13 Oktober 2012

Menjual Prinsip? [No!]

Sebagai seorang pelajar yang normal, tentunya nilai bagus merupakan idaman. Oleh karena itu, banyak cara yang ditempuh untuk mendapatkan nilai bagus tersebut. Ada yang belajar habis-habisan tiap malam, ada yang enak-enakan karena memang dari sononya udah pinter, ada juga yang kurang beruntung melakukan langkah dengan menjual prinsip (atau apalah namanya) dan memutuskan untuk mencontek.
Nah, disinilah hati ini bingung mau milih apa. Secara prinsip (di SMA ini tambah mantap pokoknya) aku bisa dikatakan nggak pernah menyontek pada saat ujian. Yah, pernah sih, satu atau dua kali waktu ujian Namun entah kenapa ketika melihat teman yang mencontek dan mendapat nilai bagus itu rasanya risih dan iri. Kita yang berusaha jujur mati-matian malah mendapat sesuatu yang jelak. Sedangkan mereka yang menjual prinsip mereka atau menjual kejujuran mereka demi selembar niai mendapat predikat "siswa pandai".
Seharusnya kita harus mulai mendefinisikan kembali apa itu "nilai bagus". Apakah nilai tersebut merupakan nilai yang kita dapat dengan usaha keras kita sendiri atau nilai bagus yang kita dapat dengan kong kalikong dengan teman. Kita tidak tahu dan nggak ada yang tahu. Tapi kalau seandainya boleh memilih, nilai bagus itu adalah nilai yang didapat atas jerih payah siswa itu sendiri. Bukan ataus jerih payah bersama waktu ujian.
Hal yang cukup jelas adalah, bahwa nilai bagus hasil mencontek adalah nilai sesaat. Kamu bisa bangga dengan nilai 90 pada biologi misalnya, yang meskipun itu hasil mencontek. Tetapi, nilai tersebut nggak bisa bantu kamu di dunia nyata. Kamu boleh sedih dengan nilai biologi yang cuma 78 tapi itu murni dan bertahan lama. Jadi, I'll choose the second one. Nggak amasalah nilai jelek yang penting itu hasil kerja keras kita dan kita belajar dari kesalahan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,