02 Juni 2013

Prejudice Effect

 
Saya baru saja mengalami kejadian yang sangat memalukan. Lebih memalukan lagi karena saya tidak menggunakan otak dingin saya untuk menganalisa keadaan. Saya bercerita agar kalian tidak melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan. Saya juga berharap saya bisa menjadi lebih bijak dan menjadikan pengalaman ini pelajaran yang berharga.
Sudah sejak lama saya kehilangan modem. Tepatnya tanggal 21 Mei 2013 lalu. Saya sangat syok dengan kejadian itu, karena modem yang saya gunakan saya taruh diatas lemari. Jadi sangat kecil kemungkinannya kalau modem itu hilang begitu saja. Pasti ada tangan-tangan liar yang ikut campur dalam hal tersebut.
Besoknya saya langsung berkeliaran untuk mencari modem tersebut. Tanya sana Tanya sini, tapi hasilnya nihil. Tanya ke pihak administrasi asrama, tidak ada. Tanya kepada satpam yang shift hari itu, hasilnya juga nol. Saya benar-benar depresi.
Hari berlalu begitu saja. Tiba-tiba 1 Juni malam, hari Sabtu, adik kelas saya membawa modem yang mirip sekali dengan kepunyaan saya. Pertama saya curiga, jangan-jangan itu modem saya. Namun ketika dia menjelaskan bahwa modem itu dari movie night, kecurigaan saya hilang. Pasti ada banyak anak yang memiliki modem yang sama seperti ini.
Kemudian pada hari Minggu pagi tiba-tiba ada hasrat untuk mengecek apakah modem tersebut milik saya atau bukan. Saya coba, dan ternyata… dari histori modem itu menunjukkan kalau itu modem saya. Betapa lega hati ini. Meskipun pada saat itu adik kelas saya mengatakan kalau modem itu punyanya A, temannya, aku tetap percaya kalau modem itu kepunyaanku dan aku memiliki bukti-bukti yang kuat mengenai hal tersebut.
Sorenya saya bertemu dengan A untuk menjelaskan kalau modem itu kepunyaanku. AKu tunjukkan histori yang ada di modem tersebut yang ke show di dalam laptopku. Dia hanya diam dan mengalah. Dalam hati, aku tersenyum bahagia, modem itu bisa aku klaim, namun rasa bahagia itu langsung menjadi rasa bersalah dan malu ketika esoknya aku mencoba mengisi modem tersebut dengan pulsa.
Rasanya bahagia sekali bisa memakai modem ini dengan leluasa. Namun rasa aneh menyelumi hati saya ketika saya menyadari, pulsa yang saya beli ternyata belum juga saya terima. Saya cek berkali-kali modemnya. Kemudian, ketika saya cek nomor modem itu, ternyata bukan nomor modemku. Ini modemnya A. Selama ini saya salah. Rasa malu membungkus muka saya dan membakarnya. Aaargh.
Akhirnya dengan menanggung rasa malu, saya sms A dan setelah basa basi sejenak mengatakan kalau modem yang saya bawa ternyata punyanya A. Saya berikan ke dia dan saya masukkan wadah rajutan tangan. Setidaknya untuk mengatakan bahwa saya juga menyesal secara tidak langsung. A hanya tersenyum saja dan mengatakan tidak apa-apa.

Pelajaran yang dapat diambil.
Dari sini ada banyak pelajaran yang dapat diambil. Terutama adalah kita jangan jadi sok tahu ketika menyelesaikan masalah. Apalagi kalau nanti yang kita percayai “fakta” ternyata hanyalah delusi.
Jangan pernah “prejudice” kepada orang lain atau terhadap masalah. Jadi ketika ada suatu problem, saya yang dulunya langsung men-judge kalau itu adalah salah dan buruk, saya mulai memilih menganalisa masalah dari awal. Apa kesalahan, kenapa begini, kenapa begitu. Terus juga harus dilakukan dengan otak dingin dan objektif.
Semoga aku tidaka kan mengalami kesalahan yang sama untuk ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,