04 Juli 2010

Remaja Memandang Valentine Day
Problem dan Solusi

Oleh : Danang Tri Prastiyo

Di era globalisasi seperti sekarang ini menuntut semua Negara didunia untuk membuka diri secara ”vulgar” untuk menerima sesuatau dari negara lain. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan positif. Disadari maupun tidak arus globalisasi yang semakin tak terkendali ini telah mengikis eksistensi budaya khususnya di Indonesia. Arus budaya asing tak semuanya baik, filterisasi budaya sulit dilakukan karena masyarakat Indonesia cenderung kurang menyukai budaya sendiri yang terkesan ndeso dan jauh dari kemajuan, mereka tak tahu makna yang terkandung dalam budayanya sendiri. Mereka lebih suka budaya luar yang banyak dianut kaum mayoritas dan dirasa modern, dilain sisi mereka juga tidak tahu bahwa budaya asing itu banyak yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
Salah satu sasaran globalisasi adalah remaja, remaja yang cenderung menyukai hal baru menjadi sasaran empuk globalisasi. Punk, Genk adalah sedikit contoh upaya globalisasi utnuk menjerumuskan remaja khususnya di indonesia. Sebagai contoh budaya asing yang telah mengakar pada diri remaja indonesia adalah Valentine Day.
Kebiasaan merayakan valentine day ini sudah menjadi rutinitas bagi remaja, seperti halnya Idul Fitri ataupun idul Adha, banyak kalangan yan menyatakan bahwa valentine day itu haram. Mereka mengatakan itu bukan tak berdasar, mereka tahu dan bahkan saya juga pernah menbaca sebuah data bahwa penjualan kondom naik derastis pada valentine day. Hal ini memang sangat memprihatinkan. Jelas untuk langsung menghapus budaya ini merupakan langkah yang jauh dari kata berhasil, karena semakin remaja dilarang maka mereka akan semakin brontak.
Saya sendiri juga agak cangung memberikan pandangan saya mengenai valentine day. Tapi demi sebuah kepentingan. Menurut saya valentine day bisa dibilang haram bisa juga dibilang halal. Jika valentine day itu dilakukan denga hal-hal yang bersifat positif, maka hal itu halal. Tapi jika valentine day itu dilakukan dengan hal-hal negatif seperti free sex oleh pasangan yang tidak ada ikatan sah menurut agama dan negara ( pacaran), maka saya yakin semua ajaran agama pasti memandang hal itu haram.
Mungkin jika remaja tidak merayakan valentine dayy maka akan dianggap remaja kuno, kolot, anti modernisasi. Semua agama tidak ada yang anti moderrnisasi, agama sangat menganjurkan modernisasi sepanjang hal itu baik, tapi apakah modernisasi itu harus bebas dan jauh dari aturan agama dan adat ketimuran yang berlaku pada bangsa kita.
Selanjutnya sebagai remaja bagaimana seharusnya kita menyikapi akan hal itu, saran saya, boleh kita merayakan valentine day tapi dengan cara yang sesuai dengan nilai ketimuran dan koridor agama kita masing. Contohnya kita rayakan denagn membuat tulisan baik itu puisi ataupun cerpen kisah cinta dan yang lainnya. Hal ini sangat positif karena disatu sisi kita tetap merayakan valentine day, disisi lain ada hikmah terselip, seperti kita dibuat belajar bahasa dan langsung menerapakannya dalam tulisan kita. Cara yang kedua, dengan cara memberiakan hadiah pada saudara kita semisal adik atau kakak, karena nabi muhammad sangat menganjurkan pada umatnya untuk saling memberi hadiah.
Akhirnya mari bersama kita buat masa remaja ini mengasikkan dengan hal-hal positif, kita adalah mutiara yang akan membuat negara ini bersinar. Indonesia dan segala yang ada didalamnya patut dan harus kita banggakan, sedikit kata penyemangat ” jika kita keras pada masa muda kita, maka masa depan akan lunak pada diri kita”. Tetap yakin bahwa remaja Indonesia baik dan akan selalu menjadi lebih baik, pada akhirnya menjadi yang terbaik.


Jogjakarta, 22 Januari 2009
Special to:
1. Cobe Community Matsanda, semua
berawal dari impian+imajinasi+keyakinan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,