Tampilkan postingan dengan label Words the Art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Words the Art. Tampilkan semua postingan

26 November 2013

Gloomy Poem

I don't know that I'm able to write a melancholy poem like this one. However, my surprised is not as big as the timing when I found this. You must know that it has been ages that I didn't open my blog for many reasons (the low of internet connection are on the list, and I'm sure I could die because of bored waiting for this page to appear).

This is a poem I wrote a month or so ago when I tried to killing my time. I hope this poem doesn't kill you though.

Gloomy Sunday


The mist shrouded sunday
The sun faded away
As times fly
My friends gone
I left alone

12 Juli 2013

Learn to Fly; A short story


Learn to Fly
by M A Manaf

Raffi menatap datar layar komputer yang ada di depannya. Dadanya dag dig dug. Bahkan sejak tadi pagi ketika temannya mengatakan bahwa sore kemarin pengumuman SBMPTN usdah ada. Sekarang dia ada di warnet favoritnya mengecek nasibnya lewat jaringan computer. Tangannya yang dari tadi gemetaran memegang mouse langsung berhenti lemas melihat tulisan yang tertera di layar komputer itu. Tulisannya simple, tidak aneh-aneh. Hitam bold yang tertulis secara kapital dengan background warna putih. Seakan mengatakan kalau pernyataan ini absolut, dan ketika dia benar-benar menelan kata-kata itu, hampa tak berasa, dia bisa mendengar jantungnya berdegup tak karuan, dadanya panas dan kemudian boom! Hampa. Tak berasa apa-apa.
ANDA TIDAK LOLOS SBMPTN
Sembari membaca tulisan itu berkali-kali dengan rasa tak percaya, hatinya panas, terasa aneh, seperti ada yang memeras dan memanaskannya sekaligus. Itu hanyalah adrenalin, pikirnya. Namun dia tahu jauh di dalam hati kecilnya dia tahu, itu adalah rasa ketika impiannya pecah berkeping-keping seperti kaca yang hancur.
“Tak mungkin”, bisiknya tak percaya.
Dia menarik nafas dengan pelan, ayo tenangkan diri, atur nafas, ini pasti ada kesalahan, aku pasti lolos kok, ini pasti error. “UUhhh…huuuuhhh”, dia hanya mendengar suara nafasnya di telinganya, meski kenyataannya penghuni warnet disekelilingnya ramai berbincang dan bermain game.
Dia memutuskan untuk membuka facebook dan e-mail untuk mencari hiburan. Ayolah, kalau error pasti beberapa menit lagi akan ada perbaikan. Di facebook dia melihat status teman-temannya yang diterima di universitas pilihan mereka. Ada mengucap Alhamdulillah, ada yang berucap Puji Tuhan, Thank God, berbagai macam bentuk syukur yang ditujukan pada yang Maha Kuasa. Tapi aku sedang tidak bersyukur. Raffi melihat-lihat grup sekolahnya, mencari-cari teman-teman senasib. Jari-jarinya bergerak lincah menggenggam mouse computer dan suara klik klik klik terdengar di kepalanya. Seperti dengan membuka banyak tab sekaligus bisa menghilangkan rasa aneh yang ada di dadanya.
“Wah, ada satu teman senasib!”, gumamnya. Entah kenapa rasa aneh yang ada didadanya sedikit berkurang. Dia langsung melihat profil temannya. Tulisan galau dan sok filosofis terbaca olehnya.
Bukankah biasanya yang kuat yang mendapat cobaan? Toh Tuhan pasti akan memberikan penyelesaian kan?
Dia membaca tulisannya dan mengklik, like di status itu. Dalam hati dia tersenyum sinis, betapa manusia mencari sokongan semangat dari kata-kata yang mungkin dia sendiri belum terlalu paham apa artinya. Pasti dia Cuma sok tabah, mungkin sekarang dia lagi di depan computer nangis. Munafik! Mungkin dia tidak akan menulis seperti itu jika dia sudah bekerja keras seperti Raffi. Setidaknya jika dia tahu bagaimana aku mengikuti bimbingan belajar dan menelan soal-soal SBMPTN seperti snack, pikir Raffi sarkastik.
Raffi kemudian ingat dengan hipotesis hasil error milik akunnya. Cepat-cepat dia mengetik lagi alamatnya dengan berdoa semoga apa yang dia prediksikan betul. Kemudian dia memasukkan nomor miliknya pelan-pelan, sambil lirih berdoa. Tangannya gemetar lagi. 1-3-1-5-5-0-5-4-7-3, kemudian memasukkan tanggal-bulan-tahun yang sangat akrab dengan dia akhir-akhir ini gara-gara keseringan mengisis formulir untuk kuliah.
Dia menarik nafas lagi, tangan kirinya di dada dan dia menghadap keatas seperti meminta petunjuk. Tangan kanannya yang tiba-tiba gemetar memegang mouse mengklik kolom dengan tulisan Lihat Hasil.
Dia memejamkan mata dan dalam detik ini dia merasa bodoh sekali berharap kejaiban terjadi. Peluangnya mungkin satu banding sejuta, bodoh!. Namun rasa penasarannya menang. Dia menatap layar komputernya penuh harap, matanya yang tadi bercahaya dengan harapan mati seketika ketika dia melihat tulisan yang sama yang menimbulkan rasa seperti terbakar dan diperas sekaligus pada hatinya.
ANDA TIDAK LOLOS SBMPTN.
***
Dalam perjalanan pulang dia masih belum percaya dengan apa yang menimpa dia. Ini pasti kesalahan, Dia selalu mendapat PG tinggi yang seharusnya bisa menjebol pilihan pertamanya. Ini bahkan pilihan kedua dan ketiga tidak ada yang masuk. What the hell!, dengan umpatan itu dia menendang kerikil di depannya, seketika kerikil itu meloncat jauh, melambung dan menuju arus kendaraan di jalan yang Ia lalui. Seorang pengendara sepeda motor menatapnya garang dan berucap tanpa suara yang Raffi tangkap sebagai makian. Raffi hanya melihat pengendara sepeda motor itu dengan muka datar dan mata menatap tajam, seakan mengatakan peduli apa?
***
Sesampainya di rumah, Raffi langsung menuju dapur mencari air minum. Sebelum dia sampai di depan kulkas, ibunya datang. Wanita paruh baya tersebut tersenyum dengan ramah menatap Raffi, tangannya sibuk mengaduk sesuatu yang berbau sedap. Dia berharap dengan membuka pengumuman SBMPTN nya di warnet dia masih ada waktu untuk menyiapkan jawaban jika ada hal buruk terjadi, meski jaringan internet di rumahnya ada 24 jam.
“Gimana Nak, pengumumannya?”
Tak siap dengan pertanyaan Ibunya, Raffi membuka kulkas dan mengambil air minum sambil menjawab, “Nggak lolos Ma”, dibukanya tutup botol jus jeruk kemudian diminumnya dengan pelan tanpa menatap Ibunya.
“Maksud kamu?”, Ibunya masih belum paham.
“Ya, nggak lolos Ma. Aku nggak masuk kedokteran”, jawab Raffi setengah hati.
“Tapi kamu masuk dipilahan dua kan?”, Ibunya bertanya penuh harap. Sejenak dia berhenti mengaduk sup. Apinya dia kecilkan.
Raffi menutup botol jus jeruk dan memain-mainkannya, “Nggak Ma, nggak ada universitas yang nerima aku lewat SBMPTN ini”, Raffi berhenti sejenak, “Maaf Ma”. Shit! Kenapa mata gue berair,Shit!
Ibunya yang melihat Raffi menekuk kepala dengan sedih menuju Raffi yang sekarang duduk di kursi meja makan. Ibunya dengan pelan menaruh tangannya di pundak Raffi.
“Jangan sedih Raffi, kalau kamu nggak bisa masuk kedokteran, berarti memang sulit seleksi masuknya”. Mendengar kata-kata Ibunya yang penuh dengan rasa pemahaman entah kenapa membuat Raffi tambah melankolis. Dengan gaya sewajar mungkin dia mengucek matanya, gue gak boleh nangis, Damn!.
Dengan pelan, Raffi balik badan menghadap Ibunya, “Ma, entar gimana ngomong ke Ayah?”, dia bertanya dengan pelan. Dia melihat Ibunya menggigit bibir dan matanya menerawang.
“Nanti saja dibahas, toh Ayahmu belum pulang kerja kan?”, Ibunya berkata dengan meyakinkan, “Sudah, gak usah nangis, sekarang cari adik kamu Mia di rumah tetangga, mungkin di rumah temen kamu Naufal. Sekarang adiknya sama adik kamu geng. Ajak pulang, karena makan siang udah siap”, Ibunya tersenyum sambil kembali menuju kesibukannya.
“Ma, Raffi gak nangis. Ini cuma kena debu SBMPTN”, Raffi membantah sambil berjalan pergi ke luar lagi. Entah kenapa memikirkan percakapannya dengan Ibunya membuat dia tersenyum.
***
“Assalamu’alaikum…”, Raffi sekarang berdiri di depan pintu rumah sahabat SMP nya. Dari pintu dia bisa mendengar suara cempreng adiknya bermain dengan anak lain, dia juga mendengar suara televisi yang sepertinya menayangkan film anak-anak. Sambil mencuri dengar, dia mendengar suara langkah kaki bergegas menuju pintu.
“Waalaikum salam…”, Ucap seorang cowok sebaya Raffi, “Eh Raffi, gimana bro SBMPTN kamu?”, ucap Naufal sambil mengulurkan tangan, menjabat tangan Raffi.
Tak siap dengan serbuan pertanyaan, dia berusaha menjawab dengan gaya sebiasa mungkin.
“Gak masuk tuh. Gagal”, ucap dia sembari menyunggingkan bibir yang menyerupai senyuman, “Kamu gimana?”, Raffi balas bertanya sambil mengikuti Naufal duduk di ruang tamu.
“Yah, “, dia mendengar Naufal mendengus, “Sama nggak lolosnya”.
Mendengar ucapan Naufal  membuat Raffi terkejut sendiri. Ternyata dia tidak sendirian menghadapi beban kegagalan SBMPTN. Sahabatnya juga bernasib sama, dan mungkin ribuan pelajar sekarang juga menghadapi situasi yang sama. Memikirkan itu membuat rasa sakit di dadanya berkurang.
“Kok bisa?”, tanya Raffi.
“Nggak tahu juga, mungkin gara-gara ngambilnya terlalu tinggi kali ya, jadi nggak bisa masuk,” Raffi mendengar Naufal mendengus lagi dan menjelaskan, “Atau kalah doa sama anak-anak lain”, Naufal tersenyum sambil membenahi kacamatanya.
“Emang  kamu milih apa aja?”, Tanya Raffi yang sekarang menghadapi Naufal dengan serius.
“FTTM ITB, FTMD ITB, sama Teknik Geologi ITS. Dari ketiga itu nggak ada yang masuk, padahal aku yakin banget setidaknya bisa masuk ITS, tapi ya nggak tahu lagi”, Naufal mengangkat bahu kemudian melanjutkan, “sedih sih gagal SBMPTN, tapi hidup nggak berhenti gara-gara SBMPTN kan?”, Naufal menambahkan secara retoris sambil tersenyum. Wajahnya tenang, matanya cerah. Raffi tak habis pikir bagaimana Nufal bisa menghadapi kenyataan ini dengan sikap yang tenang.
“Tapi kalau gagal SBMPTN ini kan, gimaan ya, malu banget men, apa kata temenku yang lain? Bukannya Raffi siswa teladan ya? Kok nggak bisa masuk SBMPTN sih?”, ucap Raffi menirukan celotehan yang mungkin akan muncul ketika semua temannya tahu Raffi nggak lolos SBMPTN.
Naufal membenahi kacamatanya dan berkata, “Emang aku juga nggak digituin?”, sejenak dia menatap Raffi sambil menaikkan salah satu alisnya, kemudian dia melanjutkan, “Kayak gitu lumrah kok sebenarnya, semua orang pasti bertanya-tanya penasaran kenapa kita yang dianggap bisa malah nggak lolos. SBMPTN itu yang ikut jutaan, yang diterima berapa, cuma seratus ribu berapa kan? Selain pake otak, pake doa juga. Bener mungkin kita termasuk pintar, otak kita encer, tapi doa kita? Hubungan kita sama Tuhan? Siapa yang tahu? Temen-temen kita yang mungkin kita anggap biasa tapi bisa masuk SBMPTN kan juga piihannya beda sama kamu yang kedokteran atau aku yang FTTM ITB. Saiangannya ketat…! Lumrah lah kalau nggak lolos”, Naufal tersenyum diakhir ucapannya yang seperti khotbah menurut Raffi.
Raffi berpikir sebentar mendengar khotbah Naufal. Membenarkan poin-poin yang diucapkan sambil menganggukkan kepala tanda setuju meski dia masih belum percaya kok bisa dia tidak diterima,”Terus langkah kita selanjutnya gimana? Aku denger kan ITB nggak nerima mahasiswa diluar jalur undangan sama SBMPTN kan?”, Raffi bertanya kepada Naufal.
Mendengar pertanyaan itu, Naufal menjawab dengan tersenyum, “Emang sih. Kecewa mendengar kalau ITB nggak nerima mahasiswa diluar kedua jalur tersebut. Tapi ya mau gimana lagi”, ucap Naufal pasrah, “Mungkin aku akan ngambil di ITS yang masih ada hubungannya dengan pertambangan, belajar lebih giat agar menonjol, terus bisa dapat beasiswa S2 diluar negeri. Bagi kita yang kata kamu pinter ini”, Naufal menekankan kata pinter seperti mengejek “Kita malah ada banyak kesempatan untuk menonjol dan mendapatkan beasiswa. Kalau aku di ITB misalnya, saingannya banyak banget. Pasti pinter-pinter. Kesempatan agar menonjol juga berkurang kan?”, Lagi-lagi Naufal mengeluarkan argumen yang masuk akal.
“Bagi kamu yang pengen masuk kedokteran UI lewat SBMPTN, bener kamu emang nggak lolos. Tapi kamu ikus Simak UI dan Utul UGM kan? Doa terus agar bisa diterima. Terus masih ada juga alternatif universitas lain yang punya faklutas kedokteran yang bagus yang mungkin masih bisa nerima kamu kayak UNAIR sama UB. Apalagi uang kayaknya bukan masalah bagi keluarga kamu. Percaya deh Raf, dari semua temenku, kamu lah orang yang paling beruntung meski kamu nggak diterima lewat jalur SBMPTN”, ucapan Naufal kali ini menohok Raffi.
Sejak tadi setelah pengumuman dia selalu merasa kacau, kecewa. Namun setelah mendengar perkataan Naufal tadi, dia masih punya banyak kesempatan untuk mengambil kedokteran dibandingkan dengan anak lain, dan dia juga bisa lebih menonjol nantinya. Asyik, bisa berkesempatan menjadi mahasiswa teladan, pikir Raffi optimis.
“Terus ini ada juga”, Naufal melanjutkan lagi, “Kamu atau kita ini lebih beruntung dibandingkan temen-temen yang tertarik dengan jurusan yang cuma ada di universitas tertentu saja, nggak ada yang lain. Contohnya adalah SITH-Rekayasa ITB. Jurusan bioengineering itu cuma ada di ITB doang. Nggak ada di universitas lain. Temenku ada yang kayak gitu. Dia suka banget dengan bioengineering dan dia juga udah optimis bisa diterima soalnya nilainya dia kalau TO SBMPTN itu pasti tinggi, bisa masuk jurusan itu. Ternyata, dia nggak masuk. Bandingin dengan kamu, kayaknya dia sudah terobsesi dengan SITH-Rekayasa ITB. Nah, sekarang dia bingung sendiri gimana nanti kuliahnya. Percaya deh, kamu lebih beruntung”, Naufal menyimpulkan dengan meyakinkan.
Raffi kembali tertohok, “Thanks ya udah bikin aku lebih baik”, Raffi berusaha tersenyum terus dia ingat tujuan dia kesini, “Aku mau jemput Mia dulu, tadi Mama udah nyuruh aku buat jemput dia”, Raffi berkata sambil berdiri.
“Oh ya, aku juga lupa”, Naufal tersenyum, “Eh, besok kalau kamu mau riset universitas bareng aku kesini aja atau aku ke rumah kamu, gimana? Toh aku juga udah lama banget nggak ke rumah kamu”, Naufal berkata sambil mengantarkan Raffi ke ruang keluarga untuk menjempt adiknya.
Sambil berjalan pulang, Raffi berfikir mengenai perkataan Naufal tadi. Betapa egois nya dia berfikir bahwa dia adalah orang yang paling kecewa dan paling tidak beruntung, padahal sekarang teman-temannya pasti banyak juga yang mengalami hal yang sama. Raffi mengingat bahwa dari kecil dia belum pernah merasakan rasanya tidak bisa mendapatkan sekolah favoritnya. Dari SD hingga SMA dia selalu diterima di sekolah idamannya, mungkin sekarang saatnya roda harus berputar. Dia harus bisa merasakan bagaimana deseperate nya anak yang belum mendapat sekolah agar dia bisa lebih rendah hati dan memiliki mental yang kuat. Toh, dia masih punya Simak UI dan Utul UGM. Raffi tiba-tiba tersenyum, dia masih punya harapan untuk masuk fakultas kedokteran. Pengalaman ini akan membuatnya untuk belajar terbang. Bukankah kalau kita ingin terbang kita harus menjejak tanah dahulu, susah dahulu, jatuh, baru kita bisa membentangkan sayap dan terbang diangkasa. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang familiar tapi dia tidak bisa mengungat apa itu, kayaknya ada hubungannya dengan lagu.
“Mia, hati-hati!”, Raffi menggandeng tangan adiknya pulang.
***
Raffi duduk dengan deg-degan waktu makan malam. Dari tadi dia berusaha agar tidak menatap wajah Ayahnya yang sedari tadi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dengan pelan dia makan sambil berfikir bagaimana mengatakan kegagalan SBMPTN kepada Ayahnya.  Sebelum dia mengatakan sesuatu, Ayahnya sudah bertanya,
“Raffi, gimana SBMPTN kamu Nak?”, Ayahnya melihatnya dengan tajam dari kacamatanya. Sekilas seperti ada kilatan cahaya di kacamata Ayahnya, membuat wajahnya yang impassive tambah membuat Raffi takut.
“Hmm, itu Yah, Raffi nggak lulus SBMPTN”, Raffi hanya menatap makanannya yang tinggal setengah sambil berdoa. Suasana hening, Mia yang biasanya ramai waktu makan dengan denting piring tak biasanya tenang.
“Raffi jangan dimarahi ya Pa, kasihan dia”, Mamanya ikut nimbrung, berusaha agar Raffi tidak kena amuk, “Dia sudah berusaha kok”, Mamanya menambahkan.
“Mungkin tak cukup berusaha”, Ayahnya berkata tajam, “Kamu tahu kan Ayah berharap kalau kamu itu bisa jadi dokter kayak Ayah. Kamu juga sudah setuju kalau kamu ambil kedokteran. Ayah punya harapan besar agar kamu yang katanya pintar ini bisa mengambil kedokteran. Ini sudah tradisi di keluarga kita, Kakek kamu juga dokter, Ayah juga dokter”, Ayahnya berhenti mengambil nafas secara berat, “Tetapi sepertinya kamu mengecewakan Ayah lagi”,
Raffi hanya diam. Matanya tak lepas dari makanannya yang tinggal setengah tak tersentuh. Hatinya yang hampir sembuh sakit lagi mendengar perkataan Ayahnya.
“Ayah sudah memaafkan kamu yang hanya bisa meraih peringkat tiga nilai tertinggi UNAS kemarin, kamu harusnya bisa membuat Ayah bangga di SBMPTN ini. Kamu kan sudah Ayah daftarkan les untuk SBMPTN, kamu nggak serius ya?”, sejenak Ayah Raffi berhenti, “Jawab Raffi”, Ayahnya sekarang memandang Raffi meminta penjelasan.
Entah kenapa kata-kata ayahnya yang diutarakan secara pelan-pelan malah membuat Raffi semakin takut.
“Raffi serius kok Yah”, Sejenak Raffi memandang ibunya meminta dukungan kemudian kembali memandang Ayahnya, “Setiap  try out Raffi lolos, tapi nggak tahu kenapa waktu SBMPTN kemarin nggak lolos. Banyak juga kok teman Raffi yang nggak lolos ujian masuk tahun ini”, Raffi berhenti sebentar terus melanjutkan dengan pelan sambil menunduk lagi, “Mungkin sudah takdirnya”.
“Ayah nggak mau tahu alasannya. Kamu harus bisa masuk kedokteran, atau kamu ingin masuk jurusan lain?”
“Nggak Yah, Raffi tetap ingin masuk fakultas kedokteran”, Raffi kembali memandang Ayahnya. Raffi sudah jatuh cinta dengan kedokteran. Jangan sampai Ayahnya berfikir bahwa dia sudah pindah minat.
“Oh begitu”, Ayahnya hanya menanggapi datar. Kemudian Ayah Raffi berpaling untuk berbicara dengan istrinya dan anaknya yang tidak didengar oleh Raffi. Dalam otak Raffi hanya terngiang perkataan Ayahnya tadi.
Raffi memutuskan untuk melanjutkan makanannya dengan cepat dan segera kembali ke kamar. Ketika dia melangkah pergi, dia mendengar Ayah dan Ibunya berdiskusi mengenai langkah yang harus diambil untuk membantu Raffi melanjutkan kuliah. Sejenak dia berusaha menguping dibalik tembok. Dia mendengar perkataan mengenai mandiri, uang perkuliahan, dan kesediaan Ayahnya untuk membiayai perkuliahan Raffi di fakultas kedokteran. Mendengar ini dia tersenyum dan bersyukur. Setidaknya dia masih bisa bersekolah meski lewat jalur mandiri, meski mahal tapi keluarganya masih mampu. Lagi-lagi, rasa sakit di dadanya berkurang. Kemudian dia pergi menuju kamar dengan perasaan lebih lega. Ternyata kemarahan Ayahnya tidak semengerikan yang dia bayangkan, meski tadi cukup dingin.
***
Pagi harinya dia bangun telat, ketika dia melihat jam kamarnya, dia melihat sekarang sudah pukul 8 pagi. Sambil duduk di kasur dan mengucek mata, pikirannya langsung berputar ke saat sahur bersama keluarganya diwarnai dengan pernyataan ayahnya yang mendukung Raffi bila dia mengambil jalur mandiri kedokteran, ayahnya juga berkata bahwa dia akan mendoakan Simak UI dan Utul UGM Raffi bisa sukses. Mengingat itu dia tersenyum dengan lega. Dia bangun dan berkaca, dia baru sadar kalau dia masih memakai baju koko yang dia pakai sholat shubuh tadi.
Dia mengecek HP nya, ada sms dari Naufal yang mengajak browsing bareng mengenai jalur-jalur mandiri universitas di rumahnya pukul 10 nanti. Raffi sekarang menyalakan music player di HP nya, dia hubungkan dengan speaker dan dia mulia beres-beres kamar. Ketika dia menuju kamar mandi kamarnya, dia mendengar lagu yang agak asing di HP nya. Sejenak dia berhenti. Oh, lagu baru yang dia dapat dua hari sebelum tanggal 8 kemarin dari radio.
Sambil mandi, dia ikut bernyanyi mengikuti lagu oleh Shannon Noll,
When you feel the dream is over,
Feel the world is on your shoulders,
and you've lost the strength to carry on.
Even though the walls may crumble,
And you find you always stumble through,
Remember never to surrender to the dark.
Cos if you turn another page,
You will see that's not the way, The story has to end.

If you need to find a way back,
Feel you're on the wrong track,
Give it time, Learn to fly,
Tomorrow is a new day,
You will find you're own way,
You'll be stronger with each day that you cry,
Then you'll learn to fly.

Sungguh aneh, batin Raffi. Kenapa tepat sebelum dia mengetahui pengumuman SBMPTN dia sudah memiliki obat untuk mengatasi galau hatinya itu. Learn to Fly, seperti yang dikatakan Naufal kemarin. Dia harus belajar untuk menerima kenyataan dengan hati lapang. Yang lalu adalah pelajaran yang berharga. Dengan ditolaknya dia lewat jalur SBMPTN ini akan mengajarkan Raffi untuk bersyukur dengan apa yang dia miliki dan berjuang dengan keras untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia mengingat perkataan ayahnya saat sahur tadi, dan dia tersenyum.

Looking at your situation,
There's so much that you can do,
Now's the time to make your stand.
This is just an observation,
In the end it's up to you,
The future's in your hands.*

*Learn to Fly, song by Shannon Noll

11 Juli 2013

Learn to Fly, by Shannon Noll

Learn to Fly



When you feel the dream is over,
Feel the world is on your shoulders,
and you've lost the strength to carry on.
Even though the walls may crumble,
And you find you always stumble through,
Remember never to surrender to the dark.
Cos if you turn another page,
You will see that's not the way, The story has to end.

[CHORUS:]
If you need to find a way back,
Feel you're on the wrong track,
Give it time, Learn to fly,
Tomorrow is a new day,
You will find you're own way,
You'll be stronger with each day that you cry,
Then you'll learn to fly.
In you're head so many questions, 
The truth is your possession,
The answer lies within your heart.
You will see the doors are open,
If you only dare to hope and you,
Will find the way to fight the fears that kept you down.
Cos if you turn another page,
You will see that's not the way,
The story has to end.

[CHORUS]

Looking at your situation,
There's so much that you can do,
Now's the time to make your stand.
This is just an observation,
In the end it's up to you, 
The future's in your hands.

[CHORUS]


http://www.azlyrics.com/lyrics/shannonnoll/learntofly.html

07 Juli 2013

Annabel Lee


Annabel Lee
BY EDGAR ALLAN POE


It was many and many a year ago,
   In a kingdom by the sea,
That a maiden there lived whom you may know
   By the name of Annabel Lee;
And this maiden she lived with no other thought
   Than to love and be loved by me.

I was a child and she was a child,
   In this kingdom by the sea,
But we loved with a love that was more than love—
   I and my Annabel Lee—
With a love that the wingèd seraphs of Heaven
   Coveted her and me.

And this was the reason that, long ago,
   In this kingdom by the sea,
A wind blew out of a cloud, chilling
   My beautiful Annabel Lee;
So that her highborn kinsmen came
   And bore her away from me,
To shut her up in a sepulchre
   In this kingdom by the sea.

The angels, not half so happy in Heaven,
   Went envying her and me—
Yes!—that was the reason (as all men know,
   In this kingdom by the sea)
That the wind came out of the cloud by night,
   Chilling and killing my Annabel Lee.

But our love it was stronger by far than the love
   Of those who were older than we—
   Of many far wiser than we—
And neither the angels in Heaven above
   Nor the demons down under the sea
Can ever dissever my soul from the soul
   Of the beautiful Annabel Lee;

For the moon never beams, without bringing me dreams
   Of the beautiful Annabel Lee;
And the stars never rise, but I feel the bright eyes
   Of the beautiful Annabel Lee;
And so, all the night-tide, I lie down by the side
   Of my darling—my darling—my life and my bride,
   In her sepulchre there by the sea—
   In her tomb by the sounding sea.


Reading this poem really make me sad. It's really so sweet and I don't know, I just want to cry because of this poem.

25 April 2013

Eleven Grader's Drama

This is not official poster for the Magazine's Love. I can not get it

This night I attended drama performance by eleven graders in the hall. Once I enter the room, I can smell the eagerness and spirit shown by audience and the performer. The lights off but I can see the happy face among the students, waiting the next move by the actress on the stage. I gasp and mesmerize by the surprising act on the stage. It was awesome!
This drama actually is an assignment for their ESL (English as a Second Language) program for final project. Everyday, 2 classes will perform their story on the stage using English language. I'm so glad I'm this school because we use English as a active language and it just like my second language here. So, everybody understand this language and we do not need translators like a Chinese drama held a month ago.
I always looking for the drama they'll perform. Because each drama always serve a good story and add it with good humor and enchanting music. The drama I wait the most is The Starship and Magazine's Love. Unfortunately I can not attended The Starship drama due to my additional class for university selection. However, luck still in my side so in this night I'm more than happy to saw the Magazine's Love drama.
The story of Magazine's Love is not so special but I like it. It made me grin to saw the artist and actress couple performing a journalist who became a spy to a popular singer boy in a high school. Then they fall in love in the first sight. However, the problem arise when Afif, the singer, know that Nabila, the journalist, is a spy for him. So the conflict begun. However, after many twists and turns, Nabila quit from her job and then run to Afif tell him that she truly love him and didn't mean to make infotainment news about Afif. It was her boss who to tell her to did it. At first, Afif didn't believe it. After second thought, Afif believe her. In the end, they do kissing.
I really love the ending. They used silhouette effect, so actually they do not kiss each other. The silhouette did it. Nice trick!
I'm really glad to see this beautiful performance. I hope I can see it again.

18 Desember 2011

Knock On The Night

This is my story for ESL (English as a Second Language) enrichment. I Know, this is "geje" worse story because i justa have a time to write it in one day. The most difficult part of course when the teacher ask us (me and my friends to insert a sentence I know now, that everyone needs to see somebody else’s limitations". Although i can make a story about disabled people who always teased by others. It will be more worth and have higher mark than about girl and rich woman. If you curious about my story, just check this out.


Knock On The Night

The lightning strikes in the snowy night when the sound of knocking the door disturbing the girl’s night sleep. “Who’s there?”, the girl’’s voice trembling of fear. She remembered her Mom’s advice, do not open the door to unknown people in the night. But she was curious the see the people.

So, She grabbed her coat as she walked to the window beside the door. Carefully, she peered the window. She is the rich women, she thought. At a second, she hestitated wheteher opening the door or not. But she decided to open it. “Maybe she need a help”, she muttered to convince herself.

“Oh dear, thank you, thank you so much to opened it”, the rich women happily enter the house. “You know, i already knocked 5 doors house to seek a help, but only you who opened it”, she talked when she sit on the chair.

“Tea, Mrs. Glady?” offer the girl.

“No, thank you, i just wan to borrow your home phone”, She sighed. “Mine is broken and the technicians will come this Sunday, i can’t wait for three days, this is very important”, She added.

“Of course you may Ma’m” She showed the location of the phone “Here you are”.

While looking at her, the girls thought. I know now, that everyone needs to see somebody else’s limitations. Because there is no one perfect in this world, and when we think they’re perfect, we will be selfish human.

08 April 2011

Jual Audiobook Harry Potter, Twilight, Narnia, Percy Jackson dan lain-lain!


Bosen baca buku? DENGERIN aja!

Karena, sekarang sudah ada audiobook. Apa itu Audiobook?
Audiobook berasala dari gabungan dua kata. Audio yang berarti suara dan book yang berarti buku. Berarti, audiobook merupakan sebuah buku yang dibuat versi audionya (bisa dalam bentuk mp3) dimana terdapat narator yang membacakan buku itu kemudian direkam.
Tak hanya itu, beberapa buku bahkan dibuat narasinya dengan backgroun suara yang bagus. Seperti dalam Narnia The Horse and His Boy.
Penggermar audibook sangat banyak loh. Apalagi dari negara- negara eropa dan amerika dimana mereka terlalu sibuk untuk membaca, akhirnya membaca saja. Cukup punya mp3 player, lebih bagus lagi Ipod, kamu udah bisa menikmati audiobook ini.
Manfaat dari audiobook ini banyak sekali.
1. Murah (apalagi kalau beli di aku)
2. Bisa melatih pronunciation kamu.
3. Membuat telingamu peka terhadap kata- kata bahasa inggris.
4. Tentu saja pada akhirnya, akan membuatmu mahir berbahasa inggris.

Nah, aku menjual audiobook yang murah banget! Daripada kamu beli di amazone yang mahal, mending beli di aku, he he he.

____________________________________________________
The Twilight Saga Audiobook
____________________________________________________

Keterangan:
-Terdiri dari 4 Novel Audio Book [Twilight,Eclipse,NewMoon, dan Breaking Down]
-Audio Book dalam format MP3
-Suara Jamin Jernih dan Jelas^^: 330kbps / 44,1KHz
-Narator[pengisi suara] : Ilyana Kadushin with Matt Walters (cewek dan cowok) / Inggris US
-Dilengkapi juga dengan ke 4 E-Book-nya
-Keseluruhan Twilight Audio Book terdiri dari 1 DVD
-Harga : IDR 55.000 [harga diluar ongkos kirim]

__________________________________________________
Harry Potter Audio Book
__________________________________________________

Keterangan:
-Terdiri dari 7 Novel Audio Book [Dari Harry Potter and the Sorcerers Stone sampai The Deathly Hallows]
-Audio Book dalam format .MP3
-Suara Jamin Jernih dan Jelas^^: 50kbps / 32KHz
-Narator[pengisi suara] : Stephen Fry (cowok)/ Inggris UK
-Dilengkapi juga dengan ke 7 E-Book-nya
-Keseluruhan Harry Potter Audio Book terdiri dari 1 DVD
-Harga : IDR 65.000 [harga diluar ongkos kirim]

______________________________________________
Percy Jackson Audiobook
______________________________________________

Keterangan:
- Terdiri dari 5 novel Percy Jackson
- Audiobook dalam format Mp3
- Suara dijamin jernih dan jelas
- Narator [Pengisi Suara]: Jesse Bernsetein (cowok)/ English US
-Dilengkapi juga dengan ke 5 E-Book-nya
-Keseluruhan Percy Jackson Audio Book terdiri dari 1 DVD
-Harga : IDR 50.000 [harga diluar ongkos kirim]

__________________________________________
The Chronicles Of Narnia Audio book
__________________________________________

Keterangan:
- Terdiri dari 7 novel Narnia
- Audiobook dalam format Mp3
- Suara dijamin jernih dan jelas
- Narator [Pengisi Suara]: Michael York (cowok)Lynn Redgrave (Cewek)/ English UK
-Dilengkapi juga dengan ke 7 E-Book-nya
-Keseluruhan The Chronicles Of Narnia Audio Book terdiri dari 1 DVD
-Harga : IDR 40.000 [harga diluar ongkos kirim]

=============================
Gimana? Tertarik?

Hub. Abdul : 085736838348
e-mail. ma.manaf@ymail.com
=============================

NOTE:
-DVD yang digunakan GT Pro, dll. [tergantung stock DVD yg ada] Maaf. Tapi kamu bisa pesen kok,
-Data di burn dengan write speed 4x [hal ini dilakukan untuk menghindari adanya data yang corrupt]
-Tidak disertakan dengan DVD-Cover[maaf]
-Pesanan di kirim menggunakan jasa kuris seperti TIKI/PCP/JNE
-Pembayaran via rek BTN [maaf, sementara baru BTN]
-Bila DVD yang dipesan rusak, maka anda dapat mengirim balik ke saya, dan tentu akan di ganti dengan baru.

13 Desember 2010

Aku, Dulu...


keyword: Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA

Yah, akhirnya aku bisa menyusup lagi kepada anak ini. Setelah dua hari hujan tak turun, akhirnya hujan datang. Sebenarnya, bukan waktuku untuk turun, tapi bukankah sudah aku ceritakan padamu, ini mendesak!
Hah... Aku akan menceritakan padamu masa lalu dan masa depanku. Airku, airmu. Agar kau tahu bahwa aku kini butuh kau. Dari dulu malah. Kami ada karena Kau ada.

***

Dulu, ketika manusia belum serakah dan egois, kami melimpah di bumi ini. Sangat biru jernih. Sekarang coba bayangkan kau memandang air yang ada di laut yang menggoda pantai di daerah yang masih asri. Seperti itulah, indah, biru, segar. Kau patut bersyukur, bahwa hal itu masih bisa kau nikmati sampai sekarang ini. Apalagi jika kau hidup di negara kepulauan yang indah, orang mneyebutnya Indonesia.
Pohon sahabtaku yang baik hati sellau menjagaku, begitupun kau. Kau tak pernah cemburu karena pohon disampingku. Kau dengan sopan meminta kepada pohon dan mengganti kepadanya. Kau dengan sadar memanfaatkan apa yang ada, termasuk aku sesuai kebutuhanmu. Sungguh, semuanya begitu sangat indah.
Ada yang perlu aku beritahukan padamu, tak ada yang namanya keabadian. Iya kan? Semua yang diciptkan-Nya akan kembali pada-Nya. Begitupun denganku.
Ah, anak ini mulai melawan.
Dulu, ketika kita masih bersahabat, ingatkah kau? Wahai manusia, kau sangat ramah padaku, begitupun aku. Kita merupakan sahabat yang tak terpisahkan, ketika aku kotor, kamu membersihkanku dari dedaunan yang jatuh dari pohon temanku. Kau juga dengan senang hati berbagi tepat dengan sahabat kecilku, ikan ketika kau berenang. Asyik bercengkrama denganku.
Kau dulu sangat mencintaiku. Bahkan beberapa dari kalian memujaku. Tapi tahukah kau? Bukan pujaan yang aku butuhkan, tetapi kasih sayang terhadap air ini. Bisa jadi kami ini memang sudah tua, setua ibu bumi. Tapi manfaat kami akan bertahan hingga bumi akhir nanti.
Sungguh, sekarang aku tak habis pikir. Kau tahu apa sebabnya? Aku yakin kau tahu kok, tanyalah pada hatimu yang terdalam. Bagaimana persaanmu padaku?
Ah, anak ini sudah mulai sadar. Aku harus segera kembali, aku hanya ingin meninggalkan kesan pada anak ini. Tolong aku!

12 Desember 2010

Aku, Air




Bersama hujan yag turun ini, aku mencoba merasuk pada anak ini. Yah, dia hanya penulisku, dan dia sedang flu. Apakah aku terdengar kejam menyuruh anak muda yang sedang flu menulis untukku? Kurasa tidak.
Anak ini sedang menghadap laptop yang aku tahu bukan laptopnya. Dia kelelahan dan juga sedang sakit. Lagu Katon Bagasakara yang berjudul Jika Bumi Bisa Bicara sedang berbicara di sampingnya.
Ada hal penting yang harus aku ceritakan pada manusia. Dan anak ini adalah jalanku. Sebenarnya da banyak, tapi entah mengapa aku memilih anak ini.
Aku ingin bercerita, perasaanku sebagai air. Aku ingin menasehati manusia, yang merupakan sahabat kami sebenarnya, ada sesuatu yang mendesak yanga harus diceritakan. Ada banyak hal yang rasanya tak bisa dibendung. Aku harus segera mengusai anak ini. Dengan tangannya aku akan bercerita.


Aku Air. Water. Terserah kau mau memanggilku apa. Terlahir dari Oksigen yang kau hirup dan Hidrogen yang agresif. Dari mereka aku lahir. Meski aku sangat tahu bahwa tanpa campur tangan Tuhan, aku takkan ada.
Aku Air, sumber kehidupan, ya. Semua orang tahu itu. Tapi entah mengapa itu hanya seperti slogan yang kadaluarsa melawan ego manusia.


Hujan mulai tersendat. Dan aku tahu waktuku tak banyak, maka aku hanya bisa menyampaikan sedikit saja pesan.
Aku Ada, Maka KAU ada, aku tak ada, maka kau tak ada.

28 November 2010

Nick's Journal: Masuk Hoghwarts

Hai, namaku Nicholson Granger. Kau bisa memanggiku Nick. Sebenarnya, nama lengakpku adalah Nicholson Albert Enrico Fermi Jean Granger. Aku masih keturunan keluarga Granger. Nenekku adalah Ibu dari Hermione Granger. Dan aku, yah kau tahu sendiri bahwa memiliki nenek seorang muggle akan dianggap buruk oleh sebagian penyihir.
Ayahku merupakan adik dari Hermione Granger, yang bernama Nielsen Jean Granger yang merupakan ilmuwan muggle. Sedangkan Ibuku sendiri bernama Fanella Alberta, yang merupakan penyihir berdarah murni. Ibuku sampai dijauhi oleh beberapa saudaranya karena menikah dnegan muggle. Bahan dicoret dari silsilah keluarga. Tapi nenek dan kakekku dari pihak ibu tidak pernah menganggap Ibuku infeksi keluarga yang harus dibuang.
Aku Half-Blood. Tentu, kau sudah membaca silsilahku diatas kan?
Setelah menunggu sangat lama, akhirnya saat aku berumur 11 tahun aku bisa masuk Hoghwarts School of Witchraft and Wizardy. Cool! Mom dan Dad senang sekali tahu, bahwa aku diterima di Hoghwarts. Bahkan mom sendiri yang mengantarkanku ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan sihirku.
Sayang, Ollivander sudah sangat tua sehingga dia tak lagi melayani pembeli. Tetapi, dia tetap membuat tongkat. Yang aku tahu, dia diganti oleh seseorang laki- laki paruh baya yang berambut putih panjangg seperti kapas. Bajunga berwarna hitam kusam dan berkuku panjang.
Dia memilihkanku tongkatku. Tak ada yang cocok, sehingga aku disuruh memilih sendiri. Akhirnya aku mendapat tongkat sihir. Kayu Oak, 13 inchi berinti bulu phoenix. Aku sangat beruntung mendapat inti tongkat yang sama dengan Harry Potter yang terkenal.
Akhirnya, 11 September tiba. Pukul 7 pagi Mom dan Dad sudah mengantarkanku ke Stasiun King Cross. Aku bertemu Bibi Hermione dan Paman Weasly yang sedang mengantarkan anaknya, Rose.
"Oh, Hermione! akhirnya aku bertemu kau, aku sangat sibuk akhir- akhir ini" Mom bicara dengan Bibi Hermione dan memberinya pelukan kilat. " Tak apa- apa, Ella, aku tahu kau sangat sibuk. Bekerja di Kementerian Sihir pasti membuatmu pusing" Sahut Bibi Hermione pada Mom. Mom hanya mengangguk sedikit "Yah, tentu" sambil mendengus.
Aku hanya menonton Mom dan Bibi Hermione berbincang- bincang. Dad juga begitu, tak menjelaskan berbagai aspek pembaharuan yang terjadi di Stasiuk King's Cross, karena Paman Ron sangat bersemangat bertanya.
"Mom, Dad, kurasa keretanya mau berangkat, bisa aku berangkat sekarang?" Aku memandang Mom yanga asyik berbicara. "Ya sayang, tentu" Dia menciumku dan memberiku pelukan, kemudian Dad juga, "Jangan nakal, jangan lupa, gunakan otakmu sebelum bertindak, Jagoan!" kata Dad sambil mengusap kepalaku. Aku hanya sepusar Dad, betapa kecilnay diriku!
Aku menyeret koperku. Ugh... berat dan segera masuk ke dalam Hogwarts Express. "Mom, Dad, bye... bye.." aku melambai dari kompartemenku. Mereka melambaikan tangan. Mom melambaikan saputangannya dan berteriak, "hati- hati!" yang aku jwab dengan anggukan, "Aku akan megirim surat 2 minggu sekali!" Suara peluit dan asap putih tebal menyembur. Angin membawa asap itu kebelakang dan Hogwarts Express melaju dengan suara bisingnya menuju Hogwarts.

Nick's Journal

Hai, namaku Nicholson Granger. Kau bisa memanggiku Nick. Aku Half-Blood

21 November 2010

Harry Potter Part I. Awesome!

Sebenarnya, susah banget ngungkapin persaanu saat liat Harry Potter part I. Bahagia, meski uangku akan terkuras karenanya. Yah, sebagai anak asrama yang cuman dijatah 100 000 perbulan oleh orang tua pasti akan menimbang- nimbang kalau mau keluar, aplagi nonton film yang butuh budget 25 000. Ok, bagi sebagian kalian pasti menganggap uang itu sedikit. Yah, we are different. Tapi bagi aku, itu termasuk uang yang berharga.
Meskipun aku bilang betapa berharganya uang itu, tetap saja aku ambil buat nonton Harry Potter, mana tahan... dan yang lebih hebatnya lagi, waktu aku mampir ke Gramedia, aku tak bisa nahan godaan untuk membeli buku belajar bahasa jepang, meski aku tak terlalu bisa. Tapi karena hari rebu depan aku ulangan, jadi... must buy it!
Perjuanganku buat nonton Harry Potter nggak semudah tinggal beli tiket doang. Aku harus benar- benar mengkalkulasi waktu agar aku bisa datang tepat waktu. You know, this Saturday, i got a badminton L2L progam, so i must joined it. If i did’t join this program, aku bakaln dikeluarain.
Badminton dimulai pukul 10.30 dan selesai pukul 13.30. Tapi dengan mohon- mohon akhirnya aku bisa keluar lebih awal, sekitar pukul 11. 26. Temenku tak henti- hentinya sms aku. Cepet!
Nah, aku berlari tuh, kira-kira satu kilometeran lah. Melelahkan.. sampai ke dorm langsung wudhu terus sholat. Aku aku nggak mandi, padahal, tadi aku keringetan hebat. Yah, pokonya semauanya ahrus dilakuin dengan cepat dan tangkas. Akhirnya, aku bisa keluar dari asrama sekitar pukul 12.00 dengan alasan pergi ke pasar besar. Padahal, aku pergi ke Matos bta nonton Harry Potter. Bagi kalian yang baca ini dan tahu aku, mohon jangan dbahas ya! Maafkan kesalahanku ini.
Yah, tepat sampai Matos kira- kira 12.09. Dan aku ngggak telat, emang sih, dormu dekat dengan Matos.
Aku sama temen-temenku langsung ke studio 2 dan atas kerja keras temenku yang mau ngantri, kami dapat tempat duduk strategis, bagian nomor 2 dari atas. Yah, Harry Potter, i’m coming.
Filmnya bagus dibandingin sama yang ke-6, tapi tetep aja bagiku itu kurang waw, gitu. Tapi bagi kalian yang nggak sempat baca novelnya, aku yakin pasti terkesan dengan film ini. Tapi emang nih film bagus banget!
Film ini dibuka oleh keputusan trio Harry, Hermione, dan Ron, untuk tidak kembali ke Hoghwarts. Yang perlu dicatat adalah adegan Hermione yang menghapus ingatan orangtuanya dengan sihir (Obliviate!). Meski adegan ini tak muncul di novel, tapi menurutku iadegan ni menambah betapa kelam dan putus asanya film ini. Meski ditengah- tengah ada banyak juga adega yang bisa bikin kamu ketawa.
Sayangnya, adegan yang aku nantikan, yakni kisah Kreacher, tak muncul di film. Padahal menurutku ini merupakan adegan transisi yang juga penting. Tapi yah, nggak terlalu keliahaatn kalau mengubah cerita kok.
Yang paling aku sukai tetep aja Hermione Granger dan juga Bellatrix Lestrange. Akting mereka berdua sangat keren, habis- habisan, apalagi waktu Hermione disiksa oleh Bellatrix, dan aku tak sabar melihat Hermione, Ginny, dan Luna menghajar Bellatrix di Part 2, kalau ada. Cause di novel ada dan aku suka adegan itu. Tapi, yah.... cuman bsa berharap doang kan?
Ini ada beberapa scene yang ter-... menurutku.

Yang paling asyik
Harry, Ron, dan Hermione melawan Greyback dan antek- anteknya dihutan.

Yang paling menyedihkan
Meninggalnya Dobby, sang peri rumah yang merdeka. Setelah menyelamatkan Harry dan kawan- kawan dari ruang bawah tanah keluarga Malfoy, sungguh menyentuh. Temanku sampai nangis pada adegan ini.

Yang paling mengerikan
Hermione disiksa oleh Bellatrix, suaranya sungguh buat aku merinding. Meski dibuku tak ada adegan Bellatrix menorehkan luka yang bertuliskan Mudblood (Darah-Lumpur) di lengan Hermione, tapi itu malah membuat adegannya mengerikan dan mengenaskan.

Yang paling Geje (Gak jelas maksudnya)
Harry yang berusaha menghibur Hermione dengan mengajaknya berdansa. Sumpah, Geje banget, dan ini nggak ada di buku

Sebenarnya, ada banyak banget adegan yang seru di sini. Tetapi ada juga kekurangnnya. Jika kamu sudah pernah abaca buku Deathly Hallows, pasti kamu bakalan ngerti. Tapi bagi yang belum, sabar ya...
Yang pasti, Harry Potter Part I ini masih icip- icip. Belum hidangan utama, jadi, tunggu hingga bulan Juli 2011 ya...

02 Oktober 2010

Dia Remuk Paruku

Dingin
membeku paru dalam dingin
Angin
merayu angin dalam kering

Aku bersarung meminta
Dalam bayangan beringin sekarat

Sore itu
Daun membisik protes
Yang padanya, dia dibuat
Aku lelah, tercekik nafasmu, terbelenggu akar lenganmu
Ceritanya padaku
Darahku memompa dan hampir saja meloncat ke cerita

Dingin
menerbang tulang dalam angin
Angin
merayu angin dalam kering
Kering
Daunku gugur berseling

Aku akan membelinya...
Sedang paruku meronta
Beri aku gas kehidupan
Dan akan kusemai kau jadi ribuan

Tetapi Beringin bergeming
Memeluk paksaku dengan akarnya
Dia memberiku
Benar,
aku beritahu
Bukan gas kehidupan
Tapi pelukan kematian

02 Juni 2010

Israel, apakah KAU masih “manusia?”

Kami adalah manusia yang mungkin
Beribu- ribu kilo jauhnya darimu
Atau bahkan sangat dekat seperti leher dan kepala

Kami yang masih anak- anak ini
Memang tak cukup mengerti ada apa denganmu
Tapi kami tidak buta, tuli, ataupun bisu
Kami masih bisa melihat, mendengar, berbicara, dan merasa
Bahwa perbuatanmu menyalahi aturan
Aturan bagi manusia dan bagi Tuhan sendiri

Kami berbicara bukan dari satu bangsa
Kami berbicara tidak untuk satu agama
Kami berbicara sebagai orang Indonesia
Orang amerika
Orang mesir
Orang arab
Orang palestina
Atau bahkan jika itu mungkin,
Kami berbicara mewakilimu

Kami juga tidak berbicara sebagai orang islam, kristen,
budha, hindu atau yahudi
Tapi kami berbicara karena kami
Masih menganggap Tuhan adalah Tuhan,
atau karena kami berbicara ini karena DIRIMU

Tak bisakah engkau menghentikan perang?
Tak bisakah engkau berhenti menumpahkan darah?
Tak bisakah kau sudi berbagi?

Bukankah kau sudah berjanji kepada Tuhanmu,
Bahwa kamu tidak akan menumpahkan darah
Tak akan mengusir saudaramu dari kampung halamannya?
Kau sudah berikrar untuk itu!
Tapi apa kenyataanya?

Kami tak tahu apa sebenarnya tujuanmu
Yang kami tahu, perbuatanmu itu keterlaluan
Bahkan jauh dari “kemanusiaan”

Seandainya dirimu diperlakukan seperti itu
kami yakin kau akan marah, MARAH
Sedih, tak tahu harus berbuat apa
Kami tahu, nenek moyangmu telah mengalaminya
ribuan tahun lalu
Dan sekarang, tak bisakah kau mengambil pelajaran darinya?
Lupakan itu...

Kami hanya ingin bertanya,
Apakah kamu masih manusia?
Jika ya, kami mohon hentikan
Hentikan!
Hentikan sekarang juga!

01 Januari 2010

Musim Perubahan


Selalu ada musim untuk segalanya dan masa untuk setiap tujuan
Masa untuk melahirkan dan masa untuk meninggal
Masa untuk menanam dan masa untuk memetik hasil yang kita tanam
Masa untuk membunuh dan masa untuk menyembuhkan
Masa untukmenghancurkan dan masa untuk membangun
Masa untuk menangis dan masa untuk tertawa
Masa untuk berkabung dan masa untuk menari
Masa untuk membuang batu dan masa untuk mengumpulkan bebatuan
Masa untuk memeluk dan masa untuk berhenti sejenak dari pelukan
Masa untuk menemukan dan masa untuk kehilangan
Masa untuk mempertahankan dan masa untuk membuang
Masa untuk mengoyak-ngoyak dan masa untuk menjahit
Masa untuk berdiam diri dan masa untuk berbicara
Masa untuk mencintai dan masa untuk membenci
Masa untuk berperang dan masa untuk berdamai

23 Desember 2009

The Tale of the Three Brothers

The Tale of the Three Brothers


There were once three brothers who were travelling along a lonely, winding road at twilight. In time, the brothers reached a river too deep to wade through and too dangerous to swim across. However, these brothers were learned in the magical arts, and so they simply waved their wands and made a bridge appear across the treacherous water. They were halfway across it when they found their path blocked by a hooded figure.

And Death spoke to them. He was angry that he had been cheated out of three new victims, for travellers usually drowned in the river. But Death was cunning. He pretended to congratulate the three brothers upon their magic, and said that each had earned a prize for having been clever enough to evade him.
So the oldest brother, who was a combative man, asked for a wand more powerful than any in existence: a wand that must always win duels for its owner, a wand worthy of a wizard who had conquered Death! So Death crossed to an elder tree on the banks of the river, fashioned a wand from a branch that hung there, and gave it to the oldest brother.
Then the second brother, who was an arrogant man, decided that he wanted to humiliate Death still further, and asked for the power to recall others from Death. So Death picked up a stone from the riverbank and gave it to the second brother, and told him that the stone would have the power to bring back the dead.
And then Death asked the third and youngest brother what he would like. The youngest brother was the humblest and also the wisest of the brothers, and he did not trust Death. So he asked for something that would enable him to go forth from that place without being followed by Death. And Death, most unwillingly, handed over his own Cloak of Invisibility.
Then Death stood aside and allowed the three brothers to continue on their way and they did so, talking with wonder of the adventure they had had, and admiring Death’s gifts.
In due course the brothers separated, each for his own destination.
The first brother travelled on for a week or more, and reaching a distant village, he sought out a fellow wizard with whom he had a quarrel. Naturally, with the Elder Wand as his weapon, he could not fail to win the duel that followed. Leaving his enemy dead upon the floor, the oldest brother proceeded to an inn, where he boasted loudly of the powerful wand he had snatched from Death himself, and of how it made him invincible.
That very night, another wizard crept upon the oldest brother as he lay, wine-sodden, upon his bed. The thief took the wand and, for good measure, slit the oldest brother’s throat.
And so Death took the first brother for his own.
Meanwhile, the second brother journeyed to his own home, where he lived alone. Here he took out the stone that had the power to recall the dead, and turned it thrice in his hand. To his amazement and his delight, the figure of the girl he had once hoped to marry before her untimely death appeared at once before him.
Yet she was silent and cold, separated from him as though by a veil. Though she had returned to the mortal world, she did not truly belong there and suffered. Finally, the second brother, driven mad with hopeless longing, killed himself so as truly to join her.
And so Death took the second brother for his own. But though Death searched for the third brother for many years, he was never able to find him. It was only when he had attained a great age that the youngest brother finally took off the Cloak of Invisibility and gave it to his son. And then he greeted Death as an old friend, and went with him gladly, and, equals, they departed this life.

19 Desember 2009

Dibalik-Mu

Aku selalu percaya pada-Mu
Dari dulu
Ketika ku terpuruk dalam kekalahan, kegagalan,
Aku selalu yakin bahwa Engkau
Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang
Memiliki rencana yang lebih besar
Rencana yang akan membuatku puas,
Bahagia akan hasil yang kucapai,
Tuhan,
Kapankah itu?
Aku berusaha
Berusaha
Terus......
Hingga mata perih membuka
Dan lelah tak tertahan
Aku percaya aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan
Tapi kehendak-Mu lain
Aku kalah,
Gagal,
Lagi
Aku ingin menangis
Seseorang disana yang berbohong pada diri, hati dan Engkau
Termulyakan
Tercapai impian
Dan aku
Tersudut
Terpuruk
Hingga kapan?
Kapankah takdir kemenanganku ada?
Aku hanya percaya...
Bukankah Kau yang menyuruhku percaya?
Bahwa setiap kepercayaan akan membawa keberhasilan?
Bahwa jika aku percaya maka keajaiban akan datang,
Aku berusaha...
Berusaha...
Mencoba bersikap kstaria
Tetapi...
Aku terpuruk
Apakah aku harus melakuakn seperti yang mereka lakuakan agar aku dapat mencapai kemulyaan?
Menggapai impian?
Aku selalu percaya
Percaya
Aku percaya
Dibalik ini,
dibalik kegagalan ini
Dibalik kekalah ini
Kau akan mengangkatku
Lebih daripada yang aku inginkan
Lebih daripada mereka
Dan aku bahagia
Puas
Bersyukur padamu
Aku percaya
Bahwa Kau....
Memiliki apa yang aku inginkan
Yang akan Kau kucurkan ketika aku lulus dalam ujian

Aku percaya

................Aku percaya

..........Aku percaya .................. Aku percaya

....Aku percaya .............Aku percaya

Aku percaya..... Aku percaya

..................Aku percaya
........................Aku percaya...... Aku percaya

Aku percaya..... Aku percaya....... Aku percaya

...........Aku percaya............. Aku percaya

......Aku percaya


Aku percaya


Aku percaya Kau-lah dibalik semua
Dan Kau akan membalik semua
Untukku
Dan berik aku kesabaran tak terbatas layaknya kesatria tangguh
Kesabaran dan ketabahan
Yang membawaku menuju kemenangan

22 November 2009

Nyanyian topi Seleksi

In times of old, when I was new,
And Hogwarts barely started,
The founders of our noble school
Thought never to be parted.

United by a common goal,
They had the selfsame yearning
To make the world's best magic school
And pass along their learning.

"Together we will build and teach"
The four good friends decided.
And never did they dream that they
Might some day be divided.

For were there such friends anywhere
As Slytherin and Gryffindor?
Unless it was the second pair
Of Hufflepuff and Ravenclaw,

So how could it have gone so wrong?
How could such friendships fail?
Why, I was there, so I can tell
The whole sad, sorry tale.

Said Slytherin, "We'll teach just those
Whose ancestry's purest."
Said Ravenclaw, "We'll teach those whose
Intelligence is surest."

Said Gryffindor, "We'll teach all those
With brave deeds to their name."
Said Hufflepuff, "I'll teach the lot
And treat them just the same."

These differences caused little strife
When first they came to light.
For each of the four founders had
A house in which they might

Take only those they wanted, so,
For instance, Slytherin
Took only pure-blood wizards
Of great cunning just like him.

And only those of sharpest mind
Were taught by Ravenclaw
While the bravest and the boldest
Went to daring Gryffindor.

Good Hufflepuff, she took the rest
and taught them all she knew,
Thus, the houses and their founders
Maintained friendships firm and true.

So Hogwarts worked in harmony
for several happy years,
but then discord crept among us
feeding on our faults and fears.

The Houses that, like pillars four
had once held up our school
now turned upon each other and
divided, sought to rule.

And for a while it seemed the school
must meet an early end.
what with dueling and with fighting
and the clash of friend on friend.

And at last there came a morning
when old Slytherin departed
and though the fighting then died out
he left us quite downhearted.

And never since the founders four
were whittled down to three
have the Houses been united
as they once were meant to be.

And now the Sorting Hat is here
and you all know the score:
I sort you into Houses
because that is what I'm for.

But this year I'll go further,
listen closely to my song:
though condemned I am to split you
still I worry that it's wrong,

Though I must fulfill my duty
and must quarter every year
still I wonder whether sorting
may not bring the end I fear.

Oh, know the perils, read the signs,
the warning history shows,
for our Hogwarts is in danger
from external, deadly foes

And we must unite inside her
or we'll crumble from within
I have told you, I have warned you...
let the Sorting now begin.

05 September 2009

RINDU SEORANG SAHABAT

Saat aku melihat wajahmu
Saat aku melihat senyumanmu
Saat aku melihat pola tingkahmu
itu yang membuatku merasa bahagia slalu

Andai kata........?
kita tak ditakdirkan untuk bersama
Aku rela........!
Asal bisa melihatmu

Dan bila kamu lebih memilih dia
Akupun juga tak apa-apa
Bila memang itu yang membuatmu bahagia
Mungkin ?
Aku adalah sahabat yang tiada artinya
yang slalu menorehkan luka dihatimu

Aku ingin kau seperti dulu
Kembali bersamaku
Mengarungi hari bersama
Di saat suka maupun duka

Kembalilah sababat ku
Aku Rindu Kebersamaan kita dulu



Dari :Sahabatmu (Nyun- SMP 3 Plosoklaten)

sori ya.... puisinya aku publikasiin nggak ijin2 kamu dulu.....

28 Juli 2009

FLU BURUNG

Banyak nyawa terbang bersamamu

Di bawah tanah bersemayam tubuh beku


Ibu menangis kehilangan anaknya

Warga menangis kehilangan peliharaannya


Unggas-unggas kau rasuki

Orang tak bersalah pun kau rasuki

Kau buat semua orang gelisah, resah, tanpa arah


Mereka berusaha mengenyahkanmu

Dengan berbekal ilmu

Berjuang tak menentu


Lepaskan belenggumu

Biarkan kami hidup

Dalam kedamaian, keamanan, dan ketentraman







jENG2