mugkin akan terjadi petaka besar kalau-kalau Raden Kelut dan putri tatan menikah. Tapi Raden Kelut tidak menagapinya.
Raden Kelut dan putri tatan melaksanakan pernikahannya dengan segala persiapan, dan saat pernikaha dilangsungkan hujan tiba-tiba datang begitu derasnya. Warga sangat takut dan seorang dari warga berkata kepada Raden Kelut ”segeralah batalkan pernikahan ini”’ karena akan terjadi petaka dari pernikahan kalian. Tetapi Raden Kelut tidak mengubrisnya.
Setelah pernikahan raden kelut dan Putri Tatan genangan air agak meningi, warga semakin takut tapi lama kelamaan genangan air semakin telah surut walau tidak semua tempat di desa tersebut tergenang air. Setelah beberapa lama akhirnya Putri Tatan mengandung pada upacara Selapan, Raden Kelut menyuruh warga untuk berkumpul di rumah Putri Tatan. Raden Kelut dan warganya menbajatkan doa dan syukur atas diberikan Allah SWT. Dan setelah itu Raden Kelut menuju tanah becek dan luas yang berada agak jauh dari rumahnya di iringi warga Raden Kelut megeluarkan bungkusan yang berisi bijih beras ketan dan menyebarkanya di tempat tersebut. Dan Raden Kelut berkata kepada warga ”berhubung saya sudah lama singgah di tempat ini saya bermaksud pulang ke singgahsana saya dan saya akan mengajak Putri Tatan dan rawatlah tanaman ini” tanaman ketan ini akan berguna untuk kalian nanti.
Upacara pelepasan Raden Kelut dan Putri Tatan dari desa tersebut dilaksanakan. Sebelum mereka pergi salah satu dari penduduk desa berkata untuk mengenang jasa Raden Kelut dan Putri Tatan kita namakan desa ini menjadi sebuah desa yang bernama ”KELUTAN” dan sebagai tanda desa ini berada di bagian paling wetan atau timur dari daerah kulon atau barat sungai berantas.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,