10 Juni 2013

Sekolah Kepemimpinan, Sekolah Idaman


Saat ini, konsep pendidikan di sekolah diobral. Berbagai macam opsi sekolah dengan beragam konsep tersedia.  Ada konsep pendidikan karakter, holistic education, sekolah kepemimpinan, keagamaan, sekolah yang menonjolkan prestasi akademis seperti olimpiade hingga RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang menuai kontroversi.
Meskipun begitu, tidak ada satupun konsep sekolah yang mampu menarik hati saya hingga membuat saya tersenyum senang jika saya berhasil menjadi siswanya kecuali sekolah kepemimpinan. Saya terinspirasi dari sekolah saya sendiri, SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy), buku The Leader in Me, dan juga buku Seven Habbits for Highly Effective Teens yang keduanya merupakan karangan Steve R Covey dan Sean Covey. Dari situ, kemudian saya olah dengan ide saya sendiri.
Sekolah kepemimpinan yang saya maksud bukan hanya mencetak pemimpin masa depan yang berkarakter, namun juga yang mampu menjadikan kepemimpinan itu sebagai gaya hidup. Artinya, setiap siswa di sekolah itu mampu membawa diri mereka dengan baik, memiliki visi yang jelas bagaimana merayakan kehidupan ini dan mampu berkontribusi terhadap masyarakat atas apa yang mereka peroleh sekarang.
Menurut saya, banyak sekolah yang terlena dengan angka. Maksudnya, banyak sekolah yang selalu ingin menjadi terbaik dalam bidang akademis. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya sekolah yang memforsir siswanya untuk mendapatkan nilai tinggi dalam ujian, mendapatkan emas dalam olimpiade, dan selalu unggul dalam akademis. Efek sampingnya, banyak siswa yang lupa dengan hal-hal kecil dan mendasar untuk hidup dimasa depan, seperti cara berkomunikasi yang baik, bagaimana memotivasi diri, bertanggung jawab, bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan cara pro aktif dan sebagainya. Sehingga banyak kan, orang-orang pintar namun tidak bisa bersosialisasi, atau orang pintar namun egois.
Tentunya, untuk menjadi sekolah berbasis kepemimpinan, ada unsur-unsur yang harus mendukung di dalamnya. Seperti bagaimana kualitas guru dan attitude-nya, fasilitas dan lingkungan sekolah yang ada, bagaimana hubungan guru dan orang tua, bagaimana hubungan antar siswa, dan yang paling penting, bagaimana kurikulumnya.
Guru, yang paling penting bukan hanya kemampuannya dalam mengajar, namun juga sikapnya kepada siswa. Guru harus bisa memahami siswa, memotivasi siswa, dan menunjukkan contoh-contoh positif yang dapat membangun jiwa kepemimpinan siswanya. Mereka juga bisa menjadi orang tua sekaligus teman bagi siswa. Sehingga, tugas guru akan menjadi lebih luas dan juga lebih lama, tugas guru tak terbatas dalam kelas dan sekolah. Di luar kelas pun, guru harus menjadi contoh bagaimana sifat kepemimpinan itu berlangsung.
Selain guru yang mendukung, perlu juga menciptakan atmosfer sekolah yang mampu memotivasi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Saya sudah sering mendengar banyak anak yang punya potensi dalam bidang seni, namun karena atmosfer sekolahnya lebih mengedepankan akademis, maka potensi anak itu meredup. Saya tidak ingin di sekolah kepemimpinan yang saya idamkan hal ini terjadi. Saya ingin setiap anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan menemukan impian mereka. Oleh karena itu, sekolah kepemimpinan harus bisa menciptakan kesempatan ini dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung seperti alat-alat seni untuk pencinta seni dan science laboratory untuk anak yang gila dengan penelitian sains. Selain itu sekolah juga harus mendukung kegiatan olahraga, organisasi, dan kegiatan bakti masyarakat yang bertujuan untuk mengamalkan apa yang sudah dipelajari di sekolah ke masyarakat.
Dalam sekolah yang baik, hubungan antar orang tua dan guru merupakan salah satu parameter yang harus diukur. Orang tua dan guru harus bisa menjadi partner yang harmonis dalam memberikan pendidikan kepemimpinan kepada siswa. Jangan sampai sifat kepemimpinan melekat pada siswa di sekolah, namun ketika di rumah karakter-karakter kepemimpinan itu terlupakan. Selain itu, guru dan orang tua harus bahu membahu untuk memantau perkembangan siswa, untuk itu perlu dijaga komunikasi yang baik antar kedua belah pihak.
Selain hubungan antara orang tua dan guru, hubungan antar siswa juga parameter yang tak kalah penting. Sudah selayaknya hubungan antar siswa itu akrab dan harmonis. Antar siswa saling mendukung satu sama lain dalam hal kebaikan, saling menghormati, toleransi, menghargai satu sama lain, mengingatkan satu samal lain jika ada yang khilaf, dan bisa saling memotivasi antar teman. Jika pun ada kompetisi, maka diharapkan kompetisi itu berlangsung secara sehat. Saya sudah sering melihat teman-teman saya melakukan kompetisi secara sehat. Meskipun A dan B berkompetisi untuk mendapat nilai tinggi dalam pelajaran biologi, kompetisi itu hanya akan berlaku saat jam ujian saja. Diluar itu, mereka berdua aktif membantu dalam belajar. Saya berharap di sekolah kepemimpinan nanti hubungan antar teman itu bisa seperti itu.
Karena ini adalah sekolah kepemimpinan, maka kurikulum di dalam sekolah ini memegang peranan fundamental. Selain menjadi fondasi untuk menentukan bekal apa saja yang perlu dibawa siswa-siswi mereka berlayar mengarungi hidup, kurikulum itu juga dibutuhkan untuk mengasah potensi mereka.
Jujur, saya kurang ‘sreg’ dengan kurikulum Indonesia sekarang ini. Menurut saya, pembatasan minat untuk IPA atau IPS sungguh membuat siswa terperangkap dan membuat mereka galau untuk meraih cita-cita mereka. Orang seperti saya yang cinta biologi namun kurang berminat untuk memperdalam fisika akan terperangkap di kelas IPA yang membuat jenuh. Kurikulum yang saya inginkan adalah kurikulum yang membuat siswa-siswi nya berhak memilih pelajaran yang mereka inginkan, meskipun mereka juga wajib mengikuti mata pelajaran wajib seperti kewarganegaraan.
Saya ingin sekolah kepemimpinan juga memiliki kurikulum seperti itu. Nanti, setiap siswa akan mengikuti pelajaran wajib seperti kewarganegaraan, matematika, sejarah dan budaya Indonesia, agama (disesuaikan dengan agama masing-masing), dan yang penting kepemimpinan. Untuk pelajaran kepemimpinan akan menggunakan metode dari 7-Habbits dan juga The Leader in Me dari Steven R Covey. Selain itu mereka berhak memilih pelajaran yang lain. Bagi yang suka sains mereka bisa memilih Fisika, Kimia, atau Biologi. Begitupun dengan siswa yang suka IPS. Diharapkan, dengan memilih pelajaran yang sesuai dengan minat mereka, mereka akan lebih fokus dan serius dalam mempelajarinya.
Permasalahan lain yang mungkin muncul adalah bagaimana dengan pendidikan lanjutan mereka. Sistem masuk universitas akan diganti. Bukan berdasarkan IPA, IPS, atau IPC lagi. Namun mereka cukup mengambil tes kemampuan dasar, potensi akademik, rapor dan hasil ujian mereka. Untuk menambah poin, mereka juga bisa mengambil tes  mata pelajaran yang sesuai dengan jurusan mereka yang sudah terintegrasi secara nasional. Contoh, jika saya akan mengambil jurusan bioteknologi waktu kuliah, maka di SMA setidaknya harus mengambil pelajaran Biologi dan mengambil tes mata pelajaran Biologi untuk masuk kuliah selain persyaratan regular yang sudah ada.
Karena sistem masuk universitas berbeda, maka setiap sekolah akan memiliki konselor yang menjadi konsultan siswa untuk bertanya mata pelajaran apa saja yang harus diambil untuk masuk jurusan tertentu di universitas pada tahun pertama di semester kedua tahun SMA mereka. Kurikulum dan sistem perkuliahan akan dijadikan selaras. Sehingga tidak ada istilah mata pelajaran yang sia-sia untuk dipelajari, karena mata pelajaran yang mereka ambil di waktu SMA otomatis akan menjadi bekal untuk masuk universitas.
Ketika kurikulum sudah diset, maka yang penting sekarang adalah penentuan ujian kelulusan. Ujian kelulusan akan dilakukan berdasarkan mata pelajaran yang akan mereka ambil. Bentuk ujiannya pun berbeda. Ujian kelulusan merupakan adaptasi dari ujian internasional dari Cambridge, atau International General Certificate of Secondary Education (IGCSE). Ada dua tipe ujian, tipe pilihan ganda dan juga esai. Meskipun begitu, jumlah tipe per pelajaran juga akan berbeda.
Contohnya, saya mengambil 5 mata pelajaran, yakni Ekonomi, Biologi, Kimia, Bahasa Inggris, dan IT. Maka ujian kelulusan saya yang dilaksanakan secara nasional hanyalah 5 ini. Sedangkan pelajaran wajib ujiannya dilaksanakn secara intern oleh sekolah. Meskipun hanya 5 mata pelajaran, sebenarnya saya nanti akan melakukan sekitar 15 kali ujian. Karena di beberapa mata pelajaran akan ada ujian praktik, seperti Biologi, Kimia, Bahasa Inggris, dan IT. Ujiannya pun tidak berlangsung setiap hari. Oleh karena itu, meski hanya 5 mata pelajaran, ujiannya bisa berlangsung selama satu bulan.
Untuk waktu ujian dilakukan pada pagi hari sesuai dengan jadwal yang telah disediakan dan terintegrasi. Sehingga tidak ada jadwal pelajaran yang akan bertabrakan jadwalnya. Namun, yang mungkin terjadi adalah satu hari dia bisa ujian 3-4 kali kalau dia mengambil banyak mata pelajaran.
Ruangan yang digunakan untuk ujian harus bersih, jarak meja ujian per siswa adalah 1,5 meter, yang merupakan standar ujian dari IGCSE sendiri. Hal ini akan melatih siswa untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan mandiri. Selain itu peraturan ujian juga sama seperti ujian nasional di Indonesia sekarang ini.
Tipe ujian kelulusan seperti ini selain akan mendapatkan hasil yang ‘lebih’ murni juga dapat mengasah kepemimpinan siswa. Pemimpin itu bisa memanajemn waktu mereka, dengan ujian yang dilaksanakan dalam jangla waktu satu bulan, maka mereka harus benar-benar pandai mengatur waktu. Dengan demikian, selain hasil akademis juga dicapai, mereka secara tidak langsung juga mendapatkan soft skill yang sangat berguna.
Ini adlah mimpi saya mengani sekolah kepemimpinan. Kepemimpinan itu bukan posisi, namun sikap. Sekolah ini lah yang melatih sikap tersebut. Bukan secara militer, namun dengan senyuman para gurunya, dengan canda tawa siswa siswanya. Saya ingin sekali sekolah kepemimpinan bia dirasakan oleh banyak anak. Bisa diterapkan di Indonesia.
Melihat fakta dunia kependidikan di Indonesia membuat saya miris. Betapa saya ingin mengubah semua itu. Saya yakin banyak orang yang berpikiran sama dengan saya, namun sayangnya sedikit sekali fasilitas yang mampu menampun ide-ide seperti ini.

Saya berharap pendidikan di Indonesia lebih memberikan ruang bergerak kepada siswi-siswinya.  Cukup sudah sistem pendidikan yang hanya menciptakan robot dan penghafal, cukup sudah ujian tidak jujur, cukup sudah perilaku amoral yang dilakukan pelajar, cukup sudah berita anak yang tida bersekolah karena tidak ada biaya, cukup sudah dengan segala ketimpangan yang ada. Saya hanya berharap, suatu hari nanti, ketika generasi dari saya memimpin, apa yang saya cita-citakan bisa terwujud, dan ketika saya melihat anak-anak Indonesia tersenyum dengan bangga dibawah bendera merah putih pada hari Senin pagi, saya tahu bahwa mimpi-mimpi ini menjadi kenyataan.


tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba sekolah dambaanku yang helat oleh Youth ESN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,