Kunci dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat adalah tawadhu’
kepada orang yang ahli ilmu. Setidaknya itu adalah hal yang aku dapat dari
belajar kitab ta’lim al muta’alim. Kitab yang menerangkan banyak hal mengenai
adab mencari ilmu. Kitab ini sangat menarik dan bermanfaat, sayangnya kitab ini
hanya diajarkan di pondok pesantren, sehingga pelajar yang tidak pernah belajar
kitab ini tidak akan tahu hal apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang
mencari ilmu.
Ketika belajar kitab ini, pikiran saya kembali ke masa masa
MTs dan MI saya, dimana adab untuk
mencari ilmu sangat diperhatikan. Hal itu begitu berbeda ketika saya di SMA.
Rasanya ada hal yang berbeda bagaimana teman-teman saya memperlakukan ilmu dan
lain sebagianya. Mungkin ini juga da kaitannya dengan kemunduran prestasi saya
dalam hal ilmu.
Waktu di MI dan MTs, entah kenapa rasanya saya itu cukup
bisa dan mampu menghadapi soal-soal, ujian, dan berbagai macam tes. Setidaknya
nilai saya itu masih bagus. Namun ketika di SMA, rasanya kalau nggak belajar
itu kok susah. Bahkan ketika sudah belajar masih saja mendpata nilai 6.
Memalukan memang, tapi dari situlah saya belajar, ada apa dengan diri saya.
Saya pikir mungkin saya dulu kurang belajar. Maka saya
belajar, meski jika dibandingkan teman saya belajar saya sedang-sedang saja.
Namun nilai saya tetap biasa saja. Average, nothing special. Jika barang
itu kualitas saya tengah-tengah. Rasanya susah sekali mendapatkan nilai 90
keatas. Apalagi nilai perfect. Namun ketika saya pikir-pikir lagi bukan
hanya itu masalahnya. Masalah yang paling pokok yang saya kurangnya tawadhu’
dalam menuntut ilmu.
Tawadhu’ itu maksudnya menghormati memulyakan ilmu. Dalam
poin ini, rasanya saya kurang sekali. Dulu waktu MI membawa buku itu harus
diatas pusar, tidak ditaruh dibawah. Tidak menduduki meja, tidak duduk di meja
guru. namun ketika SMA, saya biasa melakukan hal-hal yang dulu tidak biasa saya
lakukan. Nah, di SMA ini lah menurut saya moral saya dalam keilmuwan menurun.
Hal itu berakibat pada banyak hal. Mungkin usaha saya yang
tidak berhasil itu gara-gara saya kurang memulyakan ilmu. Ujian SAT saya gagal
memenuhi target, skor TOEFL saya juga urang dari target, ujian nasional saya
juga gagal memenuhi target, ujian SBMPTN juga gagal. Kadang-kadang hal itu
memnacing frustasi, tetapi ketika dipikir lagi, ternyata ini memang kesalahan
saya. Padahal saya sudah bekerja dengan keras, semampun saya, namun ternyata
tidak berhasil.
Bagi orang-orang yang berotak biasa seperti saya, tawadhu’
itu memegang pernanan kunci dalam menuntut ilmu. Istilahnya ini adalah good
luck charm atau felis felicis kalau di Harry Potter, serial favorit saya.
Karena, tanpa memulyakan ilmu, ilmu yang kita pelajari itu mudah terbang
menghilang. Kita mudah lupa, dan tentunya ilmunya jadi tidak bermanfaat.
Di SMA saya fenomena ini bisa ditemui dengan mudah jika kita
mau membuka mata dan telinga kita. Ada anak yang biasa saja, tetapi dia sopan
kepada guru, tidak neko-neko, menghormati dan memuliaakan ilmu, dan dia sukses.
Sedangkan ada juga yang pintar, tapi dia kurang memuliakan ilmu dan sekarang
dia bingung mencari kuliah.
Saya berharap, ketika saya kuliah nanti, saya bisa lebih
tawadhu’ dengan ilmu. Saya kembali ke jalan biasa saya dibesarkan oleh orang
tua saya yakni cinta dan memuliakan ilmu. Semoga saya bisa menjalaninya, agar ilmu
yang saya peroleh bisa bermnafaat baik di dunia maupun di akhirat, agar nama
saya yang diambil dari kata Manaafi’u yang artinya manfaat bisa benar-benar
terwujud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan beri komentar kamu mengenai apa yang aku tulis di atas. Tapi tolong jaga kesopanan ya,